Hukum  

Kepala MI di Lamongan Diduga Dipukul Wali Murid Oknum TNI Gara-gara Teguran Kaus Kaki

Kepala MI di Lamongan Diduga Dipukul Wali Murid Oknum TNI Gara-gara Teguran Kaus Kaki
Kepala MI di Lamongan Diduga Dipukul Wali Murid Oknum TNI Gara-gara Teguran Kaus Kaki

Cakrawala News – 25 Oktober 2026 | Awal mula oknum TNI datang ke sekolah pukul kepsek di Lamongan, anak ditegur tak pakai kaus kaki berawal dari pemeriksaan kedisiplinan rutin yang dilakukan pihak sekolah pada pagi hari. Insiden tersebut terjadi di sebuah madrasah ibtidaiyah (MI) di Kecamatan Glagah, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, dan mengakibatkan kepala sekolah berinisial MR mengalami luka pada bagian wajah, termasuk memar di sekitar mata serta dugaan keretakan hidung.

Kasus dugaan penganiayaan ini menjadi sorotan setelah ramai dibicarakan di media sosial. Korban adalah kepala madrasah, sementara wali murid yang diduga melakukan pemukulan berinisial MS dan disebut-sebut sebagai anggota TNI. Peristiwa itu disebut terjadi pada Sabtu (17/10/2026) di Desa Meluntur, Kecamatan Glagah.

Bermula dari Teguran Kedisiplinan

Menurut keterangan anggota Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum (LPBH) NU PCNU Lamongan, Nur Afid Santoso, kejadian bermula ketika sekolah melakukan pemeriksaan kedisiplinan siswa pada pagi hari. Dalam pemeriksaan itu, seorang siswa yang diketahui merupakan anak dari terduga pelaku kedapatan tidak mengenakan sepatu dan kaus kaki.

Pihak sekolah kemudian menegur siswa tersebut dan memintanya pulang untuk mengambil kaus kaki. Menurut Nur Afid, siswa itu sempat menangis, meski belum jelas apa penyebabnya. Anak tersebut diduga menyampaikan teguran dari pihak sekolah kepada orang tuanya.

“Kronologi kejadian karena kesalahpahaman. Jadi setiap pagi pihak sekolah kan cek kedisiplinan siswa, salah satunya anak pelaku. Nah, anak ini menangis namun belum jelas karena apa. Lalu pelaku datang ke sekolah melakukan pemukulan,” ujar Nur Afid, Minggu (18/10/2026).

Ia menambahkan, ada kesalahpahaman saat anak tersebut menyampaikan ke orang tuanya hingga pelaku mendatangi sekolah dan terjadi pemukulan. Menurut informasi yang dihimpun, terduga pelaku kemudian memukul korban hingga wajahnya membengkak dan berdarah.

Upaya Mediasi Belum Membuahkan Hasil

Sebelum menempuh jalur hukum, kedua pihak sempat menjalani mediasi di balai desa. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil sehingga korban memutuskan melaporkan peristiwa itu melalui jalur hukum militer.

Nur Afid mengatakan pihaknya mendampingi korban untuk melaporkan dugaan kekerasan tersebut ke Subdenpom TNI Lamongan. “Kami datang ke Denpom melaporkan untuk penyelesaian masalah ini,” ucapnya.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak TNI maupun kepolisian terkait laporan tersebut. Identitas terduga pelaku dan korban juga belum diungkap secara lengkap selain inisial yang beredar.

Konteks dan Hal yang Perlu Diperhatikan

Kasus ini mencuat di tengah perhatian publik terhadap persoalan kedisiplinan di lingkungan sekolah dan cara orang tua merespons kebijakan sekolah. Pemeriksaan atribut seperti sepatu dan kaus kaki merupakan bagian dari upaya sekolah menegakkan aturan, namun respons yang berujung pada tindak kekerasan menuai sorotan.

Kronologi awal mula oknum TNI datang ke sekolah pukul kepsek di Lamongan, anak ditegur tak pakai kaus kaki ini juga menyoroti pentingnya penyelesaian sengketa secara musyawarah sebelum menempuh jalur hukum. Mediasi di balai desa yang belum menemui titik temu membuat korban memilih melaporkan dugaan penganiayaan ke aparat penegak hukum militer.

Publik kini menantikan hasil pemeriksaan Subdenpom TNI Lamongan atas laporan tersebut. Perkembangan proses hukum, termasuk klarifikasi dari pihak terduga pelaku dan institusi TNI, akan menjadi perhatian berikutnya dalam kasus ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *