Cakrawala News – 25 Oktober 2026 | Pengamat ungkap faktor di balik elektabilitas Gibran Rakabuming Raka yang tetap bertahan di kelompok empat besar bursa calon presiden pada sejumlah survei nasional Oktober 2026, meski Wakil Presiden itu terus diterpa kritik dan isu politik. Berdasarkan survei Parameter Politik Indonesia (PPI) yang dirilis 18 Oktober 2026, Gibran menempati urutan keempat dengan elektabilitas 6,9 persen dalam simulasi pertanyaan terbuka atau top of mind. Sementara survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dirilis sehari sebelumnya mencatat elektabilitas Gibran sebesar 8,4 persen dalam simulasi semi-terbuka dengan 24 nama capres, juga di posisi keempat di bawah Dedi Mulyadi, Anies Baswedan, dan Prabowo Subianto.
Survei SMRC dilakukan pada 1-10 Oktober 2026 dengan melibatkan 1.213 responden. Posisi Gibran di jajaran teratas itu menjadi perhatian karena muncul di tengah kritik dan perdebatan politik yang masih mewarnai perjalanan politiknya sejak Pilpres 2024.
Popularitas dan Kedekatan dengan Masyarakat Jadi Kunci
Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, menilai posisi Gibran dalam jajaran teratas berbagai survei tidak terlepas dari tingkat popularitasnya yang telah menjangkau sebagian besar masyarakat Indonesia. Menurut Adi, popularitas Wakil Presiden itu berada di atas 90 persen, jauh lebih merata dibandingkan sejumlah figur lain yang tingkat pengenalan publiknya masih berkisar 70-80 persen.
“Kita tahu popularitas Mas Wapres ini kan juga cukup signifikan, kan, di atas 90 persen. Dibandingkan dengan yang lain masih 80-70 persen, itu kan nggak merata sebaran pengetahuan publiknya,” ujar Adi pada Rabu (21/10/2026).
Adi menjelaskan, tingkat pengenalan publik merupakan salah satu faktor penting dalam survei elektabilitas, terutama ketika masyarakat diminta menyebutkan nama calon presiden secara spontan. Figur yang telah dikenal luas cenderung lebih mudah disebut responden dibandingkan tokoh politik yang popularitasnya belum merata. Kondisi itu, menurutnya, menjelaskan mengapa nama Gibran masih muncul di jajaran teratas survei meskipun dirinya terus menghadapi berbagai kritik politik. Adi juga mengakui intensitas serangan terhadap Gibran relatif menonjol dibandingkan sejumlah figur politik lainnya, namun ia menilai fenomena tersebut bukan hal baru.
Pandangan berbeda datang dari pengamat politik Boni Hargens. Ia menilai hasil survei tersebut tidak terlepas dari pola komunikasi politik Gibran yang mengutamakan hubungan langsung dengan masyarakat. Pendekatan melalui kunjungan lapangan dan dialog dengan warga dinilainya menjadi salah satu faktor yang patut diperhitungkan dalam membaca posisi politik Gibran.
Boni berpandangan bahwa kritik yang berkembang di ruang publik tidak selalu merepresentasikan sikap masyarakat secara keseluruhan. Ia bahkan menduga sebagian narasi negatif yang diarahkan kepada Gibran berkaitan dengan kepentingan kelompok politik tertentu yang berupaya memengaruhi persepsi publik terhadap wakil presiden. Menurut Boni, Gibran cenderung tidak menjadikan perdebatan antarelite sebagai pusat aktivitas politiknya. Putra sulung Presiden ke-7 RI Joko Widodo itu dinilainya lebih mengutamakan pertemuan dengan masyarakat, mendengarkan aspirasi warga, serta mengamati langsung berbagai persoalan di daerah.
Respons terhadap Persoalan Publik Dinilai Berpengaruh
Pengamat komunikasi politik Universitas Indonesia, Ari Junaedi, menilai tingginya sorotan dan kritik terhadap Gibran tidak serta-merta menurunkan elektabilitasnya. Menurut dia, terdapat sejumlah faktor yang dapat menjelaskan posisi Gibran dalam survei, salah satunya cara Wakil Presiden merespons persoalan yang menjadi perhatian masyarakat.
Ari menyoroti sikap Gibran dalam menyikapi polemik program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dinilai turut memengaruhi persepsi publik. “Harus diakui pemilihan sikap Gibran terhadap kebijakan pemerintahan seperti polemik MBG dan masalah karhutla begitu berbeda dengan sikap Prabowo dan publik menaruh respek kepada Gibran,” ujar Ari, Kamis (22/10/2026). Ia berpandangan respons pejabat terhadap persoalan yang bersentuhan langsung dengan kepentingan masyarakat dapat menjadi faktor pembentukan citra politiknya.
Sejumlah kunjungan kerja Gibran dalam beberapa waktu terakhir turut menjadi perhatian pengamat. Pada 4 September 2026, Gibran mengunjungi hunian sementara warga terdampak bencana di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Dalam kunjungan itu, ia menemui masyarakat, mendengarkan persoalan yang mereka hadapi, serta meninjau kebutuhan pemulihan dan rencana penyediaan hunian tetap. Agenda serupa berlangsung ketika Gibran mendatangi Kabupaten Solok, Sumatera Barat, pada 25 September 2026, meninjau wilayah terdampak banjir bandang dan bertemu warga serta keluarga korban.
Beberapa hari kemudian, tepatnya 28 September 2026, Gibran mengunjungi warga yang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program MBG di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Ia menemui pasien dan keluarga mereka, sekaligus memberikan perhatian terhadap penanganan korban serta perlunya evaluasi pelaksanaan program.
Pengamat ungkap faktor di balik elektabilitas Gibran ini menunjukkan bahwa kombinasi popularitas tinggi, kedekatan personal dengan warga, dan respons terhadap isu publik menjadi modal politik yang tetap diperhitungkan. Dalam beberapa survei, Gibran berada di bawah Prabowo Subianto, Dedi Mulyadi, dan Anies Baswedan, serta mengungguli sejumlah figur nasional lain termasuk Ganjar Pranowo dan Agus Harimurti Yudhoyono.
Meski demikian, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa elektabilitas pada survei Oktober 2026 masih bersifat dinamis dan belum menjadi penentu akhir. Posisi Gibran ke depan akan bergantung pada konsistensi kinerja sebagai Wakil Presiden, cara merespons isu yang berkembang, serta dinamika politik nasional menjelang Pilpres 2029. Publik pun akan terus mencermati apakah popularitas yang tinggi mampu diterjemahkan menjadi dukungan politik yang lebih solid.












