Cakrawala News – 05 Oktober 2026 | Kejar Tiongkok! Suzuki siapkan teknologi REEV, range extender untuk mobil kompak menjadi salah satu langkah strategis pabrikan asal Jepang itu dalam menghadapi persaingan industri otomotif yang semakin ketat. Teknologi yang untuk sementara dijuluki REEV Light tersebut diperkenalkan dalam pemaparan Strategi Teknologi Suzuki 2026 pada 25 September, yang disampaikan langsung oleh Presiden Toshihiro Suzuki dan Chief Technical Officer Katsuhiro Kato.
Berbeda dari kendaraan listrik murni, sistem ini menggunakan mesin pembakaran internal bukan untuk menggerakkan roda secara langsung, melainkan untuk menghasilkan listrik yang kemudian digunakan menggerakkan kendaraan. Dengan konsep tersebut, Suzuki berupaya menawarkan teknologi elektrifikasi dengan kebutuhan baterai yang lebih kecil.
Bukan Hal Baru, tapi Pendekatan Suzuki Berbeda
Konsep range extender sendiri bukan hal baru di industri otomotif. Stellantis North America, misalnya, menghadirkan teknologi serupa pada Ram 1500 REV dan Jeep Grand Wagoneer REV. Kedua model berukuran besar itu menggunakan mesin V6 naturally aspirated 3,6 liter sebagai generator listrik, dipadukan dengan baterai berkapasitas besar serta dua motor listrik sebagai penggerak.
Kedua kendaraan tersebut memiliki tenaga hampir 650 tenaga kuda dan jarak tempuh panjang untuk membantu mengurangi kekhawatiran pengguna terhadap pengisian daya atau charging anxiety. Namun, Suzuki mengambil pendekatan berbeda. Jika range extender pada kendaraan besar digunakan untuk menunjang performa dan jarak tempuh, REEV Light diarahkan sebagai pilihan elektrifikasi tingkat awal untuk kendaraan berukuran kompak.
Sistem tersebut mengadopsi arsitektur hibrida seri. Dalam konfigurasi ini, mesin bensin tidak terhubung langsung dengan roda, melainkan berfungsi sebagai pembangkit listrik untuk memasok energi ke motor listrik. Konsep serupa juga digunakan Nissan melalui teknologi e-POWER yang mulai diperkenalkan di Amerika Serikat untuk model tahun 2027 pada Rogue Hybrid.
Mobil tersebut menggunakan mesin bensin tiga silinder segaris turbo 1,5 liter yang tidak terhubung langsung ke roda penggerak. Penggerak kendaraan diserahkan kepada dua motor listrik. Nissan mengklaim sistem e-POWER pada Rogue Hybrid mampu mencapai efisiensi termal 42 persen. Teknologi itu juga menggunakan baterai traksi berkapasitas relatif kecil, yakni 1,67 kilowatt-jam.
Ketika daya baterai turun hingga batas fungsional minimum, sistem e-POWER menyalurkan listrik ke motor penggerak depan dan belakang untuk mempertahankan kecepatan kendaraan. Sementara itu, kelebihan listrik yang dihasilkan mesin digunakan untuk mengisi kembali baterai bertegangan tinggi.
Satu Basis untuk Beragam Teknologi
Selain REEV Light, Suzuki juga menyiapkan sistem hibrida untuk kendaraan mini atau kei car yang sedang dikembangkan dengan nama Super Ene Charge. Sistem tersebut diklaim mampu menurunkan emisi CO2 sebesar 15 persen dibandingkan model sejenis yang hanya menggunakan mesin pembakaran internal.
Suzuki menyebut pengembangan berbagai teknologi tersebut dilakukan secara bersamaan dengan memanfaatkan platform dan desain dasar yang sama. Pendekatan itu memungkinkan Suzuki menawarkan beragam pilihan teknologi elektrifikasi, mulai dari mild hybrid hingga range extender, tanpa harus menggandakan anggaran penelitian dan pengembangan.
Teknologi kendaraan listrik berbasis baterai juga tetap menjadi bagian dari strategi tersebut. Suzuki menyebut kendaraan listrik kei car terbarunya, e Sky, menggunakan sistem electric axle 3-in-1 yang diklaim menjadi salah satu yang terkecil di kelasnya. Ke depan, sistem tersebut akan dikembangkan menjadi desain 6-in-1 dengan dimensi yang sama.
Komponen hasil pengembangan itu nantinya dapat digunakan bersama pada jajaran kendaraan BEV maupun HEV Suzuki. Versi 6-in-1 dengan ukuran sedikit lebih besar juga disiapkan untuk kendaraan di segmen subcompact, compact, hingga ukuran menengah.
