Cakrawala News – 12 September 2026 | Kemhan: Sudan tertarik beli senjata Pindad menjadi salah satu sorotan dalam kunjungan Menteri Pertahanan Sudan, H.E. Letnan Jenderal Hassan Daoud Kabroun Kayan, ke Kementerian Pertahanan RI di Jakarta, Rabu (9/9). Ketertarikan tersebut muncul setelah Menhan Sudan melihat langsung sejumlah senjata ringan yang diproduksi PT Pindad dalam pertemuan tersebut.
Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, mengatakan pihak PT Pindad turut menjelaskan karakteristik sejumlah senjata yang diproduksi di Indonesia kepada Menhan Sudan.
“Tadi sewaktu hadir, Pak Menhan Sudan juga melihat secara langsung beberapa senjata ringan yang disampaikan oleh PT Pindad,” kata Rico kepada wartawan di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Rabu (9/9).
Ketika ditanya apakah Menhan Sudan tertarik dengan produk tersebut, Rico membenarkannya. Namun, ia menegaskan rencana kerja sama tersebut belum masuk pada tahap kesepakatan pembelian senjata.
Kerja Sama Industri Pertahanan Masih Dibahas
Menurut Rico, kerja sama industri pertahanan menjadi salah satu pembahasan dalam pertemuan Menhan RI dengan Menhan Sudan. Selain industri pertahanan, Indonesia juga menawarkan kerja sama di bidang pendidikan dan pelatihan kepada Sudan.
“Tadi sudah saya sampaikan, beberapa hal kaitannya dengan pendidikan, pelatihan, kemudian kaitannya dengan industri pertahanan juga sudah kita tawarkan kepada Menhan Sudan,” jelas Rico.
Rico menyebut berbagai peluang kerja sama pertahanan akan dibahas lebih lanjut melalui working group dan disusun dalam kerangka Defence Cooperation Arrangement (DCA). Kerangka itu nantinya menjadi payung bagi bentuk kerja sama yang disepakati kedua negara.
Ia menjelaskan Indonesia dan Sudan saat ini belum memiliki dokumen formal kerja sama pertahanan bilateral. Karena itu, implementasi kerja sama, termasuk terkait industri pertahanan, masih membutuhkan pembahasan dan kajian lebih lanjut.
“Sedang berproses, butuh waktu. Tentunya nanti dari working group tersebut akan ditentukan kerja sama-kerja sama di bidang pertahanan apa saja,” ujarnya.
Dengan demikian, ketertarikan Sudan terhadap senjata produksi Pindad belum serta-merta berujung pada transaksi. Pemerintah Indonesia masih menempatkan pembahasan ini sebagai bagian dari penjajakan kerja sama pertahanan yang lebih luas antara kedua negara.
Posisi PT Pindad dalam Industri Pertahanan Nasional
PT Pindad merupakan perusahaan milik negara yang bergerak di bidang industri pertahanan dan dikenal memproduksi berbagai senjata ringan untuk kebutuhan TNI serta sejumlah negara sahabat. Produk perusahaan ini kerap menjadi bagian dari diplomasi pertahanan Indonesia dalam berbagai forum bilateral maupun multilateral.
Dalam konteks kunjungan Menhan Sudan, penjelasan mengenai karakteristik senjata Pindad menjadi salah satu cara memperkenalkan kemampuan industri pertahanan dalam negeri. Namun, belum ada rincian mengenai jenis senjata yang dilihat maupun potensi nilai transaksi dari pertemuan tersebut.
Kementerian Pertahanan juga belum mengungkap jadwal pasti pertemuan working group yang akan membahas kerja sama bilateral Indonesia-Sudan. Semua masih dalam tahap proses dan membutuhkan waktu sebelum menghasilkan kesepakatan yang mengikat.
Yang Perlu Diperhatikan ke Depan
Perkembangan ini menunjukkan minat Sudan terhadap produk senjata Pindad menjadi pintu masuk bagi pembahasan kerja sama pertahanan yang lebih menyeluruh. Selain jual beli alat utama sistem persenjataan, kerja sama pendidikan dan pelatihan juga dibuka sebagai bagian dari hubungan bilateral.
Meski demikian, publik perlu menunggu hasil pembahasan working group dan penyusunan Defence Cooperation Arrangement untuk mengetahui bentuk konkret kerja sama yang akan dijalankan. Sejauh yang disampaikan Kemhan, belum ada kesepakatan pembelian senjata antara Indonesia dan Sudan.
Kemhan: Sudan tertarik beli senjata Pindad tetap menjadi informasi awal yang penting, tetapi kelanjutannya akan sangat bergantung pada proses diplomasi dan kajian teknis kedua negara. Perkembangan berikutnya layak dicermati, terutama apakah ketertarikan tersebut berlanjut menjadi kontrak kerja sama pertahanan yang resmi.








