Akan Dibeli Haji Isam, Direksi BYAN Kembali Lepas Saham Rp 2,47 Miliar

Akan Dibeli Haji Isam, Direksi BYAN Kembali Lepas Saham Rp 2,47 Miliar
Akan Dibeli Haji Isam, Direksi BYAN Kembali Lepas Saham Rp 2,47 Miliar

Cakrawala News – 25 September 2026 | JAKARTA — Akan dibeli Haji Isam, direksi kembali lepas saham BYAN. Direktur sekaligus Chief Financial Officer PT Bayan Resources Tbk (BYAN), Alastair Gordon Christopher McLeod, menjual sebagian kepemilikan sahamnya di emiten pertambangan batu bara milik konglomerat Low Tuck Kwong tersebut, tak lama sebelum proses akuisisi 30 persen saham oleh PT Jhonlin Baratama milik Haji Isam atau Andi Syamsuddin Arsyad memasuki tahap penyelesaian.

Berdasarkan laporan kepemilikan atau setiap perubahan kepemilikan saham perusahaan terbuka yang disampaikan sesuai POJK Nomor 4/2024, McLeod menjual 185.200 unit saham BYAN pada 21 September 2026 dengan harga Rp 13.352 per saham. Dengan demikian, ia meraup dana sekitar Rp 2,47 miliar dari transaksi berjenis penjualan langsung tersebut.

“Transaksi dilakukan atas kepemilikan saham langsung,” demikian tertulis dalam keterbukaan informasi BEI, Selasa (22/9).

Seusai transaksi, jumlah kepemilikan saham McLeod di BYAN berkurang dari 4.000.000 unit menjadi 3.814.800 unit. Meski demikian, porsi hak suaranya di perseroan tercatat tidak berubah, yakni tetap sebesar 0,01 persen baik sebelum maupun sesudah transaksi. Dalam laporannya, ia menyatakan tidak memiliki hubungan afiliasi dengan anggota direksi lain, dewan komisaris, maupun pemegang saham utama dan pengendali perseroan.

McLeod menjabat sebagai Direktur PT Bayan Resources Tbk sejak 18 Maret 2008. Warga negara asing asal Inggris itu memiliki latar belakang sebagai akuntan profesional di sejumlah firma akuntansi di Inggris, serta pernah menjabat sebagai Country Head Corporate Restructuring KPMG pada 1997-2004. Ia juga tercatat pernah menjadi Direktur Non-Eksekutif di Kangaroo Resources Limited pada 2012-2014.

Latar Belakang Akuisisi 30 Persen Saham BYAN

Aksi penjualan saham oleh McLeod muncul di tengah rangkaian kabar seputar rencana pengalihan saham BYAN kepada kelompok usaha Haji Isam yang telah bergulir sejak Agustus 2026. Isu ini sempat memicu lonjakan harga saham BYAN yang naik 18,75 persen ke level Rp 17.100 pada 18 Agustus 2026, dengan kapitalisasi pasar sempat mencapai Rp 496,55 triliun. Ketika itu, manajemen BYAN maupun emiten terafiliasi Haji Isam, PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR), membantah mengetahui rencana transaksi dimaksud.

Kabar akuisisi kembali menguat pada pertengahan September 2026. Berdasarkan keterbukaan informasi, Low Tuck Kwong dan putrinya, Elaine Low, menandatangani Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat atau Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA) dengan PT Jhonlin Baratama pada 16 September 2026. Kesepakatan itu mencakup rencana pengalihan sekitar 10.000.000.500 saham BYAN atau setara 30 persen dari total saham beredar perseroan.

Kabar tersebut kembali mengerek saham BYAN, yang melonjak 19,96 persen ke level Rp 13.825 per saham usai pengumuman. Meski begitu, perseroan menegaskan transaksi masih bersifat bersyarat dan penyelesaiannya bergantung pada sejumlah persyaratan pendahuluan. Dalam keterbukaan informasi, nilai transaksi tidak diungkapkan.

Adapun harga saham sebelum pengumuman akuisisi terparkir di Rp 11.350 per lembar. Pada perdagangan Selasa (22/9), saham BYAN ditutup anjlok 9,71 persen ke Rp 11.850 dengan kapitalisasi pasar Rp 395 triliun. Per Jumat (25/9), harga saham BYAN berada di level Rp 12.100 per lembar.

