Kapal Induk Garibaldi Bakal Dinamakan KRI Sriwijaya, TNI AL Tunggu Persetujuan Pimpinan

Kapal Induk Garibaldi Bakal Dinamakan KRI Sriwijaya, TNI AL Tunggu Persetujuan Pimpinan
Kapal Induk Garibaldi Bakal Dinamakan KRI Sriwijaya, TNI AL Tunggu Persetujuan Pimpinan

Cakrawala News – 12 September 2026 | Kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi bakal dinamakan KRI Sriwijaya [titlebase] setiba di Indonesia. Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Tunggul menyatakan penamaan resmi kapal induk eks Angkatan Laut Italia itu masih dalam proses administrasi dan menunggu persetujuan dari pimpinan atas.

“Untuk penamaan resmi masih dalam proses administrasi dan persetujuan dari pimpinan atas,” kata Tunggul di Jakarta, Jumat (11/9/2026).

Ia tidak menjelaskan secara rinci siapa pimpinan yang dimaksud, apakah di lingkungan TNI AL, Menteri Pertahanan RI, atau Presiden RI. Tunggul meminta publik menunggu pengumuman resmi terkait nama kapal induk pertama Indonesia tersebut.

Sebelumnya beredar kabar bahwa Garibaldi akan dinamakan KRI Gajah Mada. Namun, sejumlah pihak kemudian menyebut kapal itu bakal dinamakan KRI Sriwijaya. Hingga kini, TNI AL belum mengonfirmasi nama final yang akan dipakai.

Pelayaran Menuju Tanah Air

Kabar penamaan KRI Sriwijaya muncul di tengah perjalanan panjang kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi menuju Indonesia. Berdasarkan informasi terakhir pada Selasa malam (8/9/2026), kapal tersebut sudah berada di wilayah Laut Arab.

Kepala Staf TNI AL (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali mengatakan kapal induk itu akan berlabuh di Kolombo, Sri Lanka sebelum melanjutkan perjalanan ke Jakarta.

“Garibaldi ini sekarang akan sandar di Kolombo dan akan melanjutkan perjalanan ke Jakarta,” kata Ali saat ditemui di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal), Jakarta Selatan, Rabu (9/9/2026).

Selama berada di Sri Lanka, kapal induk pertama milik Indonesia itu dikawal oleh dua kapal perang milik Angkatan Laut Italia. Setelah kapal berangkat dan memasuki wilayah laut Indonesia, kapal perang TNI AL akan menjemput di perbatasan dan mengawal hingga sampai di dermaga Jakarta.

“Akan ada pengawalan minimal dua KRI Frigate Indonesia dan pesawat udara Pusat Penerbang AL (Puspenerbal) pada saat memasuki perairan Indonesia, sekaligus unsur udara mencoba on board di Garibaldi,” kata Tunggul di Jakarta, Selasa (8/9/2026).

Jika seluruh rangkaian pelayaran berjalan lancar, kapal induk tersebut diperkirakan tiba di Jakarta pada 17 September 2026.

Fokus Misi Kemanusiaan

KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali memastikan kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi tidak perlu dikawal kapal perang saat menjalankan operasi militer selain perang (OMSP) di Indonesia.

“Kalau untuk OMSP, operasi kemanusiaan, itu tidak perlu dikawal,” kata Ali.

Menurut Ali, sejak awal TNI AL memang ingin memfokuskan penggunaan kapal induk untuk misi kemanusiaan seperti penanggulangan bencana. Dengan kapasitas muatan Garibaldi yang besar, TNI AL dinilai mampu mengirim bantuan logistik dan pasukan ke daerah bencana dalam jumlah banyak.

Namun, Ali tidak menutup kemungkinan jika ke depannya kapal induk itu dipakai untuk operasi militer di dalam maupun luar negeri.

“Kalau untuk kepentingan operasi militer untuk perang (OMP), kemungkinan besar pasti dikawal oleh fregat-fregat yang sudah kita miliki,” ujarnya.

Sesuai keterangan yang telah ditegaskan Presiden Prabowo Subianto, kapal induk tersebut akan menjadi kapal induk untuk helikopter dan drone yang bisa menampung helikopter kelas menengah. Tunggul menyebut helikopter tersebut bisa mengangkut 4-5 ton air sehingga diharapkan dapat segera merapat ke titik api dan membantu penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara cepat.

Keterangan itu disampaikan Presiden Prabowo dalam Rapat Terbatas Perkembangan Penanganan Bencana Alam di Istana Merdeka pada Senin (7/9/2026). Prabowo menyebut kapal induk itu akan menjadi pangkalan helikopter yang fungsinya memperkuat penanganan bencana alam.

Catatan Pengamat

Co-Founder Jakarta Defence Society (JDS) Ade P. Marboen menilai rencana TNI AL memperkuat kekuatan maritim Indonesia melalui kapal induk ringan ITS Giuseppe Garibaldi merupakan langkah tepat. Menurutnya, Indonesia sudah seharusnya memperkuat kekuatan maritim mengingat statusnya sebagai negara kepulauan terbesar di Asia Pasifik.

Dengan kapal induk, menurut Marboen, TNI AL dapat dengan mudah mengoperasikan armada yang dapat menampung kekuatan udara maupun alat utama sistem senjata (alutsista) tempur. Kapal induk juga dapat mendukung TNI AL membawa logistik untuk OMSP.

Meski demikian, Marboen menekankan TNI AL perlu menyiapkan beberapa kapal pendamping untuk mengawal kapal induk saat beroperasi. Ia mencontohkan beberapa negara yang tidak pernah membiarkan kapal induk beroperasi sendiri, melainkan selalu berada dalam satu gugus tugas yang diiringi dua kapal permukaan, satu kapal selam, dan satu kapal suplai.

Marboen juga menyoroti jangka pemakaian kapal induk yang seharusnya sudah pensiun pada 1 Oktober 2024 setelah dipakai Angkatan Laut Italia. Walau pihak Fincantieri sebagai galangan kapal akan memperbaiki kapal sehingga dapat beroperasi selama 15 sampai 20 tahun ke depan, menurut dia, TNI tetap harus mempertimbangkan kualitas dari kapal tersebut.

“Dengan masa pakai 15-20 tahun, berarti 3-4 periode kepresidenan sehingga siapapun yang menjadi presiden harus memegang komitmen keras menyediakan anggaran operasional, pemeliharaan dan perawatan yang cukup,” kata Marboen.

Alutsista yang diterima dari Angkatan Laut Italia lewat skema hibah tersebut diyakini bisa memperkuat kemampuan Pemerintah Indonesia dalam menghadapi karhutla dan berbagai bencana alam yang kerap terjadi.

Publik kini menantikan pengumuman resmi soal nama kapal induk pertama Indonesia. Jika tidak ada hambatan, Garibaldi akan merapat di Jakarta pada 17 September 2026, bersamaan dengan kepastian apakah kapal itu benar-benar menyandang nama KRI Sriwijaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *