Di Depan SBY, Prabowo Puji Demokrat: Waktu Tak Berkuasa Tak Caci Maki atau Bakar-bakar

Cakrawala News – 11 September 2026 | Di depan SBY, Prabowo: Waktu nggak berkuasa, Partai Demokrat tidak caci maki atau bakar-bakar. Pujian itu disampaikan Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri puncak perayaan HUT ke-25 Partai Demokrat di Indonesia Arena, Jakarta, Rabu (9/9/2026) malam. Dalam pidatonya, Prabowo menilai Partai Demokrat tetap menunjukkan sikap politik yang santun meski pernah berada di puncak kekuasaan dan kemudian berada di luar pemerintahan.

Prabowo hadir bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Keduanya disambut Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) serta Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

“Bicara kan harus halus. Pernah di puncak, pernah di pemerintahan, tidak, tapi waktu tidak berkuasa, Partai Demokrat tidak caci maki,” ujar Prabowo. “Partai Demokrat tidak bakar-bakar,” lanjutnya, disambut tepuk tangan para kader Demokrat.

Pernyataan itu menjadi salah satu bagian penting dalam pidato Prabowo di hadapan kader dan petinggi Partai Demokrat. Menurut Prabowo, sikap tersebut merupakan hal yang patut diapresiasi dalam kehidupan demokrasi Indonesia.

Demokrasi Boleh Beda Warna

Dalam kesempatan yang sama, Prabowo menegaskan bahwa perbedaan pilihan dan pandangan merupakan bagian tak terpisahkan dari demokrasi. Namun, perbedaan itu tidak boleh menjadi alasan untuk memecah persatuan bangsa.

“Macam-macam warna. Bersaing, kritik, menyampaikan saran, memberi rekomendasi. Menyampaikan hal-hal yang mungkin tidak enak untuk disampaikan, tapi tetap kita rukun, tetap bersahabat, tetap berkeluarga,” kata Prabowo.

Menurut Prabowo, persaingan merupakan sesuatu yang wajar dalam kehidupan demokrasi. Ia bahkan menyinggung pengalamannya yang beberapa kali kalah dalam kontestasi politik sebelum akhirnya terpilih menjadi Presiden.

“Saya waktu empat kali tidak menang, saya terima. Ya sudah, kita maju lagi. Ini demokrasi Indonesia. Dan hari ini, di panggung ini, ya inilah demokrasi Indonesia,” ujarnya.

Prabowo mengingatkan bahwa Indonesia merupakan negara besar dengan tantangan yang juga tidak sedikit. Karena itu, berbagai persoalan bangsa harus dihadapi secara bersama-sama dengan mengedepankan persatuan.

“Kita negara sangat besar, ya berarti masalahnya juga besar,” ucap Ketua Umum Partai Gerindra tersebut.

Singgung Persahabatan dengan SBY

Dalam kesempatan itu, Prabowo juga mengenang hubungan panjangnya dengan SBY. Keduanya merupakan rekan satu angkatan saat menempuh pendidikan di Akademi Militer (Akmil) pada 1970. Namun, SBY lulus lebih dulu dibandingkan Prabowo.

“Saya satu angkatan dengan Pak SBY di Akmil. Masuknya satu angkatan. Keluarnya angkatan di bawahnya,” kata Prabowo.

Dengan nada bercanda, Prabowo menyebut SBY sejak awal sudah terlihat sebagai taruna terbaik, sedangkan dirinya masih perlu banyak diperbaiki.

“Dari awal sudah kelihatan bahwa Pak SBY memang taruna yang terbaik, tapi Prabowo Subianto taruna yang bisa diperbaiki,” kelakarnya.

Prabowo juga menyampaikan bahwa ia merasa terhormat dapat menghadiri perayaan HUT ke-25 Partai Demokrat sekaligus HUT ke-77 SBY selaku penggagas dan pendiri Partai Demokrat.

“Bapak SBY pernah jadi jenderal, saya juga pernah, tetapi kita, TNI, yang diajarkan, yang dibesarkan, yang dibina sebagai tentara rakyat,” kata Prabowo.

Menurut Prabowo, pendidikan sebagai tentara rakyat membentuk pemahaman bahwa pengabdian kepada masyarakat harus menjadi orientasi utama, termasuk ketika menjalankan politik melalui mekanisme demokrasi.

Ia menilai SBY telah memberikan contoh dengan mengakhiri karier militernya, membangun partai politik, kemudian maju kepada rakyat untuk memperoleh mandat melalui pemilihan umum.

“Pak SBY memberi contoh, pensiunan keluarga tentara membuat partai, maju ke hadapan rakyat, mendapat mandat. Demikian juga saya,” ujarnya.

“Kalau nyontek yang baik, boleh. Saya juga bikin partai, maju ke rakyat, minta mandat,” lanjut Prabowo.

Prabowo mengatakan bahwa dirinya sempat empat kali gagal memperoleh mandat rakyat sebelum akhirnya terpilih sebagai Presiden RI. Sementara itu, Partai Demokrat juga pernah berada di puncak kekuasaan dan pernah berada di luar pemerintahan.

“SBY partainya tadi dikatakan oleh Mas AHY. Partai Demokrat pernah menang, pernah tidak menang, ya, bicara kan harus halus,” kata Prabowo.

Di akhir pidatonya, Prabowo sempat membuat suasana semakin cair ketika mengaku kerap diingatkan stafnya agar menyampaikan pidato sesuai teks yang telah disiapkan.

Pernyataan Prabowo di depan SBY itu menegaskan pesannya bahwa kemenangan dalam pemilu bukan satu-satunya ukuran dalam perjalanan demokrasi. Sikap ketika berada di luar kekuasaan juga menjadi bagian penting dari proses politik. Bagi Partai Demokrat dan para kader yang hadir, apresiasi tersebut menjadi penanda bahwa dinamika politik nasional tetap dapat berjalan dalam bingkai persaudaraan. Ke depan, pesan kerukunan dan sikap santun di luar kekuasaan itu akan menjadi ujian nyata bagi semua partai politik dalam menjaga stabilitas demokrasi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *