Cakrawala News – 22 September 2026 | Italia terjunkan kapal perang ke Selat Bab al-Mandab lawan Houthi setelah Menteri Pertahanan Guido Crosetto mengumumkan bahwa Angkatan Laut Italia akan menyiapkan pengamanan bagi kapal-kapal negaranya yang melintasi jalur pelayaran strategis tersebut. Keputusan itu diambil di tengah meningkatnya ancaman kelompok Houthi di Yaman yang mengaku telah menguasai sejumlah wilayah pesisir Laut Merah dan mengancam memblokade selat yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden itu.
“Mengingat situasi sulit yang kembali muncul di Selat Bab al-Mandab, diperburuk krisis di Selat Hormuz dan dampak ekonomi dari berbagai ketegangan internasional, saya bersama Kepala Staf Pertahanan memutuskan mengerahkan Angkatan Laut untuk melakukan persiapan yang diperlukan,” kata Crosetto, seperti dikutip Kementerian Pertahanan Italia.
Menurut Crosetto, Angkatan Laut Italia memiliki kapabilitas untuk melindungi pelayaran kapal sekaligus mengumpulkan informasi intelijen yang diperlukan. Ia menegaskan Roma tidak akan menunggu keputusan Uni Eropa (UE) mengenai keamanan di Selat Bab al-Mandab karena blokade di jalur tersebut berpotensi menimbulkan dampak ekonomi besar.
“Kami tidak dapat membiarkan keterlambatan birokrasi dalam pengambilan keputusan memperburuk situasi yang sudah sulit dan berdampak langsung terhadap perekonomian serta kehidupan warga kami,” ujar Crosetto.
Kapal Frigat dan Kapal Kedua Disiapkan
Italia telah menerjunkan kapal perang frigat Carlo Bergamini sebagai bagian dari misi keamanan Aspides yang dipimpin UE. Roma juga sedang mempersiapkan pengiriman kapal perang kedua ke Selat Bab al-Mandab untuk melindungi kapal komersialnya.
Meski demikian, Crosetto belum merinci berapa banyak kapal perang yang akan dikerahkan. Ia menyatakan pihaknya masih menilai jumlah kapal yang dibutuhkan untuk mengamankan jalur perdagangan tersebut.
Pada saat yang sama, Crosetto mengirimkan surat resmi kepada Perwakilan Luar Negeri UE, Kaja Kallas, untuk memperkuat misi keamanan Aspides di Laut Merah. Menurutnya, pengalaman di Laut Merah penting untuk memastikan keamanan jalur pelayaran dunia.
Crosetto juga mengakui bahwa serangan Houthi di Arab Saudi telah mengenai pesawat tempur Italia. Pesawat tempur Italia berada di Arab Saudi sebagai bagian dari operasi melawan ISIS. Serangan tersebut diketahui mengenai pesawat tipe F-2000 yang terparkir di dalam pangkalan militer, namun tidak ada kerusakan kendaraan tempur atau infrastruktur yang digunakan personel militer Italia di Arab Saudi.
Houthi Klaim Kuasai Mokha dan Pulau di Laut Merah
Langkah Italia itu menyusul klaim Houthi yang menyatakan telah mengambil alih kota pesisir Mokha dan beberapa pulau di Laut Merah. Kelompok yang berafiliasi dengan gerakan Ansarallah tersebut mengancam akan memblokade Selat Bab al-Mandab.
Situasi di Yaman sendiri meningkat pada pertengahan Juli ketika pasukan pro-pemerintah menyerang bandara Sanaa saat sebuah pesawat dari Iran yang membawa delegasi pemimpin Houthi sedang mendarat. Houthi menuduh Arab Saudi berada di balik serangan tersebut dan menyatakan perang terhadap kerajaan itu. Mereka berjanji melanjutkan permusuhan hingga blokade terhadap wilayah yang dikuasai Houthi dicabut.
Dalam sepekan terakhir, Houthi dilaporkan membuat kemajuan signifikan di Yaman barat daya dan barat, merebut wilayah pesisir Laut Merah serta sejumlah permukiman di dekat Selat Bab al-Mandab, termasuk pelabuhan penting Mokha.
Di sisi lain, seorang komandan lapangan senior Houthi dilaporkan tewas bersama enam orang pengikutnya dalam serangan di kawasan Kahbub, dekat Selat Bab el-Mandeb. Menurut laporan Al Arabiya, kelompok Houthi telah mengonfirmasi kematian Faraq Mohsen al-Assar, yang dikenal dengan nama Abu Saqr al-Qaffar. Al-Assar disebut berpangkat brigadir jenderal dan menjabat sebagai komandan Brigade Komando Pertama Houthi.
Sumber militer menyebut al-Assar tewas bersama enam orang dekatnya dalam serangan udara di dataran tinggi Kahbub. Kawasan itu berada di perbatasan tiga provinsi Yaman, yakni Taiz, Lahij, dan Al Hudaydah, serta menjadi medan pertempuran antara pasukan pemerintah Yaman dan kelompok Houthi. Pasukan pemerintah Yaman dilaporkan menggunakan serangan udara, artileri, drone, dan rudal untuk menargetkan posisi Houthi di kawasan tersebut.
Dampak Ekonomi dan Hukum Laut Internasional
Selat Bab al-Mandab memiliki peran pelayaran yang krusial. Selat selebar sekitar 30 kilometer itu menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia. Sekitar 12 persen dari perdagangan maritim global serta 10 persen dari pasokan minyak dan gas jalur laut dilaporkan melintasi jalur perairan strategis tersebut.
Kemampuan Houthi untuk menutup atau membatasi lalu lintas di jalur ini telah memaksa perusahaan-perusahaan pelayaran internasional mempertimbangkan kembali pelayaran yang menghubungkan Samudra Hindia, Laut Merah, dan Terusan Suez. Perusahaan yang menghindari selat tersebut terpaksa mengalihkan kapal-kapal mereka mengelilingi benua Afrika melalui Tanjung Harapan.
Jalur alternatif tersebut menambah jarak tempuh antara 6.500 hingga 7.000 kilometer untuk pelayaran yang menghubungkan Asia dan Eropa. Akibatnya, waktu perjalanan bertambah antara 10 hingga 14 hari, yang secara signifikan meningkatkan konsumsi bahan bakar, biaya awak kapal, serta biaya asuransi.
Kapal-kapal yang tetap beroperasi di atau dekat Laut Merah juga menghadapi lonjakan premi asuransi karena potensi serangan atau eskalasi militer. Peningkatan biaya transportasi ini berpotensi mengganggu rantai pasok global dengan memicu kenaikan harga barang konsumsi, energi, dan bahan baku, yang pada gilirannya memperberat tekanan inflasi internasional.
Menurut Crosetto, gangguan jalur pelayaran menyebabkan keterlambatan pengiriman, peningkatan biaya, serta kenaikan harga yang harus ditanggung keluarga dan dunia usaha.
Pakar hukum asal Mesir, Hani Sabri, menilai ancaman terhadap jalur pelayaran strategis dapat memiliki konsekuensi jauh melampaui konflik regional. Ia merujuk pada Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut atau UNCLOS 1982 terkait hak transit passage. Sabri menyatakan serangan Houthi ke Arab Saudi melanggar ketentuan hukum laut internasional tersebut. Menurutnya, Dewan Keamanan PBB memiliki instrumen sanksi dan embargo senjata untuk mengatasi ancaman terhadap keamanan pelayaran serta stabilitas Yaman.
Ia menilai Selat Bab el-Mandeb dan Selat Hormuz memiliki posisi strategis bagi perdagangan, energi, serta distribusi barang antara Asia dan Eropa. Karena itu, gangguan terhadap pelayaran di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi kepentingan banyak negara.
Media Israel, i24, menggambarkan perkembangan di Selat Bab al-Mandab sebagai peristiwa yang mengguncang tatanan keamanan dan ekonomi. Komandan tertinggi angkatan laut AS di Timur Tengah sebelumnya mengatakan Houthi tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengakhiri serangan terhadap kapal komersial di Laut Merah.
Dengan keputusan Italia terjunkan kapal perang ke Selat Bab al-Mandab lawan Houthi, Roma menempatkan diri di garis depan upaya pengamanan jalur pelayaran yang menjadi urat nadi perdagangan Asia-Eropa. Namun, jumlah kapal yang akan dikerahkan, respons Houthi, serta arah misi Aspides UE masih menjadi faktor yang menentukan apakah eskalasi di kawasan tersebut dapat diredam atau justru meluas.












