Sesar Waikabubak Picu Gempa Sumba M5,9, Sudah 12 Kali Aktif Sejak 2019

Sesar Waikabubak Picu Gempa Sumba M5,9, Sudah 12 Kali Aktif Sejak 2019
Sesar Waikabubak Picu Gempa Sumba M5,9, Sudah 12 Kali Aktif Sejak 2019

Cakrawala News – 05 Oktober 2026 | Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,9 mengguncang Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, pada Minggu pagi, 4 Oktober 2026, dan diduga dipicu oleh Sesar Waikabubak yang sangat aktif. Peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya mengenali sumber gempa lokal di tengah kewaspadaan terhadap ancaman gempa megathrust di Indonesia. Sesar Waikabubak tercatat telah memicu gempa signifikan sebanyak 12 kali sejak 2019, dengan potensi maksimum mencapai magnitudo 7,4.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) sekaligus dosen Magister Manajemen Bencana SPPB Universitas Indonesia, Daryono, menyatakan bahwa Pulau Sumba memiliki sumber gempa aktif yang penting untuk dikenali masyarakat. Menurutnya, sumber gempa tersebut berasal dari Sesar Waikabubak yang diduga menjadi pemicu gempa Sumba Barat Daya berkekuatan M5,9 pada Minggu pagi.

“Sejak 2019 sesar ini sangat aktif. Sudah memicu gempa signifikan di Sumba sebanyak 12 kali dalam berbagai variasi magnitudo 5,0 hingga 5,9,” ujar Daryono.

Dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 yang disusun Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN), Sesar Waikabubak masuk sebagai sumber gempa aktif baru dan diperhitungkan dalam pemodelan bahaya gempa Indonesia. Sesar ini memiliki mekanisme turun atau normal fault.

Gempa Sumba dan Aceh Terjadi Berdekatan

Pada hari yang sama, gempa juga mengguncang Aceh Jaya dengan magnitudo 5,7. Kedua gempa terjadi dengan jeda 41 menit 41 detik. Gempa Sumba Barat Daya tercatat pada pukul 05.55.52 WIB, sedangkan gempa Aceh Jaya terjadi pukul 06.37.33 WIB.

Meski waktunya berdekatan, Daryono menegaskan kedua gempa tidak memiliki hubungan sebab-akibat. “Sumbernya terpisah ribuan kilometer dan mekanisme tektoniknya berbeda,” jelasnya.

Perbedaan tersebut terlihat dari kedalaman dan mekanisme tektoniknya. Gempa Sumba tercatat pada kedalaman 30 kilometer dengan mekanisme sesar turun (normal fault) yang menunjukkan proses peregangan kerak bumi. Sementara gempa Aceh memiliki kedalaman 55 kilometer dengan mekanisme sesar naik (thrust fault) yang berkaitan dengan proses kompresi pada sistem subduksi megathrust Sumatra.

Gempa Sumba yang sumbernya lebih dangkal menghasilkan guncangan hingga skala VI MMI yang berpotensi merusak. Sementara itu, informasi lain menyebut gempa Sumba Barat Daya tercatat berkekuatan magnitudo 6,1 pada pukul 06.55 Wita, dengan pusat gempa di laut, 14 km barat daya Kodi, Sumba Barat Daya, pada kedalaman 10 km di koordinat 9,70 LS-118,92 BT. Perbedaan angka magnitudo dan kedalaman ini mencerminkan adanya pembaruan data dari otoritas terkait setelah analisis lebih lanjut.

Korban Jiwa dan Kerusakan Bangunan

Gempa tersebut menimbulkan korban jiwa. Seorang lansia berusia 73 tahun di Kodi Utara meninggal dunia. Menurut keterangan Bernadus, korban meninggal karena shock atau kaget saat gempa terjadi. Lansia itu kaget melihat sejumlah keluarganya berhamburan keluar rumah, sempat berada di luar rumah, lalu jatuh tumbang beberapa menit kemudian dan dipastikan meninggal dunia.

Selain korban jiwa, banyak rumah dan satu sekolah dilaporkan rusak berat. Kapolsek setempat menyatakan pihaknya belum bisa memastikan data kerusakan karena tim BPBD dan anggota masih melakukan pendataan lebih lanjut sejak pagi.

Ancaman Megathrust dan Kesiapsiagaan

Di tengah rentetan peristiwa ini, perhatian publik juga tertuju pada ancaman gempa megathrust di zona subduksi. Daryono mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak spekulasi mengenai kapan gempa besar akan terjadi. Menurutnya, ilmu pengetahuan hingga kini belum mampu menentukan secara tepat tanggal, waktu, dan lokasi terjadinya gempa besar.

“Waktunya belum dapat diprediksi. Namun, jumlah korban dapat dikurangi jika kita siap siaga,” ujarnya.

Salah satu kawasan yang mendapat perhatian adalah zona megathrust Mentawai-Siberut dan Mentawai-Pagai di Sumatera Barat. Zona tersebut memiliki potensi menghasilkan gempa berkekuatan besar yang diperkirakan dapat mencapai magnitudo 8,9. Kajian menggunakan data Global Navigation Satellite System (GNSS) pada 2018 hingga 2021 menunjukkan wilayah tengah Sumatera, termasuk Kepulauan Mentawai, terus mengalami perubahan bentuk kerak bumi akibat pergerakan dan tekanan antarlempeng tektonik.

“Ketidakpastian waktu kejadian bukan alasan untuk takut, melainkan menjadi alasan bagi kita untuk bersiap,” kata Daryono.

Rangkaian peristiwa gempa di Sumba dan Aceh dalam selang waktu berdekatan menunjukkan bahwa Indonesia berada di kawasan dengan aktivitas tektonik tinggi, baik dari sesar aktif lokal maupun zona gempa megathrust. Masyarakat diimbau untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan, mengenali jalur evakuasi, dan mengikuti informasi resmi dari BMKG serta otoritas kebencanaan. Pemahaman terhadap karakter sumber gempa di sekitar tempat tinggal menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko dan dampak korban saat bencana terjadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *