Cakrawala News – 08 November 2026 | Nilai tukar dolar Amerika Serikat (USD) terhadap rupiah pada perdagangan akhir September 2026 masih menjadi perhatian pelaku pasar, dengan sejumlah bank besar Tanah Air mematok kurs di kisaran Rp17.900-an. Berdasarkan pantauan pada Rabu, 30 September 2026, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menetapkan harga beli dolar AS sebesar Rp17.905 dan harga jual Rp17.925 di e-rate pada pukul 09.11 WIB.
Angka tersebut mencerminkan posisi rupiah yang masih bertahan di level tinggi, setelah sehari sebelumnya sempat menguat pada pembukaan perdagangan. Data pasar spot menunjukkan pergerakan yang relatif terbatas, dengan pelaku pasar mencermati sejumlah faktor eksternal maupun domestik yang memengaruhi arah nilai tukar.
Rincian Kurs di Empat Bank Besar
Selain melalui kanal e-rate, BCA juga menetapkan kurs dolar AS untuk transaksi TT counter dan bank notes. Pada TT counter, harga beli dipatok Rp17.795 dan harga jual Rp18.075. Sementara itu, untuk bank notes, harga beli dan harga jual masing-masing ditetapkan sebesar Rp17.795 dan Rp18.075.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menetapkan harga beli dan harga jual dolar AS untuk special rate masing-masing sebesar Rp17.915 dan Rp17.945 per dolar AS. Di TT counter, Bank Mandiri mematok harga beli Rp17.750 dan harga jual Rp18.050. Adapun untuk bank notes, harga beli ditetapkan Rp17.750 per dolar AS dan harga jual Rp18.050.
Perbedaan antara kurs e-rate atau special rate dengan kurs TT counter dan bank notes merupakan hal umum di industri perbankan. Kurs transaksional untuk uang tunai biasanya lebih lebar karena mempertimbangkan biaya pengelolaan fisik valuta asing, sementara kurs elektronik lebih tipis lantaran digunakan untuk kebutuhan transfer atau transaksi nontunai.
Rupiah Bergerak di Tengah Tekanan Global
Pergerakan nilai tukar rupiah sepanjang periode ini tidak lepas dari dinamika ekonomi global. Pada awal September 2026, rupiah sempat tercatat menguat terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan. Namun, penguatan tersebut berlangsung di tengah level kurs yang secara historis masih berada di posisi tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Tekanan terhadap rupiah turut dipengaruhi oleh kondisi pasar tenaga kerja Amerika Serikat dan ekspektasi kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Fed. Data ketenagakerjaan AS menjadi salah satu indikator yang dicermati investor karena berkaitan dengan ruang gerak The Fed dalam menentukan arah suku bunga. Ketika data pasar tenaga kerja AS lebih kuat dari perkiraan, daya tarik aset berdenominasi dolar AS cenderung meningkat, yang pada gilirannya dapat menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain itu, kenaikan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik turut membalikkan ekspektasi inflasi global. Kepala Ekonom Bank Danamon, Irman Faiz, memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia berada di sekitar 1,5 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2026 dan berpotensi melebar menjadi 1,6 persen pada 2027. Angka tersebut jauh lebih dalam dibandingkan defisit 0,1 persen yang tercatat pada 2025.
Menurut Irman, pelebaran defisit transaksi berjalan menunjukkan Indonesia masih membutuhkan pembiayaan dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan dolar AS. Kondisi itu dinilai dapat menjadi salah satu faktor yang melemahkan nilai tukar rupiah. Kenaikan biaya impor energi disebut berpotensi memperlebar defisit neraca perdagangan minyak dan gas.
Rekor Sepanjang Sejarah
Dalam konteks yang lebih luas, posisi rupiah terhadap dolar AS pada 2026 tercatat menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah, yakni sekitar Rp18.038 per dolar AS. Angka itu menjadi level terlemah rupiah yang pernah tercatat, melampaui titik-titik kritis pada masa krisis moneter 1998 dan masa pandemi COVID-19.
Perjalanan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memang mengalami perubahan signifikan dari masa ke masa, dipengaruhi kondisi politik, ekonomi global, dan kebijakan pemerintah sejak era Presiden Soekarno hingga Presiden Prabowo Subianto. Setiap periode kepemimpinan meninggalkan jejak tersendiri dalam dinamika kurs, mulai dari kebijakan devaluasi hingga upaya stabilisasi di tengah gejolak pasar.
Bagi masyarakat, pergerakan kurs dolar AS di bank-bank besar seperti BCA, Bank Mandiri, BRI, dan BNI berdampak langsung pada kebutuhan valuta asing, baik untuk keperluan pendidikan, perjalanan ke luar negeri, maupun transaksi impor. Calon pengguna jasa valas disarankan membandingkan kurs antarbank dan memperhatikan jenis transaksi, apakah melalui e-rate, TT counter, atau bank notes, karena selisih harga beli dan jual dapat cukup signifikan.
Ke depan, pasar akan terus mencermati rilis data ekonomi AS, arah kebijakan The Fed, serta perkembangan harga energi yang memengaruhi neraca perdagangan Indonesia. Kombinasi faktor eksternal dan domestik tersebut akan menentukan apakah rupiah mampu menstabilkan posisinya atau justru menghadapi tekanan lanjutan terhadap dolar AS.