Menurut Chief Technology Officer Suzuki Motor Corporation, Katsuhiro Kato, untuk mobil compact pihaknya sedang menyiapkan HEV tipe series yang menghasilkan listrik dari bahan bakar untuk menggerakkan motor listrik. Suzuki juga akan mengembangkan lebih lanjut sistem ini dengan menambahkan kemampuan pengisian daya eksternal serta baterai berukuran tepat untuk menciptakan sistem range extender yang ringan.
“Kendaraan ini akan menjadi REEV Light yang tidak menggunakan baterai berukuran sangat besar, namun tetap memungkinkan Anda berkendara tanpa perlu mengkhawatirkan sisa daya,” kata Kato dalam pemaparan tersebut.
Pengembangan e Sky turut menjadi salah satu alasan Suzuki mengembangkan konsep REEV Light. Daripada menggunakan baterai yang lebih besar dan berat untuk memperpanjang jarak tempuh, Suzuki melihat teknologi range extender dapat menjadi alternatif untuk membantu mengurangi kekhawatiran konsumen mengenai jarak tempuh sekaligus pengisian daya.
Target Efisiensi dan Percepatan Pengembangan
Di sisi lain, Suzuki juga berupaya mempercepat proses pengembangan kendaraan. Dalam strategi teknologinya, perusahaan menargetkan siklus pengembangan dapat dipangkas menjadi 24 bulan untuk menghadapi persaingan dengan merek-merek asal Tiongkok. Efisiensi pengembangan dan produksi masing-masing ditargetkan meningkat 30 persen dan 50 persen.
Pada sistem Series HEV, mesin pembakaran internal berfungsi sebagai generator untuk memasok energi ke motor listrik. Suzuki menargetkan sistem series hybrid ini mampu mengurangi emisi CO2 sebesar 29 persen, atau setara penghematan hingga 300 kg CO2 per 10.000 kilometer. Sistem ini kemudian dapat dikembangkan menjadi REEV Light dengan menambahkan kemampuan plug-in dan menggunakan baterai berukuran lebih sesuai kebutuhan.
Suzuki juga masih melanjutkan pengembangan mesin pembakaran internal sebagai bagian dari strategi teknologi untuk berbagai pasar. Salah satunya melalui rencana pengembangan mesin bensin turbo direct-injection baru untuk negara berkembang. Suzuki menargetkan peningkatan efisiensi termal mesin pembakaran internal dari sekitar 40 persen pada mesin Z12E saat ini menjadi 50 persen.
Untuk mencapai target tersebut, Suzuki menyiapkan sejumlah teknologi, termasuk penerapan siklus Miller, penggunaan oli mesin dengan viskositas rendah, material nano-karbon, serta peningkatan rasio kompresi. Mesin baru itu juga berpotensi tersedia dalam versi CNG.
Suzuki juga menargetkan penggunaan motor listrik tanpa heavy rare earth agar lebih mudah didaur ulang. Untuk model perkotaan seperti e Sky, Suzuki menyiapkan motor listrik depan dengan tenaga 94 hp atau 70 kW, yang dipadukan motor listrik belakang 13 hp atau 10 kW pada varian 4WD. Sementara itu, model yang lebih besar akan mendapatkan e-Axle utama bertenaga 174 hp atau 130 kW, serta pilihan sistem e-4WD di bagian belakang dengan tenaga 40 hp atau 30 kW.
Belum ada informasi pasti mengenai model Suzuki mana yang akan mengadopsi sistem HEV dan REEV baru ini. Namun, beredar rumor bahwa Fronx mungkin akan menggunakan powertrain series hybrid. Sementara itu, sistem REEV kemungkinan digunakan pada kendaraan yang lebih besar yang sesuai dengan pasar tertentu. Teknologi REEV Light disebut berpotensi disematkan ke model seperti S-Cross, Vitara, Grand Vitara, Victoris, Baleno Hatchback, dan Fronx.
Strategi tersebut menunjukkan bahwa Suzuki tidak hanya mengandalkan satu jenis teknologi untuk menghadapi transisi elektrifikasi. Perusahaan asal Jepang itu menyiapkan kombinasi teknologi mulai dari mesin pembakaran internal, mild hybrid, range extender, HEV, hingga BEV sesuai dengan kebutuhan kendaraan dan pasar yang dituju.
Langkah ini menjadi penanda bahwa perlombaan elektrifikasi tidak lagi sekadar soal siapa yang paling cepat meluncurkan mobil listrik murni. Bagi Suzuki, kemampuan menyediakan beragam opsi teknologi dengan biaya pengembangan yang efisien bisa jadi kunci untuk tetap kompetitif di pasar global, terutama di segmen mobil kompak yang volumenya besar. Yang perlu dicermati berikutnya adalah model produksi pertama yang benar-benar mengusung REEV Light, serta seberapa cepat target pengembangan 24 bulan itu bisa diwujudkan.










