Cakrawala News – 20 Oktober 2026 | Las Palmas tengah menghadapi situasi yang mengkhawatirkan di awal musim ini. Klub berjuluk kuning tersebut telah kebobolan 19 gol hanya dalam sepuluh jornada, sebuah catatan yang membuat posisi mereka di klasemen semakin dekat dengan zona degradasi. Kekhawatiran itu kini bukan lagi sekadar isu internal tim, melainkan telah merambat ke tribun Gran Canaria, tempat suporter mulai menyuarakan kekecewaan mereka.
Angka 19 gol itu terbilang mencolok jika dibandingkan dengan performa musim lalu. Sepanjang 42 jornada pada musim sebelumnya, Las Palmas hanya kemasukan 40 gol, menjadikannya pertahanan terbaik kedua di kategorinya. Pada paruh pertama musim lalu, mereka bahkan hanya kebobolan 13 gol. Kini, dalam sepuluh pertandingan saja, jumlah gol yang bersarang di gawang mereka sudah melampaui catatan paruh musim tersebut dan hampir menyentuh separuh dari total keseluruhan musim lalu.
Penurunan tajam ini kontras dengan ambisi awal tim yang semula diarahkan untuk bersaing menuju promosi. Kenyataannya, Las Palmas kini hanya berjarak tiga poin dari zona degradasi. Kondisi tersebut menempatkan tim dalam tekanan besar sejak pekan-pekan awal kompetisi.
Pergantian Pelatih Belum Membawa Perubahan
Upaya manajemen untuk membenahi situasi melalui pergantian pelatih tampaknya belum membuahkan hasil. Kedatangan Juan Manuel Rodríguez diharapkan mampu menghadirkan ketertiban, kepercayaan diri, dan reaksi cepat bagi tim yang semakin rentan. Namun, laga perdananya justru berakhir dengan kekalahan 0-3.
Dalam pertandingan tersebut, Rodríguez memilih menerapkan formasi lima pemain bertahan dengan tujuan memperkuat perlindungan terhadap gawang. Sayangnya, Las Palmas tetap tampil tanpa daya dan belum mampu mengatasi persoalan yang mengancam masa depan tim. Baik pergantian pelatih maupun penyesuaian taktik belum menunjukkan hasil yang diharapkan.
Masalah pertahanan Las Palmas juga tidak bisa dilepaskan dari perubahan komposisi skuad. Kepergian Amatucci, Mika Mármol, dan Barcia, ditambah cedera yang dialami Clemente, membuat lini belakang tim kehilangan keseimbangan. Namun, menyederhanakan seluruh persoalan menjadi kesalahan para pemain bertahan dinilai terlalu dangkal.
Masalah Dimulai dari Blok Tengah
Kerapuhan Las Palmas sebenarnya dimulai jauh sebelum lawan mendekati area penalti kiper Caro. Tim kesulitan merebut bola, kerap terlambat dalam duel, dan mudah kehilangan struktur permainan ketika tidak menguasai bola. Lemahnya tekanan terkoordinasi serta tidak seimbangnya jarak antarlini membuat barisan belakang terekspos dan dipaksa menutup ruang yang terlalu luas.
Kondisi itu pada akhirnya melipatgandakan situasi berbahaya di sekitar gawang. Artinya, solusi tidak cukup dengan menambah jumlah pemain di belakang, melainkan membutuhkan perbaikan menyeluruh pada organisasi blok tim. Tanpa perbaikan itu, upaya memperkuat pertahanan hanya akan bersifat sementara.
Di sisi lain, tekanan dari tribun juga semakin terasa. Grada Gran Canaria mulai kosong, suporter menyoraki tim, dan sorotan mulai diarahkan ke jajaran pengurus. Situasi ini menambah beban bagi para pemain maupun staf pelatih yang tengah berjuang mencari bentuk permainan terbaik.
Konteks yang Lebih Luas di La Palma
Di luar lapangan, nama Las Palmas juga muncul dalam pemberitaan lain yang menyangkut wilayah kepulauan tersebut. Pemerintah Pulau La Palma melalui Cabildo tengah menggarap proyek rehabilitasi Casa Massieu del Llano de Argual. Proyek itu bahkan dipresentasikan dalam Kongres Internasional Pendidikan Warisan Budaya (CIEP 7) di Sevilla, Spanyol, dengan mengusung Proyek Saccharum bertajuk Habitar el cubo vacío, yang berfokus pada mediasi seni dan literasi warisan budaya pada fase pra-museum Casa Massieu.
Menurut keterangan Cabildo de La Palma, proyek yang digagas melalui perusahaan publik Sodepal itu terpilih oleh komite ilmiah kongres pada Línea 3 yang membahas museum, mediasi, dan inklusi sosial. Consejera Insular de Cultura y Patrimonio Cultural, Miriam Perestelo, menyatakan bahwa untuk pertama kalinya sebuah proyek yang digagas khusus dari La Palma hadir dan dipertahankan secara teknis independen dalam program resmi forum internasional tersebut.
Sementara itu, Badan Meteorologi Spanyol (Aemet) juga mengaktifkan peringatan kuning akibat hujan di La Palma pada Selasa, 20 Oktober, yang berlaku sejak pukul 10.00 hingga 17.59 waktu setempat. Peringatan serupa sebelumnya juga diberlakukan di El Hierro. Kedatangan badai DANA Adam disebut membawa hujan yang berpotensi lebat, persisten, dan disertai badai petir di sejumlah wilayah kepulauan.
Bagi Las Palmas, fokus utama tetap pada upaya menghentikan laju kebobolan yang kian mengkhawatirkan. Perbaikan organisasi permainan, pemulihan kondisi pemain, dan ketenangan di ruang ganti akan menjadi kunci. Jika persoalan pertahanan tidak segera diatasi, ancaman degradasi yang kini terlihat dari kejauhan bisa berubah menjadi kenyataan yang sulit dihindari.