OJK dan BEI soal Keterbukaan Harga Transaksi

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menjelaskan bahwa akuisisi saham emiten dapat dilakukan dengan berbagai mekanisme. Di pasar reguler, harga yang berlaku ialah harga saham yang dicatat oleh bursa.

“Yang kalau di reguler tentu harga yang tercipta harus mencerminkan harga yang ditransaksikan oleh banyak pihak sekaligus dengan anonymity,” kata Hasan di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta.

Namun, transaksi itu juga bisa dilakukan di pasar negosiasi, yang ketentuan harganya tidak diatur oleh regulator pasar modal. Pada mekanisme ini, harga ditentukan secara bilateral antara pihak penjual dan pembeli. BEI menyatakan nilai transaksi di pasar negosiasi belum wajib diumumkan ke publik, tetapi bursa sedang mengkaji pembatasan harga berdasarkan masukan pelaku pasar.

Hitung-hitungan Dana dan Sorotan Pasar

Rencana Haji Isam menguasai 30 persen saham BYAN melalui Jhonlin Baratama membutuhkan dana jumbo. Senior Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Fauzan Luthfi Djamal, menghitung nilainya sekitar Rp 126,4 triliun atau sekitar US$ 7 miliar berdasarkan harga 90 hari terakhir. Sementara berdasarkan harga transaksi yang sebelumnya beredar US$ 3 miliar untuk seluruh 62,25 persen saham dan diprorata ke porsi 30 persen, nilainya hanya sekitar Rp 25,4 triliun atau US$ 1,4 miliar, atau sekitar 80 persen lebih rendah dari basis 90 hari perdagangan BYAN.

“Gap ini sempat narik perhatian pasar, karena si harga transaksi yang sebelum ada MoU ambil 30 persen (bila benar) jauh di bawah semua basis harga pasar, termasuk harga penutupan sehari sebelum pengumuman resmi,” kata Fauzan.

Fauzan juga menyoroti pergerakan saham BYAN yang sempat melonjak sekitar 35 persen, dari Rp 10.200 pada 15 September menjadi Rp 13.825 pada 18 September. Pola serupa terjadi pada 18 Agustus ketika saham BYAN sempat menyentuh Rp 17.275 atau naik 43,66 persen dalam sepekan, sebelum anjlok 14,9 persen ke Rp 14.700 pada perdagangan berikutnya setelah manajemen menepis rumor yang beredar. Menurutnya, pola pergerakan cepat berbalik atau whipsaw itu perlu dicermati pelaku pasar.

Dari sisi fundamental, Moody’s pada 18 September memangkas outlook BYAN menjadi negatif, sementara peringkat Corporate Family Rating (CFR) tetap di level Ba1. Perubahan itu menyusul pernyataan force majeure BYAN pada 14 September terkait RKAB 2026 yang belum disetujui untuk tiga anak usahanya. Sebelumnya, pemerintah menambah kuota produksi tambang batu bara BYAN hingga 20 juta ton setelah emiten milik Low Tuck Kwong itu menyatakan force majeure.

“Kalau tidak ada revisi kuota, produksi pada tahun 2026 diperkirakan anjlok menjadi 39 juta ton dari 68 juta ton pada 2025. EBITDA juga berpotensi turun dari US$ 1,1 miliar menjadi US$ 700 juta,” kata Fauzan.

Rencana akuisisi ini akan memperluas jaringan bisnis Jhonlin Group milik Haji Isam di bidang pertambangan batu bara. Kelompok usaha tersebut sebelumnya sudah mencatatkan kepemilikan saham di beberapa emiten publik seperti PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR), PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN), dan PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE). Sepanjang 2026, ekspansi Haji Isam juga merambah emiten lain, mulai dari sektor konstruksi hingga rencana pengambilalihan saham RANS.

Dengan transaksi yang masih bersifat bersyarat dan nilai kesepakatan yang belum diungkap, perhatian pasar ke depan akan tertuju pada pemenuhan persyaratan pendahuluan akuisisi, arah harga saham BYAN, serta sikap regulator terkait keterbukaan harga di pasar negosiasi. Akan dibeli Haji Isam, direksi kembali lepas saham BYAN menjadi salah satu babak yang menandai dinamika transaksi besar di pasar modal Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *