Cakrawala News – 08 November 2026 | Gusti Sura, atau G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo, resmi dipersunting K.P.H. Fransiskus Xaverius Adimas Rosdian dalam rangkaian pernikahan adat Dhaup Ageng Mangkunegaran di Solo, Jawa Tengah. Putri dari KGPAA Mangkoenagoro IX ini menjalani sakramen perkawinan di Gereja Katolik Santo Antonius Padua Purbayan pada Jumat (6/11) pagi, lalu melanjutkan prosesi panggih dan resepsi pada malam harinya di Pura Mangkunegaran.
Pernikahan ini menjadi perhatian publik, tak hanya karena Gusti Sura merupakan anggota keluarga keraton, tetapi juga karena Adimas dikenal sebagai bos perusahaan otobus Rosalia Indah. Keduanya menjalani perpaduan dua tradisi, yakni sakramen Katolik dan prosesi adat Jawa yang sarat nilai budaya.
Rangkaian Prosesi Sejak Awal November
Rangkaian Dhaup Ageng Mangkunegaran telah dimulai jauh sebelum hari akad. Prosesi dibuka dengan tradisi sengkeran pada Selasa (3/11) di Bale Warni Pura Mangkunegaran. Setelah itu, berturut-turut digelar pemasangan bleketepe, nyantri, langkahan, siraman, dan midodareni.
Pada Kamis (5/11), Gusti Sura menjalani tiga prosesi sekaligus, yakni Langkahan, Siraman, dan Dodol Dawet. Langkahan berlangsung di nDalem Ageng Pura Mangkunegaran. Prosesi ini dijalani karena Gusti Sura menikah mendahului kakaknya, G.P.H. Paundrakarna Jiwa Suryanegara.
Juru Bicara Dhaup Ageng, R.Ay.T. Ayu Rosetyastuti, menjelaskan bahwa Langkahan merupakan simbol permohonan izin dari Gusti Sura kepada sang kakak. Dalam tradisi Jawa, prosesi ini menjadi bentuk penghormatan seorang adik kepada kakak yang belum menikah. Restu tersebut diharapkan mengiringi perjalanan kedua calon pengantin dalam membangun rumah tangga.
Siraman menjadi momen bagi Gusti Sura untuk menerima doa dari para sesepuh, sementara Dodol Dawet melambangkan kesiapan orang tua melepas putrinya dengan restu keluarga. Sebelumnya, ia juga telah menjalani prosesi Sungkeman dan Sengkeran sejak 3 November.
Janji Suci di Gereja dan Prosesi Adat
Puncak rangkaian diawali dengan sakramen perkawinan di Gereja Santo Antonius Padua Purbayan. Pemberkatan dipimpin oleh tiga romo, yakni Herman Yoseph Singgih Sutoro, Pr, Walterus Teguh Santosa, SJ, dan Ibnu Fajar Muchammad, MSF.
Dalam prosesi tersebut, kedua mempelai mengucapkan janji setia di hadapan Tuhan. Adimas menyatakan kesediaannya mengabdikan diri kepada Gusti Sura dalam keadaan suka maupun duka, sehat ataupun sakit. Janji serupa disampaikan Gusti Sura, yang menyatakan memilih Adimas sebagai suaminya dan berkomitmen untuk setia serta saling mengasihi sepanjang hidup.
Setelah pengucapan janji, prosesi dilanjutkan dengan penerimaan kesepakatan perkawinan dan pemberkatan cincin. Kedua mempelai juga memohon restu kepada orang tua, dimulai dari keluarga mempelai perempuan.
Orang tua Adimas, KP Yustinus Soeroso dan Yustina Rahyuni Soeroso, menyerahkan Kitab Suci, salib, dan rosario kepada kedua mempelai sebagai bekal menjalani kehidupan rumah tangga. Mereka berpesan agar bekal tersebut dipergunakan dengan semestinya, baik dalam suka maupun duka.
Usai sakramen, upacara panggih dan resepsi digelar pada malam hari di Pura Mangkunegaran, dilanjutkan dengan kirab dan mangayubagya. Rangkaian tersebut menjadi bagian dari tradisi pernikahan adat Mangkunegaran yang kaya akan filosofi Jawa.
Sosok Pemerhati Budaya
Nama Gusti Sura bukan hal baru bagi masyarakat Solo dan sekitarnya. Ia dikenal sebagai pemerhati budaya, tak lepas dari ketertarikan putri KGPAA Mangkoenagoro IX ini terhadap kesenian. Ia lahir di Surakarta pada 29 Maret dan merupakan adik dari KGPAA Mangkoenagoro X atau Gusti Bhre, yang kini menempuh pendidikan magister di London School of Economics & Political Science.
Darah seni mengalir dari sang ayah, yang dikenal sebagai pencinta seni dan menciptakan sejumlah karya tari, seperti tari kontemporer panji sepuh, tari harjuna sasrabahu, tari puspita ratna, dan tari bedhaya surya sumirat. Ketertarikan Gusti Sura di bidang seni diwujudkan dengan mendampingi diplomasi budaya Mangkunegaran di kancah internasional. Ia juga didapuk sebagai Pengageng Kawedanan Panti Budaya di Pura Mangkunegaran, mengurus persoalan seni dan tradisi.
Dekorasi Sakral di Dua Lokasi
Setiap rangkaian acara menghadirkan dekorasi yang berbeda. Pemberkatan di gereja didominasi warna putih, dengan rangkaian bunga besar di sisi kiri dan kanan bangku jemaat, dipadukan dedaunan hijau menjuntai. Jendela kaca patri berwarna-warni dan interior kayu gereja memperkuat suasana sakral dan khidmat.
Di Pura Mangkunegaran, dekorasi menghadirkan sentuhan tradisional dengan latar bangunan klasik, detail ukiran, dan ornamen emas. Lampu gantung klasik menambah kesan megah, sementara rangkaian bunga berwarna kuning, ungu, merah muda, dan putih ditempatkan dalam vas tinggi. Area resepsi menampilkan meja-meja panjang yang dihiasi bunga berwarna cerah ditata memanjang, menyerupai taman kecil.
Pernikahan Gusti Sura dan Adimas menjadi salah satu peristiwa budaya paling menonjol di Solo tahun ini. Perpaduan sakramen Katolik dan adat Jawa menunjukkan bagaimana tradisi keraton tetap dijaga di tengah kehidupan modern. Bagi publik, rangkaian prosesi ini sekaligus menjadi cermin bagaimana nilai penghormatan, doa, dan restu keluarga masih menjadi fondasi penting dalam pernikahan.












