Cakrawala News – 17 September 2026 | Kualitas udara di Pontianak, Kalimantan Barat, berada pada level berbahaya setelah indeks kualitas udara atau AQI terpantau menembus kisaran 1.000 hingga 2.000 AQI US pada 15 September 2026. Kondisi ekstrem itu muncul ketika asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti sejumlah wilayah Kalbar, sekaligus menjadi alarm bagi tingginya angka infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang tercatat mencapai 165.727 kasus.
Data tersebut disampaikan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Kalbar berdasarkan pemantauan IQAir yang mereka kutip. Angka AQI Pontianak itu jauh melampaui ambang aman dan menempatkan masyarakat pada risiko kesehatan serius, terutama bagi kelompok rentan seperti bayi, balita, dan lansia.
Direktur Eksekutif WALHI Kalbar, Sri Hartini, menegaskan bahwa pemerintah perlu mengubah fokus penanganan karhutla. Menurutnya, penanganan tidak cukup hanya berorientasi pada pemadaman api, tetapi juga harus memastikan keselamatan masyarakat yang terdampak asap.
“Sudah dua bulan masyarakat harus menghirup udara yang tidak sehat,” kata Sri Hartini, Rabu (16/9/2026).
Angka ISPA dan Sebaran Kasus
WALHI Kalbar mengutip data Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan Kalbar melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) yang mencatat 165.727 kasus ISPA sepanjang Januari hingga 22 Agustus 2026. Bagi WALHI, tingginya kasus ISPA tersebut semestinya menjadi alarm bagi pemerintah dalam menangani dampak karhutla.
“Angka tersebut seharusnya menjadi alarm keras bagi pemerintah. Penanganan karhutla tidak boleh berhenti pada penghitungan titik panas, luas lahan terbakar, ataupun jumlah personel dan peralatan yang dikerahkan. Sebab, dampak asap sudah masuk ke persoalan kesehatan masyarakat,” ujar Sri.
Per 3 September 2026, data SKDR juga mencatat 643 kasus ISPA berdasarkan gender, terdiri dari 343 kasus laki-laki dan 300 perempuan. Kasus tersebut tersebar di sejumlah kabupaten dan kota, dengan jumlah tertinggi berada di Kubu Raya.
Pada kelompok bayi dan balita, tercatat 178 kasus ISPA. Kubu Raya mencatat kasus tertinggi dengan 30 kasus, disusul Landak 28 kasus dan Sambas 19 kasus. Menurut Sri, kondisi ini menunjukkan dampak karhutla sudah menyentuh persoalan kesehatan masyarakat.
Keterbatasan Data dan Akses Layanan Kesehatan
WALHI juga mengingatkan angka kasus ISPA yang tercatat melalui SKDR belum tentu menggambarkan keseluruhan warga yang terdampak asap. Menurut Sri, sistem tersebut hanya mencatat kasus yang diperiksa dan dilaporkan, sementara akses layanan kesehatan di sejumlah wilayah dinilai masih terbatas.
Artinya, beban kesehatan akibat kabut asap berpotensi lebih besar dari angka yang terdata. Wilayah-wilayah dengan fasilitas kesehatan terbatas dan jarak tempuh jauh menjadi titik paling rawan karena warga sulit mendapatkan pemeriksaan dan penanganan dini.
Kondisi kualitas udara yang memburuk turut memperkuat kekhawatiran tersebut. Ketika AQI berada di level berbahaya, paparan partikel halus dalam asap dapat memicu gangguan pernapasan, memperparah penyakit paru dan jantung, serta meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan.
Desakan Perubahan Pendekatan
WALHI Kalbar menilai pendekatan pemadaman saja tidak lagi memadai. Organisasi lingkungan itu mendorong pemerintah untuk menempatkan perlindungan kesehatan warga sebagai bagian utama dari respons karhutla, termasuk memastikan informasi kualitas udara yang mudah diakses dan langkah mitigasi bagi kelompok rentan.
Seruan tersebut sejalan dengan situasi dua bulan terakhir, ketika masyarakat disebut terus menghirup udara tidak sehat. Dampak karhutla pun tidak lagi sekadar persoalan lingkungan, tetapi telah merambah ke ranah kesehatan publik, pendidikan, dan aktivitas ekonomi warga.
Di sisi lain, data kualitas udara dari pemantauan independen seperti IQAir menjadi rujukan penting di tengah kebutuhan informasi yang cepat. Pembacaan AQI yang sangat tinggi di Pontianak menunjukkan bahwa masalah asap tidak bisa dipandang sebagai peristiwa musiman yang akan hilang sendiri.
Pemerintah pusat dan daerah masih menghadapi pekerjaan rumah besar: memastikan pemadaman berjalan efektif sekaligus melindungi warga dari paparan asap. Tanpa langkah itu, lonjakan kasus ISPA dan memburuknya kualitas udara berpotensi berulang pada periode-periode berikutnya.
Bagi masyarakat, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa informasi AQI dan langkah pencegahan sederhana, seperti mengurangi aktivitas luar ruang saat udara memburuk serta menggunakan pelindung pernapasan, tetap relevan. Yang paling dinanti kini adalah respons kebijakan yang menyeluruh agar dampak karhutla tidak terus menambah beban kesehatan warga Kalbar.
