Sosial  

Petugas Lab Meninggal Usai Paparan Sampel Misterius, Hampir 200 Orang Dikarantina di Siberia

Petugas Lab Meninggal Usai Paparan Sampel Misterius, Hampir 200 Orang Dikarantina di Siberia
Petugas Lab Meninggal Usai Paparan Sampel Misterius, Hampir 200 Orang Dikarantina di Siberia

Cakrawala News – 06 Oktober 2026 | Seorang petugas lab meninggal usai paparan sampel misterius, hampir 200 orang dikarantina di Siberia, memicu kekhawatiran internasional terhadap dugaan kebocoran patogen berbahaya dari sebuah fasilitas penelitian. Perempuan berusia 28 tahun bernama Darya Shipilova, teknisi di Institut Penelitian Anti-Pes Irkutsk di Shelekhov, dekat Irkutsk, Rusia, meninggal pada dini hari 2 Oktober 2026 di ruang perawatan intensif Rumah Sakit Distrik Shelekhov setelah kondisinya memburuk dengan cepat.

Insiden ini mencuat ke permukaan setelah sejumlah media lokal melaporkan bahwa Shipilova diduga memecahkan tabung reaksi berisi bakteri berbahaya Yersinia pestis, penyebab penyakit pes, saat bekerja dengan bahan biologis hidup di laboratorium pada 25 September. Namun, versi lain menyebutkan ia jatuh sakit tak lama setelah kembali dari perjalanan dinas di Buryatia, Siberia timur, wilayah yang berbatasan dengan Mongolia.

Kronologi dan Dugaan Penyebab

Menurut laporan media lokal People of Baikal, insiden pecahnya tabung reaksi terjadi saat Shipilova menangani sampel patogen berbahaya. Dua hari setelah kejadian, kondisi kesehatannya tiba-tiba memburuk. Ia dilarikan ke rumah sakit setempat, tempat dokter yang belum mengetahui kejadian di laboratorium awalnya menduga ia mengalami COVID-19 dengan gejala berat dan menempatkannya di unit khusus pasien Covid.

Kondisinya terus menurun dengan cepat. Berdasarkan kondisi klinis yang dialami, tim medis kemudian melakukan tes untuk mendeteksi kemungkinan infeksi berbahaya. Pasien sempat dipasangi ventilator, namun nyawanya tidak tertolong. Pes paru diketahui dapat berkembang sangat cepat dan hampir selalu berakibat fatal tanpa pemberian antibiotik yang tepat dan segera.

Gubernur Irkutsk, Igor Kobzev, mengumumkan penyebab kematian perempuan tersebut sebagai pneumonia dengan penyebab yang belum diketahui. Ia menyatakan tidak ditemukan mikroorganisme yang berkaitan dengan pekerjaannya dalam sampel biologis korban. Pernyataan ini disampaikan dengan mengutip badan pengawas perlindungan konsumen dan kesehatan Rusia, Rospotrebnadzor.

Meski demikian, sejumlah laporan tidak resmi menyebutkan bahwa hampir 200 orang yang pernah melakukan kontak dengan korban ditempatkan di bawah pengawasan medis ketat. Menurut laporan kantor berita regional independen Liudi Baikala, mereka ditempatkan dalam pengawasan di rumah sakit di Shelekhov, tempat teknisi laboratorium tersebut dibawa.

Karantina dan Langkah Pencegahan

Sejumlah rumah sakit di Irkutsk dilaporkan menerapkan karantina selama tiga pekan sebagai upaya pencegahan. Menurut laporan Meduza, City Clinical Hospital No 1, No 3, dan No 10, serta Ivano-Matreninskaya Children’s Hospital, ditutup sementara dan memberlakukan karantina. Karantina juga diberlakukan di setidaknya satu rumah sakit bersalin di kota tersebut.

Langkah pencegahan tidak hanya di fasilitas kesehatan. Sebuah pabrik aluminium di dekat laboratorium, Pabrik Aluminium Irkutsk di Shelekhov, menginstruksikan stafnya untuk mengenakan masker. Direktur pabrik, Artem Fominikh, meminta semua pihak tetap tenang dan mencatat bahwa banyak rumor serta laporan simpang siur beredar.

