Cakrawala News – 20 September 2026 | Koops TNI Habema evakuasi istri sopir Aris Sanda dari Mbua ke Wamena lewat jalur udara menjadi bagian penting dari rangkaian penanganan kasus tewasnya sopir travel asal Toraja tersebut di Papua Pegunungan. Evakuasi itu dilakukan sebelum jenazah Aris Sanda dipulangkan ke kampung halamannya di Tanah Toraja, Sulawesi Selatan. Sementara itu, TNI memastikan terus memburu anggota kelompok bersenjata yang diduga bertanggung jawab atas peristiwa itu.
Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen TNI Muhammad Nas menegaskan, pengejaran terhadap para pelaku masih berlangsung. Pernyataan itu disampaikannya saat menghadiri pembukaan TNI Fair di Silang Monas, Jakarta Pusat, Sabtu, 19 September 2026.
“Kita terus melakukan penguatan pengamanan masyarakat, maupun pengejaran terhadap pelaku,” kata Muhammad Nas.
Menurut Nas, upaya tersebut merupakan bentuk komitmen TNI dalam menjaga kedaulatan negara sekaligus memberikan rasa aman bagi masyarakat. Ia juga menekankan TNI tidak akan membiarkan masyarakat di Papua terpecah akibat keberadaan kelompok-kelompok separatis yang ingin keluar dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“TNI selalu komit melaksanakan tugas pertahanan negara, komit mengamankan setiap jengkal tanah kita. Jangan sampai ada yang ingin keluar dari NKRI,” ujarnya.
Ia menambahkan, TNI siap berada di garis depan dalam menjalankan tugas yang diberikan pemerintah. “Apa pemerintah kami laksanakan, TNI siap selalu paling depan,” kata Muhammad Nas.
Kronologi Tewasnya Aris Sanda
Komando Operasi Habema TNI menyebut Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) kelompok Kodap III Ndugama sebagai pelaku kekerasan terhadap sopir bernama Aris Sanda. Korban ditemukan meninggal dunia bersama kendaraannya yang terbakar di kawasan Danau Habema, Papua Pegunungan.
Kepala Penerangan Koops TNI Habema Letkol Inf. Wirya Arthadiguna menjelaskan, peristiwa itu bermula ketika korban membawa penumpang melalui jalur Wamena menuju Mbua pada Selasa, 15 September 2026, sekitar pukul 06.00 WIT.
“Seorang pengemudi atas nama Aris Sanda alias Bapak Tasya, asal Toraja, dilaporkan menjadi korban tindakan kekerasan oleh kelompok bersenjata OPM Kodap III Ndugama yang mengakibatkan korban meninggal dunia,” kata Wirya.
Wirya menjelaskan, Aris saat itu membawa sejumlah penumpang menggunakan mobil bak terbuka sebelum kendaraannya dicegat kelompok bersenjata di tengah perjalanan. Kelompok tersebut kemudian melakukan pemeriksaan terhadap pengemudi dan penumpang.
Evakuasi Istri Korban dan Pemulangan Jenazah
Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz-2026 Kombes Pol Yusuf Sutejo mengatakan, pemulangan jenazah dilakukan setelah keluarga korban berkumpul di Wamena. Sebelumnya, istri korban, Sinta Bilolo, telah dijemput oleh rekan-rekan TNI menggunakan helikopter dari kediamannya di Kampung Lugah untuk dibawa ke Wamena.
“Setelah bertemu dengan keluarga, proses pemulangan jenazah kemudian dilanjutkan menuju Sentani dan selanjutnya ke Makassar,” ujar Kombes Yusuf.
Jenazah Aris Sanda (41) bersama keluarga diberangkatkan dari Wamena menuju Sentani pada Jumat, 18 September 2026. Dari Sentani, jenazah kemudian diterbangkan ke Makassar sebelum melanjutkan perjalanan menuju Tanah Toraja, Sulawesi Selatan.
Langkah evakuasi lewat jalur udara itu menunjukkan perhatian aparat terhadap keluarga korban di tengah kondisi medan dan situasi keamanan di wilayah pegunungan Papua. Koops TNI Habema evakuasi istri sopir Aris Sanda dari Mbua ke Wamena lewat jalur udara disebut sebagai bagian dari upaya memastikan proses pemulangan jenazah berjalan lancar.
Penyelidikan dan Pencarian Pelaku
Penyelidikan kasus penembakan dan pembakaran kendaraan tersebut masih berlangsung. Satgas Kepolisian Operasi Damai Cartenz-2026 bersama Polres Jayawijaya dan unsur TNI melakukan penyisiran, olah tempat kejadian perkara (TKP), mengumpulkan barang bukti, serta memeriksa sejumlah saksi.
Upaya pengejaran terhadap pelaku dilakukan seiring penguatan pengamanan di wilayah rawan. TNI menegaskan komitmennya untuk menuntaskan kasus ini dan menjaga stabilitas keamanan di Papua Pegunungan.
Kasus tewasnya Aris Sanda menjadi perhatian karena korban merupakan warga sipil yang tengah menjalankan pekerjaan sebagai sopir angkutan penumpang. Peristiwa ini juga menambah daftar insiden kekerasan yang melibatkan kelompok bersenjata di wilayah pegunungan Papua.
Dampak dan Hal yang Perlu Diperhatikan
Bagi masyarakat, terutama warga yang melintasi jalur Wamena-Mbua dan kawasan Danau Habema, situasi keamanan menjadi hal yang perlu dicermati. Aparat disebut terus memperkuat pengamanan untuk mencegah terulangnya aksi serupa.
Proses hukum terhadap para pelaku masih menjadi pekerjaan rumah. Publik menantikan perkembangan penyelidikan, termasuk hasil olah TKP dan pemeriksaan saksi yang dilakukan aparat gabungan.
Koops TNI Habema evakuasi istri sopir Aris Sanda dari Mbua ke Wamena lewat jalur udara sekaligus menegaskan bahwa penanganan kasus ini tidak hanya berfokus pada pengejaran pelaku, tetapi juga pada perlindungan dan pendampingan keluarga korban. Pemulangan jenazah ke Toraja menjadi penutup sementara dari rangkaian peristiwa yang bermula dari aksi kekerasan di jalur Wamena-Mbua.
Ke depan, keberhasilan pengungkapan kasus ini akan menjadi ukuran penting bagi upaya penegakan hukum dan pemulihan rasa aman di Papua Pegunungan. Aparat diharapkan terus memberikan informasi perkembangan secara transparan kepada publik.


