Cakrawala News – 07 Oktober 2026 | Parlemen Iran nyatakan Teheran siap bertempur ataupun bernegosiasi dalam menghadapi Amerika Serikat, demikian disampaikan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf dalam sidang parlemen pada Minggu, 4 Oktober 2026. Pernyataan itu menegaskan posisi Teheran yang menolak bertekuk lutut di tengah konflik bersenjata yang berlangsung sejak 28 Februari dan hingga kini belum menunjukkan titik terang.
Ghalibaf menegaskan Iran tidak gentar ataupun terintimidasi oleh tindakan Amerika Serikat. Menurutnya, Teheran menghadapi Washington dengan dua jalur sekaligus, yakni kekuatan militer dan instrumen diplomasi.
“Kami hadir di medan tempur militer dengan segenap kekuatan kami dan akan menghadapi mereka dengan kejutan-kejutan baru. Kami menggunakan instrumen diplomasi untuk menegaskan keunggulan kami di bidang militer dan memperjuangkan hak-hak rakyat Iran,” kata Ghalibaf, seperti dikutip kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim.
Pernyataan itu disampaikan Ghalibaf di hadapan anggota parlemen pada Minggu (4/10/2026). Sejumlah media internasional, termasuk Anadolu dan ANTARA, melaporkan pernyataan serupa dengan penekanan bahwa Iran siap menghadapi semua opsi dalam konflik melawan Amerika Serikat, baik negosiasi maupun perang.
Selat Hormuz dan Tujuh Syarat Teheran
Dalam pernyataannya, Ghalibaf menyinggung langkah Washington yang menyampaikan sejumlah usulan baru melalui negara mediator. Usulan itu datang setelah Teheran mengajukan peta jalan tujuh hari untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Meski demikian, ia menegaskan Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali sebelum tujuh syarat dari Teheran terpenuhi. Syarat tersebut disusun berdasarkan Memorandum Islamabad, yakni kerangka kesepakatan yang dicapai pada Juni lalu.
Pada bulan sebelumnya, Iran telah menyampaikan persyaratan resmi kepada Amerika Serikat melalui mediator Qatar untuk mengakhiri perang. Persyaratan itu mencakup penghentian permusuhan di semua lini, pencairan dana Iran yang dibekukan, serta penghentian blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Beberapa laporan menyebut nota kesepahaman tersebut diteken pada 17 Juni, namun hanya bertahan hingga awal Juli sebelum kembali diwarnai serangan Amerika Serikat. Perbedaan detail waktu ini muncul di sejumlah pemberitaan, sementara sumber-sumber sepakat bahwa kerangka kesepakatan itu menjadi dasar tuntutan Teheran saat ini.
Diplomasi di Tengah Ketegangan Militer
Pernyataan Parlemen Iran nyatakan Teheran siap bertempur ataupun bernegosiasi ini muncul di tengah kebuntuan proses diplomatik. Hingga kini belum ada kejelasan kapan negosiasi kedua pihak akan dimulai kembali setelah jeda yang terjadi.
Upaya mengakhiri perang sebenarnya telah berlangsung sejak Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman pada Juni. Nota itu mengatur langkah segera untuk memulihkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz dan menangani program nuklir Iran.
Namun, implementasi kesepakatan tersebut tidak berjalan mulus. Sejumlah insiden militer dan saling serang membuat proses diplomasi kembali tersendat, termasuk serangan Amerika Serikat terhadap peluncur rudal Iran yang menandai serangan pertama sejak Juli, serta laporan korban jiwa dalam serangan-serangan sebelumnya.
Di sisi lain, Pakistan dan Qatar dilaporkan meningkatkan peran mediasi mereka di tengah jeda serangan antara Amerika Serikat dan Iran. Kedua negara tersebut menjadi saluran komunikasi tidak langsung antara Teheran dan Washington yang secara resmi belum duduk dalam satu meja perundingan.
Posisi Militer dan Sinyal Kesiapan
Ketegangan di kawasan juga tercermin dari berbagai pameran kekuatan militer. Pada 29 September 2026, Iran memamerkan rudal balistik, sistem pertahanan udara, dan pesawat nirawak di Lapangan Baharestan, Teheran, dalam acara “Pekan Pertahanan Suci”.
Laporan lain menyebutkan militer Iran dinyatakan siap menghadapi kemungkinan invasi darat Amerika Serikat. Sementara itu, Iran juga menyatakan dukungan penuh terhadap Hizbullah dan mendesak Israel menghentikan serangan ke Lebanon, memperlihatkan bahwa konflik ini memiliki dimensi regional yang lebih luas.
Dalam konteks inilah pernyataan Parlemen Iran nyatakan Teheran siap bertempur ataupun bernegosiasi dibaca sebagai pesan ganda. Di satu sisi, Teheran ingin menunjukkan kesiapan militer dan ketidakgentaran menghadapi tekanan Washington. Di sisi lain, pernyataan itu tetap membuka ruang diplomasi sebagai jalur penyelesaian.
Selat Hormuz menjadi simpul utama dalam kebuntuan ini karena jalur perairan strategis tersebut merupakan urat nadi pelayaran dan ekspor minyak. Tuntutan Iran untuk menghentikan blokade maritim dan mencairkan aset yang dibekukan menunjukkan bahwa Teheran ingin memperoleh jaminan konkret sebelum membuka kembali jalur tersebut.
Yang Perlu Dicermati Selanjutnya
Hingga kini, belum ada titik terang kapan konflik yang berlangsung sejak 28 Februari akan berakhir. Negosiasi kedua pihak juga belum jelas kapan akan dimulai lagi, sementara usulan Amerika Serikat melalui mediator masih menunggu respons lebih lanjut dari Teheran.
Ke depan, perhatian akan tertuju pada apakah tujuh syarat Iran berdasarkan Memorandum Islamabad dapat dijadikan dasar perundingan lanjutan, serta apakah mediator seperti Qatar dan Pakistan mampu menjembatani perbedaan posisi kedua negara. Selama syarat-syarat itu belum terpenuhi, Selat Hormuz diperkirakan tetap tertutup dan ketegangan militer di kawasan akan terus menjadi risiko utama bagi stabilitas pasokan energi global.












