Pria Palestina Ditembak Israel di Aqraba, Keluarga Sebut Korban Dikepung

Pria Palestina Ditembak Israel di Aqraba, Keluarga Sebut Korban Dikepung
Pria Palestina Ditembak Israel di Aqraba, Keluarga Sebut Korban Dikepung

Cakrawala News – 11 September 2026 | Seorang pria Palestina ditembak Israel di Aqraba, keluarga menyebut korban dikepung sebelum insiden terjadi. Peristiwa ini menjadi bagian dari rangkaian kekerasan yang terus berlangsung di Tepi Barat yang diduduki, menyusul tewasnya sejumlah warga sipil Palestina dalam berbagai serangan yang terjadi pada awal September 2026.

Insiden di Aqraba menambah daftar panjang kekerasan yang menimpa warga Palestina di Tepi Barat. Keluarga korban menyatakan bahwa situasi saat kejadian berlangsung dalam kondisi yang menegangkan, dengan korban berada dalam posisi terkepung sebelum penembakan terjadi.

Kasus ini muncul bersamaan dengan dua peristiwa besar lain yang sama-sama menewaskan warga sipil Palestina. Pada Rabu (2/9/2026), dua remaja Palestina tewas ditembak di desa al-Mughayyir, Tepi Barat. Korban diidentifikasi sebagai Khalil Abu Alia (16) dan Omar al-Nassan (19).

Warga setempat dan aktivis Israel menuturkan, keduanya tewas saat sekelompok pemukim ilegal memasuki desa dengan pengawalan polisi dan militer. Menurut keterangan tersebut, rombongan itu datang untuk mengambil puluhan ekor domba dari sebuah rumah milik warga Palestina.

Abu Alia dilaporkan sedang berdiri di ambang pintu rumahnya ketika ia ditembak di bagian leher oleh seorang penembak jitu yang mengambil posisi di atap bangunan. Sementara itu, al-Nassan ditembak dua kali, dengan tembakan kedua mengenai punggungnya. Keduanya dinyatakan meninggal sebelum sempat dibawa ke rumah sakit.

Juru bicara militer Israel menyatakan, polisi, tentara, dan pemukim Israel memasuki desa al-Mughayyir untuk mengambil domba milik para pemukim dari rumah warga Palestina. Menurut klaim tersebut, tidak ada bukti kepemilikan ataupun dugaan pencurian yang disertakan.

Pasukan Israel kemudian melepaskan tembakan setelah warga Palestina mencegah pengambilan domba tersebut dengan melempar batu dan batako. “Pasukan merespons dengan menembaki para provokator utama guna melenyapkan ancaman. Tembakan dipastikan mengenai sasaran,” ujar juru bicara militer Israel.

Laporan menyebutkan bahwa Abu Alia tewas akibat tembakan tentara. Namun, belum jelas siapa pelaku penembakan al-Nassan. Perbedaan keterangan mengenai siapa yang menembak kedua korban masih menjadi persoalan yang belum tuntas dijelaskan oleh pihak berwenang.

Kecaman PBB dan Data Korban di Tepi Barat

Perserikatan Bangsa-Bangsa turut mengecam pembunuhan dua warga sipil Palestina di al-Mughayyir. Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, pada Kamis (3/9/2026) menyatakan keprihatinan mendalam atas meningkatnya kekerasan yang dilakukan oleh para pemukim Israel.

“Kami menyatakan keprihatinan yang sangat besar atas kekerasan yang terus dilakukan oleh para pemukim, yang tampaknya bebas melakukan serangan membabi-buta terhadap warga sipil Palestina, harta benda mereka dan cara hidup mereka,” kata Dujarric.

Ia pun mendesak otoritas Israel untuk mengambil langkah-langkah guna mencegah kekerasan lebih lanjut serta meminta pertanggungjawaban pihak-pihak yang terlibat. Seruan ini menegaskan bahwa kekerasan di Tepi Barat bukan hanya persoalan lokal, melainkan telah menjadi perhatian internasional.

Menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), sejak awal 2026, sedikitnya 79 warga Palestina, termasuk 19 anak-anak, telah tewas di Tepi Barat yang diduduki akibat serangan pemukim maupun pasukan Israel. Sebanyak 1.870 orang lainnya juga mengalami luka-luka.

Angka tersebut menunjukkan bahwa kekerasan di Tepi Barat terus berlangsung secara sistematis sepanjang tahun. Kasus pria Palestina ditembak Israel di Aqraba, keluarga sebut korban dikepung, menjadi salah satu contoh terbaru dari pola yang sama.

Gelombang Kekerasan di Gaza dan Lebanon

Di Jalur Gaza, serangan Israel menewaskan sedikitnya empat orang pada Minggu (6/9/2026). Dua di antaranya merupakan ayah dan anak. Kepala Rumah Sakit Al Shifa, Mohamed Abu Selmia, mengatakan bahwa serangan udara Israel menghantam sebuah kendaraan di bagian barat Kota Gaza.

Serangan tersebut menewaskan Youssef Akila dan putrinya yang berusia 8 tahun, Wafaa, serta melukai enam orang lainnya. Dalam sebuah pernyataan, juru bicara militer Israel mengklaim bahwa pasukannya menargetkan seorang anggota Hamas. Ia menambahkan bahwa pihaknya masih menyelidiki dampak dari serangan tersebut.

Secara terpisah, serangan Israel juga menewaskan seorang pria di dekat perusahaan telekomunikasi di sebelah timur Kota Gaza. Sementara itu, serangan tank Israel terhadap sebuah sekolah yang menjadi tempat pengungsian warga Palestina menewaskan seorang anak perempuan berusia 7 tahun.

Serangan-serangan ini merupakan pelanggaran terbaru yang dilakukan Israel terhadap perjanjian gencatan senjata di Jalur Gaza yang berlaku sejak 10 Oktober 2025. Menurut data terbaru Kementerian Kesehatan Gaza, sedikitnya 1.344 warga Palestina tewas dan 4.464 lainnya terluka selama gencatan senjata tersebut.

Secara keseluruhan, lebih dari 73 ribu warga Palestina tewas dan 174 ribu lainnya terluka sejak perang Israel di Gaza dimulai pada Oktober 2023. Sebagian besar korban tewas merupakan perempuan dan anak-anak.

Pada Minggu, ratusan warga Palestina menggelar pemakaman massal bagi sekitar 100 jenazah yang baru ditemukan dari reruntuhan bangunan di kawasan Zeitoun, Kota Gaza. Sebagian besar jenazah tersebut merupakan anggota keluarga Malaka, yang tewas dalam serangan udara Israel pada November 2023.

Jurnalis Al Jazeera, Ghazi al-Aloul, menyatakan bahwa yang ditemukan hanyalah sisa-sisa tulang belulang dan barang-barang pribadi yang mungkin berada bersama jenazah, terutama milik anak-anak. Ia menambahkan bahwa tidak ada satu pun jenazah utuh yang berhasil ditemukan di lokasi tersebut, karena militer Israel kerap menghambat operasi evakuasi jenazah di seluruh wilayah Gaza.

Serangan Israel juga terus berlanjut di Lebanon meski adanya gencatan senjata. Sedikitnya empat orang tewas dan sebuah rumah sakit hancur total akibat serangan udara Israel di wilayah selatan Lebanon pada Minggu.

Rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa situasi di Gaza, Tepi Barat, dan Lebanon masih jauh dari stabil. Kasus pria Palestina ditembak Israel di Aqraba, keluarga sebut korban dikepung, menegaskan bahwa kekerasan terhadap warga sipil terus terjadi di berbagai wilayah, sementara upaya perlindungan dan pertanggungjawaban masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan.

Perkembangan selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah bagaimana otoritas Israel menindaklanjuti seruan PBB terkait kekerasan pemukim, serta apakah gencatan senjata di Gaza dan Lebanon dapat dipertahankan di tengah gelombang serangan yang terus berlangsung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *