Cakrawala News – 17 Oktober 2026 | Pernyataan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menyinggung kondisi kesehatan Presiden Prabowo Subianto menuai beragam tanggapan, termasuk dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Dalam dinamika terbaru, SBY singgung mantan presiden, PSI balik menyentil: Masih politik, tapi malu-malu [titlebase]. Sorotan ini muncul setelah kelakar SBY tentang ‘batuk Prabowo’ dinilai bukan sekadar gurauan, melainkan bagian dari kalkulasi komunikasi politik yang matang.
Pernyataan tersebut disampaikan SBY pada 15 Oktober 2026 dan langsung menjadi perbincangan publik. Dosen Ilmu Komunikasi sekaligus Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT), Fajar Junaedi, menilai kelakar itu sebagai cara SBY menyampaikan pesan sensitif tanpa memicu ketegangan politik.
“Retorika SBY ini menarik. Ada daya tarik komunikasi politik yang dibangun. SBY menempatkan diri di luar arena politik praktis,” kata Fajar saat dihubungi Suara.com, Kamis (15/10/2026).
Jarak Aman di Balik Kelakar
Menurut Fajar, status SBY sebagai seniman dan penegasannya bahwa ia tidak lagi aktif dalam politik harian dimanfaatkan untuk membingkai pesan. Jarak aman itu mengubah narasi yang berpotensi menjadi kritik keras menjadi kelakar yang dapat diterima berbagai pihak.
“Dengan menyebut dirinya seniman dan menegaskan bahwa ia sudah tidak lagi aktif dalam politik sehari-hari, SBY membangun jarak yang aman. Adanya jarak itu membuat kelakar soal batuk Prabowo terdengar ringan, bukan seperti kritik atau peringatan dari rival politik,” ujar Fajar.
Meski disampaikan dengan nada bergurau, Fajar menilai isi pesan SBY memiliki bobot substansial terkait stabilitas makroekonomi. Kondisi fisik dan persepsi publik terhadap seorang kepala negara disebut sebagai variabel penting yang selalu dihitung pelaku pasar modal dan nilai tukar.
“Padahal, di balik humor itu terselip pengingat yang cukup tajam yaitu bahwa kesehatan dan citra seorang presiden tidak pernah benar-benar pribadi. Di pasar keuangan, bahkan isyarat kecil tentang kondisi pemimpin bisa langsung diterjemahkan menjadi risiko,” tuturnya.
Fajar juga menyoroti taktik penyampaian pesan SBY yang disusun sistematis dan bertahap. Efektivitas retorika tersebut, katanya, diperkuat amplifikasi media massa serta jangkauan percakapan di media sosial yang masif.
“Strategi retorika ini efektif karena dibangun secara berlapis. Mulanya, SBY merendahkan diri sendiri, lalu membuat kontras dengan posisi Prabowo yang jauh lebih berat, dan akhirnya menutup dengan doa,” ucapnya.
“Media kemudian membesarkan kelakar tersebut sehingga pesan tentang pentingnya kesehatan presiden bagi stabilitas ekonomi justru tersebar lebih luas. Perluasan pesan semakin massif ketika warganet di media sosial ikut berkomentar,” tambah Fajar.
Respons PSI dan Makna Politik
Di sisi lain, respons PSI yang menyentil bahwa manuver tersebut “masih politik, tapi malu-malu” menunjukkan bahwa pesan SBY tetap dibaca dalam kerangka politik praktis oleh sebagian kalangan. Sentilan itu menjadi penanda bahwa upaya menjaga jarak dari arena politik tidak sepenuhnya menghapus tafsir politik atas pernyataan seorang mantan presiden.
Dalam konteks ini, pernyataan SBY singgung mantan presiden, PSI balik menyentil: Masih politik, tapi malu-malu [titlebase] memperlihatkan bagaimana komunikasi politik di Indonesia kerap bergerak di ruang abu-abu, antara kritik dan kelakar, antara pesan ekonomi dan sinyal politik.
Pengamat menilai persoalan kesehatan kepala negara memang bukan isu privat semata. Pasar keuangan, menurut Fajar, sangat sensitif terhadap isyarat mengenai kondisi pemimpin, sehingga pesan yang dibungkus humor pun tetap memiliki dampak.
Yang menarik, kelakar SBY berhasil menyebar luas tanpa memicu konflik elite secara terbuka. Hal ini dinilai terjadi karena pesan disampaikan dengan lapisan retorika yang membuatnya sulit dibalas secara keras tanpa terkesan berlebihan.
Ke depan, publik akan menantikan apakah isu ini berkembang menjadi diskursus politik yang lebih terbuka atau tetap bertahan sebagai kelakar yang dibalas dengan sentilan ringan. Yang jelas, peristiwa ini menegaskan bahwa cara penyampaian pesan sama pentingnya dengan isi pesan itu sendiri dalam komunikasi politik Indonesia.












