Cakrawala News – 24 Oktober 2026 | Elektabilitas Gibran masuk 5 besar survei, Jokowi effect? menjadi pertanyaan yang mengemuka setelah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menempati posisi empat besar dalam sejumlah survei nasional yang dipublikasikan pada Oktober 2026. Dalam simulasi semi terbuka 24 nama calon presiden versi Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Gibran meraih elektabilitas 8,4 persen, berada di bawah Dedi Mulyadi (35,5 persen), Anies Baswedan (10,3 persen), dan Presiden Prabowo Subianto (9,8 persen). Posisi tersebut menempatkan putra sulung Presiden ke-7 RI Joko Widodo itu di antara figur paling diperhitungkan menjelang Pemilu 2029.
Hasil serupa juga tercatat dalam survei Parameter Politik Indonesia (PPI) yang dirilis pada 18 Oktober 2026. Dalam simulasi pertanyaan terbuka atau top of mind, Gibran menempati posisi keempat dengan elektabilitas 6,9 persen. Survei SMRC sendiri digelar pada 1-10 Oktober 2026 dengan melibatkan 1.213 responden dan margin of error sekitar plus minus 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Jokowi Effect dan Respons Gibran terhadap Isu Publik
Pengamat komunikasi politik Universitas Indonesia, Ari Junaedi, menilai pengaruh politik Jokowi masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi elektabilitas Gibran. Menurutnya, capaian Gibran tidak dapat dilepaskan dari nama besar ayahnya yang masih memiliki efek politik di masyarakat.
“Kalau pun Gibran bisa masuk 5 besar peraih elektabilitas tertinggi tidak terlepas dari efek nama besar ayahnya Jokowi yang memang punya efek politik di masyarakat,” ujar Ari.
Namun, Ari tidak semata-mata menyandarkan posisi Gibran pada faktor keluarga. Ia menilai cara Gibran merespons sejumlah persoalan nasional turut memengaruhi penerimaan publik. Ari menyoroti sikap Gibran terhadap polemik program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan masalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dinilainya berbeda dengan sikap Prabowo.
“Harus diakui pemilihan sikap Gibran terhadap kebijakan pemerintahan seperti polemik MBG dan masalah Karhutla begitu berbeda dengan sikap Prabowo dan publik menaruh respek kepada Gibran,” kata Ari.
Ari juga mengingatkan bahwa kedudukan Gibran sebagai Wakil Presiden membuat setiap langkah dan pernyataannya mendapat perhatian publik. Posisi tersebut berbeda dengan figur politik lain yang tidak sedang menjabat sebagai wakil kepala negara.
Pola Komunikasi Gibran dan Kunjungan Lapangan
Pengamat politik Boni Hargens melihat hasil survei tersebut tidak terlepas dari pola komunikasi politik Gibran yang mengutamakan hubungan langsung dengan masyarakat. Menurutnya, pendekatan melalui kunjungan lapangan dan dialog dengan warga menjadi faktor yang patut diperhitungkan dalam membaca posisi politik Gibran.
Boni menilai Gibran cenderung tidak menjadikan perdebatan antarelite sebagai pusat aktivitas politiknya. Ia lebih mengutamakan pertemuan dengan masyarakat, mendengarkan aspirasi warga, serta mengamati langsung berbagai persoalan di daerah. Hubungan yang dibangun melalui interaksi personal dinilai dapat menjadi modal penting untuk menjaga kedekatan pejabat publik dengan masyarakat.
Boni juga berpandangan bahwa kritik yang berkembang di ruang publik tidak selalu merepresentasikan sikap masyarakat secara keseluruhan. Ia bahkan menduga sebagian narasi negatif yang diarahkan kepada Gibran berkaitan dengan kepentingan kelompok politik tertentu yang berupaya memengaruhi persepsi publik terhadap wakil presiden.
Sejumlah agenda kunjungan kerja Gibran dalam beberapa waktu terakhir turut menjadi perhatian. Pada 4 September 2026, Gibran mengunjungi hunian sementara warga terdampak bencana di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, untuk menemui masyarakat dan meninjau kebutuhan pemulihan serta rencana penyediaan hunian tetap.
Agenda serupa berlangsung ketika Gibran mendatangi Kabupaten Solok, Sumatera Barat, pada 25 September 2026. Ia meninjau kondisi wilayah terdampak banjir bandang dan bertemu warga serta keluarga korban. Beberapa hari kemudian, tepatnya 28 September 2026, Gibran mengunjungi warga yang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program MBG di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, sekaligus memberikan perhatian terhadap penanganan korban dan perlunya evaluasi pelaksanaan program.
Peta Elektabilitas dan Posisi Gibran di Berbagai Simulasi
Dalam simulasi tiga nama, elektabilitas Gibran tercatat sebesar 29,7 persen, diikuti Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebesar 28,2 persen dan Prabowo 22,7 persen. Namun, dalam simulasi dua nama, AHY justru unggul dengan 41,6 persen dibandingkan Gibran yang memperoleh 36,0 persen.
SMRC juga memotret efek tahu terhadap elektabilitas para tokoh. Dalam simulasi tiga nama, AHY unggul 37,2 persen atas Gibran yang memperoleh 25,5 persen, sementara Prabowo 19,2 persen. Pada simulasi dua nama, AHY unggul jauh dengan 51,1 persen daripada Gibran yang hanya 28,7 persen.
Survei tersebut menyimpulkan Dedi Mulyadi unggul jauh karena hampir semua orang mengenalnya dan namanya jauh lebih positif dibanding tokoh lain. Gibran dan AHY dinilai seimbang bila keduanya harus bersaing dengan Prabowo, tetapi prospek AHY jauh lebih besar bila berhadapan langsung dengan Gibran.
Dengan demikian, elektabilitas Gibran masuk 5 besar survei, Jokowi effect? tetap menjadi perdebatan yang menarik dicermati. Di satu sisi, nama besar Jokowi masih memberi modal politik. Di sisi lain, respons Gibran terhadap isu publik dan gaya komunikasinya turut menentukan penerimaan masyarakat. Ke depan, posisi Gibran akan diuji oleh dinamika politik menjelang Pemilu 2029, termasuk bagaimana ia menjaga kedekatan dengan warga tanpa terseret pusaran perdebatan antarelite.