Warga Shelekhov mengaku melihat sejumlah orang mengenakan pakaian pelindung, masker, dan sarung tangan di jalanan. Para orang tua setempat juga menyebut masker dibagikan di sejumlah taman kanak-kanak. Pada Sabtu, penggunaan masker diwajibkan sebagai langkah pencegahan di pabrik aluminium tersebut.

Fominikh menegaskan bahwa semua orang yang teridentifikasi memiliki kontak erat kini berada di bawah pengawasan medis. Saat ini, mereka tidak menunjukkan gejala penyakit apa pun, dan hasil tes laboratorium mereka negatif. Gubernur Kobzev juga menyatakan hal serupa, bahwa dari semua orang yang pernah kontak dengan Shipilova tidak ada yang menunjukkan tanda-tanda penyakit.

Respons Pemerintah dan Kekhawatiran Internasional

Kepala Rospotrebnadzor, Anna Popova, datang ke wilayah Irkutsk dan turut serta dalam pertemuan darurat bersama pemerintah daerah untuk membahas kasus tersebut. Rospotrebnadzor menyatakan langkah-langkah khusus telah diambil terkait kasus seorang karyawan Institut Anti-Pes Irkutsk, seraya menambahkan bahwa karyawan tersebut didiagnosis menderita pneumonia dengan etiologi yang tidak diketahui.

Badan tersebut juga menyatakan kondisi sanitasi dan epidemiologi di wilayah Irkutsk, serta kota Irkutsk dan Shelekhov, dalam keadaan stabil. Rapat luar biasa komisi anti-epidemi daerah digelar bersama kepala dokter negara Rusia terkait dugaan kasus infeksi yang sangat berbahaya yang menjangkiti seorang warga di wilayah tersebut.

Mantan kepala Rospotrebnadzor, Gennady Onishchenko, menilai infeksi di wilayah Irkutsk tersebut kemungkinan besar bukan pes. Namun, ia menambahkan bahwa seandainya pun terkonfirmasi, tidak akan terjadi penyebaran penyakit ini.

Kekhawatiran tidak hanya muncul di dalam negeri Rusia. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengatakan Amerika Serikat tengah mencermati dengan sangat serius kasus seorang teknisi laboratorium Rusia yang meninggal di pusat penelitian wabah pes di Siberia. Ketika ditanya apa yang akan dilakukan Washington terkait risiko penyebaran wabah pes dari Rusia, Trump mengatakan ia belum membicarakan hal itu dengan Kremlin.

Saya prihatin mereka mengalaminya, katanya, sebelum menambahkan bahwa Amerika Serikat akan membantu. Siapa pun yang menghadapi masalah seperti itu, kami akan selalu membantu, ujarnya. Menteri Luar Negeri Marco Rubio juga menyatakan Washington memantau perkembangan kasus tersebut dengan saksama di tengah kekhawatiran bahwa insiden itu dapat menyebabkan penyebaran pes pneumonik, meski ia menegaskan tidak ada alasan untuk khawatir.

Yang Perlu Diperhatikan Selanjutnya

Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda penyebaran wabah atau epidemi di wilayah Irkutsk. Rospotrebnadzor menyatakan belum ada laporan mengenai staf lain dari lembaga penelitian wabah pes tersebut yang mencari pertolongan medis sejak teknisi laboratorium itu meninggal. Pihak berwenang Rusia juga menyatakan belum jelas secara pasti pes apa yang terlepas, jika memang benar terjadi kebocoran.

Perbedaan versi mengenai penyebab kematian, antara dugaan kecelakaan laboratorium dan kemungkinan infeksi dari perjalanan dinas, masih menjadi perhatian. Sejumlah pihak menekankan pentingnya transparansi dan investigasi menyeluruh untuk memastikan tidak ada risiko lanjutan bagi masyarakat. Pemantauan medis terhadap hampir 200 orang yang pernah berkontak dengan korban diperkirakan akan terus berlanjut hingga masa inkubasi terlewati.

Kasus petugas lab meninggal usai paparan sampel misterius, hampir 200 orang dikarantina di Siberia ini menjadi pengingat akan risiko kerja di fasilitas penelitian patogen berbahaya. Publik menantikan hasil investigasi resmi yang dapat menjelaskan secara pasti apa yang terjadi di Institut Anti-Pes Irkutsk, sekaligus memastikan bahwa situasi tetap terkendali dan tidak berkembang menjadi ancaman kesehatan yang lebih luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *