Daerah  

Banjir dan Longsor Terjang Kota Batu, Jalan Terangkat hingga Plengsengan Ambrol

Banjir dan Longsor Terjang Kota Batu, Jalan Terangkat hingga Plengsengan Ambrol
Banjir dan Longsor Terjang Kota Batu, Jalan Terangkat hingga Plengsengan Ambrol

Cakrawala News – 30 Oktober 2026 | Bencana banjir luapan dan tanah longsor melanda sejumlah titik di Kota Batu, Jawa Timur, pada Rabu (28/10), akibat hujan dengan intensitas tinggi yang disertai penyumbatan saluran drainase dan sungai oleh sampah serta akar bambu. Kerusakan paling menonjol adalah permukaan jalan yang terangkat dan plengsengan yang ambrol di beberapa lokasi, selain rumah warga yang terendam dan aktivitas lalu lintas yang sempat terganggu.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu, Suwoko, menjelaskan bahwa kerusakan jalan terjadi di Jalan Diponegoro Nomor 74, RT 04 RW 01, Dusun Junwatu, Desa Junrejo. Arus air yang tidak tertampung drainase mengangkat permukaan jalan sepanjang sekitar 10 meter dengan lebar lima meter.

Dampak yang lebih besar tercatat di Dusun Krajan Lor, Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo. Hujan berintensitas tinggi disertai kapasitas drainase yang tidak memadai menyebabkan plengsengan sepanjang 35 meter dengan tinggi empat meter longsor. Material longsoran menimpa kandang ayam dan area taman milik warga.

Kerusakan juga terjadi di Jalan Mangga, Dusun Gondorejo, Desa Oro-Oro Ombo, Kecamatan Batu. Plengsengan dan pagar tembok milik Golden Tulip ambrol sepanjang sekitar 30 meter dengan tinggi tujuh meter.

Tujuh Titik Utama Terdampak

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Batu, Doddy Faturrachman, mengungkapkan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada sore hari saat hujan intensitas tinggi mengguyur wilayah itu. Berdasarkan hasil asesmen Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kota Batu, tercatat tujuh titik lokasi utama yang terdampak, dengan rincian empat titik banjir luapan dan tiga titik tanah longsor.

“Banjir luapan dan tanah longsor terjadi di beberapa titik akibat hujan intensitas tinggi serta saluran drainase yang kurang optimal dan tersumbat sampah. Dampaknya mulai dari jalanan terangkat, rumah warga terendam, hingga tempat usaha dan kandang ayam terdampak,” ujar Doddy, Kamis (29/10).

Salah satu titik banjir luapan berada di Jalan Diponegoro, Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo. Air setinggi kurang lebih 15 sentimeter meluber ke badan jalan dengan arus deras akibat drainase yang tersumbat sampah di empat titik, sehingga arus lalu lintas sempat terganggu.

Meski menimbulkan banyak kerusakan material, Doddy menyatakan tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam rentetan kejadian tersebut. Sejak menerima laporan, TRC BPBD Kota Batu bersama perangkat desa, TNI-Polri, relawan, dan masyarakat telah melakukan penanganan darurat, seperti pembersihan material longsor hingga sampah yang terbawa banjir ke jalan.

Rekomendasi Penanganan Pasca Bencana

Dari hasil asesmen, BPBD Kota Batu merekomendasikan sejumlah langkah penanganan pasca bencana kepada instansi terkait, mulai dari tingkat desa hingga pemerintah kota. Langkah tersebut mencakup normalisasi dan pelebaran aliran drainase, pemberian bantuan logistik bagi warga terdampak, serta perbaikan infrastruktur yang rusak.

BPBD juga mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan tidak membuang sampah sembarangan, khususnya ke sungai atau saluran drainase, guna mencegah bencana serupa terulang.

Di tengah upaya pemulihan itu, Kota Batu juga dihadapkan pada persoalan lingkungan lain yang kembali disuarakan warga, yakni keberadaan lahan eks Hotel De Rayja. Persoalan ini mencuat setelah kepemilikan lahan berpindah ke tangan pemilik baru pada 2025, sehingga warga khawatir aktivitas di lahan tersebut mengancam sumber mata air Umbul Gemulo.

Direktur Eksekutif WALHI Jawa Timur, Pradipta Indra Ariono, menjelaskan bahwa sumber air Gemulo merupakan salah satu sumber mata air terbesar di Kota Batu dengan debit mencapai 160 liter per detik dan menjadi sumber penghidupan utama warga. Sumber itu juga diandalkan PDAM Kota Batu untuk kebutuhan air bersih sekitar 19 ribu konsumen.

Menurut Indra, berdasarkan kajian historis, lokasi Umbul Gemulo berada tepat di atas reservoir atau gentong air. Aktivitas pengeboran atau kegiatan yang menembus lapisan tanah di lokasi tersebut berpotensi memicu kebocoran parah yang berujung pada krisis air bersih. Warga pun mendorong adanya solusi bersama pemilik baru, salah satunya melalui pembelian lahan oleh pemerintah kota.

Rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa persoalan di Kota Batu tidak berhenti pada penanganan darurat bencana. Perbaikan drainase, pengelolaan sampah, dan pengawasan tata ruang di kawasan resapan air menjadi pekerjaan rumah yang perlu diperhatikan agar risiko banjir maupun ancaman terhadap sumber mata air dapat ditekan di masa mendatang.

Exit mobile version