Cakrawala News – 18 September 2026 | Laba Sinergi Inti (INET) meroket 340%, analis soroti valuasi saham yang sudah premium [titlebase] setelah emiten telekomunikasi PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk mencatatkan lonjakan kinerja pada semester I 2026. Perseroan membukukan laba bersih Rp33,67 miliar, melesat 340,01% secara tahunan dibandingkan Rp7,65 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Lonjakan tersebut tidak lepas dari konsolidasi sejumlah perusahaan hasil akuisisi yang mulai masuk ke dalam laporan keuangan perseroan.
Pendapatan INET pada paruh pertama 2026 mencapai Rp926,45 miliar, melonjak 1.958,68% dari Rp45 miliar pada 1H25. Kenaikan ini terutama ditopang kontribusi PT Personel Alih Daya (PADA) yang mulai dikonsolidasikan sejak 31 Januari 2026 dan menyumbang Rp782,87 miliar, atau sekitar 84,5% dari total pendapatan perseroan. Laba bruto juga ikut menguat 627,53% secara tahunan menjadi Rp122,11 miliar.
Ekspansi ke Bisnis Kabel Laut
Di tengah pertumbuhan kinerja tersebut, INET memperkuat cengkeramannya di bisnis kabel laut atau submarine cable. Perseroan mencaplok 60% saham kontraktor spesialis kabel laut PT Sarana Global Indonesia (SGI) dengan nilai transaksi Rp280,4 miliar. Direktur Utama INET, Muhammad Arif, menyatakan bahwa setelah aksi akuisisi tersebut, SGI resmi menjadi entitas anak perseroan.
“Pengambilan bagian atas saham baru yang mengakibatkan perseroan memiliki 60,00% saham SGI dan SGI menjadi entitas anak perseroan,” tulis Arif dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip pada Kamis (17/9).
SGI merupakan kontraktor dan penyedia jasa rekayasa, pengadaan, serta konstruksi atau engineering, procurement and construction (EPC) yang memiliki spesialisasi pada proyek kabel laut. Perusahaan itu juga memiliki sejumlah infrastruktur pendukung, antara lain kapal kabel khusus Pacific Guardian, tongkang penggelar kabel Nostag 10, serta fasilitas gudang kabel di Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Dengan masuknya SGI sebagai entitas anak, INET membangun kapabilitas infrastruktur kabel laut yang terintegrasi, mulai dari perencanaan, konstruksi, pengoperasian hingga pemeliharaan. Berdasarkan anggaran dasar perusahaan, kegiatan usaha SGI mencakup konstruksi sentral telekomunikasi, termasuk jaringan transmisi dan distribusi kabel telekomunikasi di atas permukaan tanah, bawah tanah, hingga di dalam air.
SGI juga menjalankan aktivitas telekomunikasi dengan kabel, termasuk melalui sistem komunikasi kabel laut. Selain itu, kegiatan usahanya meliputi pemasangan jaringan listrik, konstruksi bangunan sipil minyak dan gas bumi, serta aktivitas jasa akses internet. Saat ini, kegiatan usaha SGI difokuskan pada EPC dan pemeliharaan sistem kabel bawah laut untuk serat optik dan kabel listrik.
Detail Transaksi Akuisisi
Dalam aksi korporasi tersebut, SGI menerbitkan 180.000 saham baru dengan nilai nominal Rp100.000 per saham. Seluruh saham baru itu diambil bagian dan disetor oleh INET. Dengan demikian, nilai nominal seluruh saham baru mencapai Rp18 miliar, sedangkan nilai transaksinya sebesar Rp280,4 miliar. Selisih antara nilai transaksi dan nilai nominal saham tersebut dicatat sebagai agio saham.
Langkah akuisisi ini mempertegas arah INET untuk memperluas rantai bisnis di sektor infrastruktur telekomunikasi, khususnya kabel laut yang menjadi tulang punggung konektivitas data antarwilayah dan antarnegara. Bisnis ini dinilai strategis seiring meningkatnya kebutuhan kapasitas transmisi data di dalam negeri.
Valuasi dan Sorotan Analis
Meski kinerja keuangan melesat, sejumlah analis menyoroti valuasi saham INET yang dinilai sudah premium. Lonjakan laba yang fantastis sebagian besar berasal dari konsolidasi entitas hasil akuisisi, sehingga pasar mencermati seberapa berkelanjutan pertumbuhan tersebut ke depan. Kualitas laba, arus kas operasi, serta kemampuan perseroan mengintegrasikan perusahaan yang diakuisisi menjadi faktor yang perlu diperhatikan investor.
Sentimen pasar secara umum juga masih beragam. Pada perdagangan yang sama, sejumlah saham menjadi penopang indeks, seperti BBRI yang naik 3,98%, BBCA menguat 2,77%, dan AMMN bertambah 4,94%. Sebaliknya, BYAN terkoreksi 10,12%, EMAS turun 12,00%, dan SRAJ melemah 10,26%. Aktivitas investor asing masih mencatatkan net sell, dengan nilai jual bersih di pasar reguler mencapai Rp330,69 miliar dan Rp337,44 miliar di seluruh pasar.
Dari 11 sektor yang diperdagangkan, sembilan sektor berakhir melemah. Sektor kesehatan mencatat koreksi paling dalam, yakni 2,95%, sementara sektor keuangan menjadi satu-satunya sektor dengan penguatan tertinggi sebesar 0,55%. Pergerakan serupa terlihat di bursa Amerika Serikat, dengan Dow Jones turun 0,29% ke 52.424, S&P 500 melemah 0,48% ke 7.619, dan Nasdaq terkoreksi 0,56% ke 26.186.
Perubahan konstituen indeks GDX turut menjadi perhatian. AMMN tercatat masuk sebagai konstituen GDX dan sahamnya naik 4,94% dengan potensi aliran dana asing sekitar Rp717 miliar. BRMS juga masuk dalam GDX dan GDXJ, lalu bergerak naik 8,15% dengan potensi foreign inflow sekitar Rp521 miliar. Sementara EMAS turun 12,00% seiring potensi outflow sekitar Rp277 miliar. Pada perdagangan yang sama, ETF EIDO dan indeks MSCI Indonesia masing-masing mencatat kenaikan 1,33% dan 2,80%.
Bagi INET, tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa ekspansi ke bisnis kabel laut melalui SGI mampu memperkuat fondasi pendapatan, bukan sekadar memperbesar angka pertumbuhan jangka pendek. Integrasi operasional, pemenuhan kontrak, dan pengelolaan belanja modal akan menjadi kunci. Di sisi lain, investor perlu mencermati apakah valuasi saham yang sudah premium sejalan dengan prospek laba berkelanjutan perseroan.
Dengan kombinasi pertumbuhan laba yang tinggi dan ekspansi bisnis infrastruktur, INET berada di posisi yang menarik untuk dicermati. Namun, pasar tampaknya masih menunggu bukti kinerja yang konsisten pada periode-periode berikutnya sebelum memberikan penilaian yang lebih tinggi terhadap saham perseroan.




