BMKG: Musim Kemarau Berlanjut hingga Oktober 2026, El Nino Sangat Kuat Tunda Musim Hujan

BMKG: Musim Kemarau Berlanjut hingga Oktober 2026, El Nino Sangat Kuat Tunda Musim Hujan
BMKG: Musim Kemarau Berlanjut hingga Oktober 2026, El Nino Sangat Kuat Tunda Musim Hujan

Cakrawala News – 09 Oktober 2026 | JAKARTA – Musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi masih berlanjut hingga Oktober 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan fenomena iklim El Nino tingkat tinggi menjadi penyebab utama durasi kemarau terasa lebih panjang dan kedatangan musim hujan bergeser dari kondisi normalnya.

Menurut hasil analisis BMKG, anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur pada Agustus 2026 mencatatkan angka +2,83. Sementara indeks ENSO (El Nino Southern Oscillation) periode Juni-Agustus 2026 berada di level +2,20. Kondisi ini mengindikasikan Indonesia sedang dilanda fase El Nino Sangat Kuat, yang diproyeksikan baru akan mereda pada awal tahun 2027.

Dampaknya, sejumlah wilayah masih akan mengalami musim kemarau pada Oktober 2026. BMKG mengimbau masyarakat mewaspadai potensi kekeringan yang berlanjut hingga Oktober, terutama di wilayah Jawa, Bali, NTB, dan NTT.

Musim Hujan Datang Terlambat

BMKG memprakirakan kedatangan musim hujan di sebagian besar wilayah Nusantara akan mengalami keterlambatan atau mundur dibandingkan rata-rata klimatologisnya. Sebagian besar wilayah baru akan mengawali musim hujan pada November 2026, mencakup 185 ZOM atau 24,66 persen wilayah. Sementara 266 ZOM atau 17,31 persen wilayah lainnya baru memasuki musim hujan pada Desember 2026.

Proses peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan akan berlangsung secara bertahap. Musim hujan diprediksi dimulai terlebih dahulu dari wilayah Sumatera bagian utara, lalu bergerak perlahan melintasi kawasan Indonesia lainnya.

Keterlambatan ini memperpanjang periode kering yang harus dihadapi masyarakat. Berbagai dampak pun mulai terlihat di daerah, mulai dari kebakaran hutan dan lahan hingga krisis air untuk pertanian.

Karhutla Ponorogo Melonjak Tajam

Di Ponorogo, Jawa Timur, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menembus 341 hektare dan berdampak pada 17 kecamatan. Kepala Pelaksana BPBD Ponorogo, Masun, mengatakan luasan kebakaran tahun ini meningkat tajam dibandingkan periode yang sama pada 2024.

“Kalau kita lihat, data karhutla tahun ini memang lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan kalau dibandingkan dengan 2024, ketika kemaraunya juga lumayan, data tahun ini masih jauh lebih besar,” kata Masun, Jumat (9/10/2026).

Pada 2024, kebakaran tercatat melanda 11 kecamatan dan 26 desa dengan total luas lahan terbakar 91,7 hektare. Berdasarkan catatan BPBD, Kecamatan Slahung menjadi wilayah dengan luasan kebakaran terbesar tahun ini, yakni 81,3 hektare. Posisi berikutnya ditempati Kecamatan Bungkal dengan 64,5 hektare, Sambit 42,5 hektare, Jenangan 35,5 hektare, dan Kauman 30 hektare.

Masun menjelaskan, peningkatan kasus karhutla diduga berkaitan erat dengan kondisi kemarau yang lebih ekstrem. Curah hujan yang berada di bawah normal serta durasi musim kemarau yang lebih panjang membuat vegetasi di sejumlah wilayah mengering dan mudah terbakar.

“Sekarang hampir tidak ada hujan selama lebih dari 60 hari. Sementara pada 2024, kondisi kekeringannya masih lebih ringan. Waktu itu, sampai 30 September, luas hutan dan lahan yang terbakar tercatat 91,7 hektare,” jelasnya.

Sebagai perbandingan, lima kecamatan dengan luasan kebakaran terbesar pada periode yang sama tahun 2024 adalah Slahung seluas 18 hektare, Balong 17,7 hektare, Badegan 12 hektare, Sambit 11 hektare, dan Jambon 9,5 hektare.

Menurut Masun, kondisi vegetasi yang mengering, semak belukar, serta serasah atau tumpukan daun kering menjadi faktor yang perlu diwaspadai. Risiko kebakaran semakin tinggi ketika kondisi tersebut disertai suhu udara panas dan tiupan angin.

“Vegetasi yang relatif kering, semak-semak, dan serasah menjadi area yang sering mengalami kebakaran. Apalagi kalau ditunjang temperatur yang tinggi dan angin,” ungkapnya.

BPBD Ponorogo juga memperkirakan potensi karhutla masih akan terjadi selama Oktober. Sebab, wilayah Ponorogo belum memasuki musim hujan sehingga kondisi lahan kering masih berpotensi memicu kebakaran.

Waspada Longsor saat Peralihan Musim

Di Kabupaten Lebak, Banten, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengingatkan masyarakat di enam kecamatan mewaspadai potensi tanah longsor saat peralihan musim dari kemarau ke musim penghujan. Enam kecamatan tersebut yakni Sobang, Muncang, Lebak Gedong, Cibeber, Cigemblong, dan Bojongmanik.

Sekretaris BPBD Lebak, Febby Rizky Pratama, mengatakan potensi longsor perlu diwaspadai karena kondisi tanah setelah musim kemarau dapat menjadi rentan ketika kembali menerima curah hujan.

“Potensi longsor tentunya ada, di daerah-daerah perbukitan yang memiliki lereng. Begitu kena air pasca-kemarau biasanya langsung longsor,” kata Febby di Lebak, Kamis, 8 Oktober 2026.

Peringatan ini menunjukkan bahwa peralihan musim tidak hanya membawa berkah berupa hujan, tetapi juga risiko bencana hidrometeorologi di wilayah dengan topografi berbukit.

Dampak pada Pertanian dan Solusi Daerah

Dinas Pertanian dan Pangan (Diperpa) Kabupaten Badung, Bali, bergerak cepat menangani dampak musim kemarau ekstrem yang melanda lahan pertanian di Kecamatan Petang dan Abiansemal. Ancaman kekeringan akibat kemarau ekstrem dan penurunan debit air sungai mencakup sekitar 80 hektare lahan sawah aktif yang tersebar di wilayah Petang hingga titik Gerana di Abiansemal.

Selain berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida untuk perbaikan fisik infrastruktur irigasi, Diperpa juga melakukan pemetaan dan pemantauan lahan terdampak serta menyiapkan alokasi anggaran perubahan guna memastikan pasokan air dan produktivitas petani tetap terjaga.

Kepala Diperpa Badung, Anak Agung Ngurah Raka Sukadana, menegaskan penanganan darurat di lapangan sudah mulai berjalan seraya menyiapkan langkah perbaikan permanen.

“Perbaikan terowongan rusak sedang berjalan secara manual karena medannya terjal dan sulit dimasuki alat berat. Kami juga sudah menganggarkan pendataan irigasi dan kondisi petani di anggaran perubahan agar perbaikan fisik bisa dipercepat,” ujarnya, Rabu (8/10/2026).

Selain kerusakan infrastruktur di hulu, pemicu lain berkurangnya debit air adalah masih ditemukannya saluran irigasi tradisional yang kondisinya belum dibeton. Di Subak Buangga, saluran irigasi sepanjang tiga kilometer masih berupa tanah sehingga air banyak meresap sebelum sampai ke lahan sawah warga.

Sebagai langkah perbaikan menyeluruh, Pemkab Badung memprioritaskan pembetonan saluran irigasi, khususnya pada jaringan yang masih berupa tanah, serta memetakan kembali profil petani dan jaringan irigasi melalui alokasi APBD Perubahan 2026. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi distribusi air sekaligus mengurangi kehilangan air selama proses pengaliran.

Merawat Tanaman agar Tetap Subur

Bagi masyarakat yang ingin menjaga tanaman tetap hidup di tengah musim kemarau, pengaturan air menjadi faktor paling menentukan. Para ahli berkebun menyebutkan tanah yang dibiarkan terbuka dapat kehilangan banyak air melalui penguapan dan limpasan ketika cuaca panas berlangsung lama.

Penyiraman sebaiknya dilakukan pada pagi hari sebelum matahari terik, idealnya pukul 05.00 hingga 09.00, agar penguapan minimal dan daun sempat mengering sehingga risiko jamur berkurang. Air diarahkan langsung ke pangkal tanaman di permukaan media, bukan membasahi daun, untuk menghemat air sekaligus menekan risiko penyakit pada dedaunan.

Menyiram secara menyeluruh sekali seminggu lebih baik daripada sering tetapi sedikit karena membentuk sistem akar yang lebih kuat dan dalam sehingga tanaman lebih tahan kering. Sebelum menyiram, masukkan jari sekitar 2-3 cm ke dalam media; bila masih terasa lembap, tunda penyiraman. Pemanfaatan selang berpori atau irigasi tetes juga membantu mengalirkan air perlahan langsung ke tanah sehingga limpasan dan penguapan jauh berkurang.

Yang Perlu Diperhatikan Selanjutnya

Kombinasi El Nino Sangat Kuat dan mundurnya awal musim hujan membuat periode kering tahun ini berpotensi menimbulkan dampak berlapis. Kekeringan yang berlanjut hingga Oktober meningkatkan risiko karhutla dan krisis air irigasi, sementara peralihan musim yang tidak serentak memunculkan ancaman longsor di daerah perbukitan begitu hujan mulai turun.

Masyarakat di wilayah yang diprediksi masih mengalami kemarau, seperti Jawa, Bali, NTB, dan NTT, diimbau tetap menghemat air dan mewaspadai potensi kebakaran lahan. Pemerintah daerah juga perlu mempercepat perbaikan infrastruktur irigasi dan menyiapkan langkah mitigasi bencana menjelang datangnya musim hujan yang diperkirakan baru tiba pada November hingga Desember 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *