Cakrawala News – 04 November 2026 | Harga Minyak Brent terjun bebas, harapan damai AS-Iran tekan harga dunia pada awal pekan ini. Harga minyak mentah dunia turun lebih dari 1% pada Senin (2/11), setelah pejabat Iran dan Qatar melanjutkan perundingan selama tiga hari berturut-turut untuk mendorong kesepakatan mengakhiri perang Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.
Harga minyak mentah Brent berjangka turun US$1,59 atau 1,40% menjadi US$111,84 per barel pada pukul 00.11 GMT. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah US$1,56 atau 1,50% menjadi US$102,56 per barel.
Penurunan tersebut terjadi setelah Brent menutup perdagangan Oktober pada level tertinggi dalam enam bulan. Pasar mengkhawatirkan konflik AS-Iran akan kembali meningkat setelah pemilihan paruh waktu AS pada Selasa (3/11).
Koreksi Teknis Setelah Kenaikan Tajam
Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, berpendapat harga minyak mengalami koreksi teknis pada Senin pagi setelah mencatatkan kenaikan tajam sepanjang pekan lalu.
“Harapan yang masih tersisa terhadap kemajuan diplomatik, ditambah dengan tidak adanya eskalasi militer yang signifikan selama akhir pekan, telah meredakan sebagian tekanan langsung terhadap harga untuk sementara waktu,” kata Waterer, dikutip dari Reuters pada Senin (2/11).
Meski begitu, Waterer menyatakan pelaku pasar masih mewaspadai kemungkinan meningkatnya ketegangan terkait Iran. Kondisi tersebut berpotensi mendorong harga minyak Brent mendekati US$120 per barel setelah pemilihan paruh waktu AS.
Dengan demikian, pergerakan Minyak Brent terjun bebas, harapan damai AS-Iran tekan harga dunia ini masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan diplomasi di Timur Tengah, bukan semata faktor fundamental pasokan dan permintaan.
Iran Klaim Perundingan Menunjukkan Kemajuan
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, pada Minggu (1/11) mengatakan perundingan yang terus berlangsung dan menunjukkan kemajuan bertujuan melanjutkan konsultasi dengan mediator Qatar. Ia juga menegaskan Teheran siap menempuh jalur pertahanan maupun diplomasi.
Perundingan tersebut berlangsung di tengah serangan terhadap kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz. Serangan tersebut mendorong kenaikan biaya energi dan pengiriman barang secara global.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis bagi sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Teluk. Gangguan pada jalur ini biasanya langsung berdampak pada harga minyak dunia maupun biaya logistik.
Arab Saudi Tingkatkan Ekspor, OPEC+ Pertahankan Produksi
Arab Saudi juga meningkatkan ekspor minyak mentah pada Oktober dibandingkan September meskipun kelompok Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran menyerang infrastruktur energinya. Dua dari tiga perusahaan pelacak kapal melaporkan peningkatan ekspor tersebut.
Sementara itu, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, termasuk Rusia, atau OPEC+, mempertahankan target produksi minyak untuk Desember pada Minggu (1/11).
Keputusan OPEC+ untuk tidak mengubah target produksi menjadi sinyal bahwa kelompok tersebut belum melihat kebutuhan mendesak untuk menambah pasokan ke pasar. Langkah ini turut menjadi faktor yang perlu dicermati dalam menentukan arah harga minyak dalam beberapa pekan ke depan.
Yang Perlu Dicermati ke Depan
Penurunan harga pada Senin memberi ruang bagi pasar untuk bernapas setelah volatilitas tinggi sepanjang Oktober. Namun, arah Minyak Brent terjun bebas, harapan damai AS-Iran tekan harga dunia masih bergantung pada hasil perundingan diplomatik dan perkembangan keamanan di kawasan.
Pelaku pasar akan memantau apakah perundingan dengan mediator Qatar menghasilkan kesepakatan konkret atau justru kembali menemui jalan buntu. Selain itu, hasil pemilihan paruh waktu AS pada Selasa (3/11) menjadi momentum yang diperkirakan dapat memengaruhi sentimen pasar terhadap risiko geopolitik Iran.
Jika ketegangan kembali meningkat, tekanan terhadap harga minyak berpotensi berbalik arah dan mendorong Brent mendekati level US$120 per barel. Sebaliknya, kemajuan diplomasi yang lebih meyakinkan dapat menjaga harga tetap terkoreksi. Bagi konsumen dan pelaku usaha, dinamika ini tetap relevan karena berpengaruh pada biaya energi dan pengiriman barang secara global.












