Bernard Arnault Tersingkir dari 10 Orang Terkaya Dunia, Miliarder Teknologi AS Kuasai Puncak

Bernard Arnault Tersingkir dari 10 Orang Terkaya Dunia, Miliarder Teknologi AS Kuasai Puncak
Bernard Arnault Tersingkir dari 10 Orang Terkaya Dunia, Miliarder Teknologi AS Kuasai Puncak

Cakrawala News – 14 September 2026 | Bernard Arnault tersingkir dari 10 orang terkaya di dunia, miliarder teknologi AS kini kuasai puncak, menandai pergeseran besar dalam peta kekayaan global. Pendiri sekaligus chairman LVMH itu kini berada di luar jajaran elite setelah kekayaannya turun menjadi USD 143 miliar atau sekitar Rp2.515 triliun pada Kamis (10/9/2026), dengan kurs Rp17.590 per dolar AS. Posisi tersebut membuatnya berada di bawah Warren Buffett, investor berusia 96 tahun yang memimpin Berkshire Hathaway.

Dilansir dari Bloomberg, Jumat (11/9/2026), penurunan itu membuat seluruh 10 posisi teratas Bloomberg Billionaires Index untuk pertama kalinya sejak indeks tersebut diluncurkan pada 2012 ditempati warga Amerika Serikat. Elon Musk berada jauh di posisi pertama dengan kekayaan USD 918,8 miliar atau sekitar Rp16.166 triliun, disusul Larry Page, Jeff Bezos, Sergey Brin, dan Michael Dell. Posisi Arnault kini hanya sedikit di atas Jim Walton, pewaris generasi kedua Walmart.

Tekanan dari Pasar Mewah hingga Timur Tengah

Perubahan tersebut memperlihatkan betapa kuatnya kenaikan nilai perusahaan teknologi AS dalam beberapa tahun terakhir. Indeks S&P 500 telah naik 11 persen sepanjang tahun ini, terutama didorong saham perusahaan teknologi yang mendapat keuntungan dari permintaan terkait kecerdasan buatan. Pada saat yang sama, kekayaan Arnault justru menyusut USD 65 miliar atau sekitar Rp1.143 triliun sejak awal tahun, penurunan terbesar di antara 500 orang terkaya dalam indeks Bloomberg.

Tekanan terhadap Arnault tidak hanya berasal dari pasar saham. Perang di Timur Tengah menekan bisnis LVMH dengan mengurangi permintaan di pusat-pusat belanja seperti Dubai. Dampaknya menjalar ke berbagai merek dalam portofolionya, mulai dari Dior, Louis Vuitton, dan Tiffany hingga produk minuman premium seperti sampanye Dom Pérignon dan cognac Hennessy.

LVMH juga menghadapi hambatan di Tiongkok, salah satu pasar penting bagi industri barang mewah. Sengketa merek dagang dengan produsen teh lokal ikut mengganggu penjualan. Kondisi itu memperburuk perlambatan yang sebelumnya sudah menekan permintaan produk mewah di negara tersebut, sekaligus membuat pemulihan LVMH tidak secepat periode setelah pembatasan pandemi berakhir.

Jejak Arnault di Puncak Kekayaan Dunia

Posisi Arnault sebenarnya sempat menunjukkan betapa besarnya pengaruh industri mewah terhadap peta kekayaan dunia. Dia masuk 10 besar sejak 22 Maret 2017 dan bahkan sempat naik ke posisi pertama secara singkat mulai Desember 2022. Dia merupakan orang pertama dari luar Amerika Utara yang mencapai puncak tersebut sekaligus satu-satunya taipan industri konsumen yang pernah melakukannya.

Masa keemasan itu berlangsung ketika konsumen Tiongkok masih menjadi penggerak utama penjualan barang mewah. Saham LVMH mencapai rekor pada April 2023, tetapi kemudian menghadapi permintaan yang melemah di Tiongkok, ketidakpastian akibat tarif AS, dan penurunan konsumsi alkohol di sejumlah pasar. Perubahan kondisi tersebut ikut memangkas nilai kekayaan pribadi Arnault secara tajam.

Kejatuhan Arnault dari jajaran 10 besar menjadi penanda bahwa Bernard Arnault tersingkir dari 10 orang terkaya di dunia, miliarder teknologi AS kini kuasai puncak, sejalan dengan gelombang investasi kecerdasan buatan yang mengangkat nilai perusahaan teknologi. Laporan Altrata yang dikutip dari CNBC, Senin (7/9/2026), mencatat kekayaan miliarder dunia mencapai rekor USD 15,1 triliun pada 2025. Jumlah miliarder dunia mencapai 3.795 orang, naik 8,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan menjadi kenaikan tahunan terbesar dalam lima tahun terakhir.

Altrata mengidentifikasi 150 perusahaan terbuka yang memberikan kontribusi terbesar terhadap kekayaan para miliarder. Perusahaan yang menginvestasikan sedikitnya USD 30 juta untuk AI dalam lima tahun terakhir mencatat pertumbuhan kapitalisasi pasar 23 persen lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang tidak melakukan investasi serupa pada periode 2024-2025.

Kepala Thought Leadership and Analytics Altrata, Maya Imberg, menilai euforia AI di Wall Street turut memperlebar kesenjangan kekayaan di kalangan miliarder. Laporan tersebut mencatat ada 29 supermiliarder, yakni individu dengan kekayaan lebih dari USD 50 miliar. Total kekayaan kelompok ini mencapai USD 4,1 triliun atau 27 persen dari seluruh kekayaan miliarder dunia. Jumlah supermiliarder meningkat tajam dibandingkan 2017, ketika Altrata memperkirakan hanya terdapat 10 orang dengan kekayaan lebih dari USD 50 miliar yang secara keseluruhan menguasai 7,2 persen kekayaan seluruh miliarder.

Meski kenaikan saham teknologi menciptakan kekayaan dalam jumlah fantastis, Imberg mengingatkan kekayaan yang bergantung pada saham perusahaan yang terpapar AI juga memiliki risiko volatilitas tinggi. Menurutnya, kekayaan banyak miliarder terkaya yang perusahaannya berfokus pada teknologi akan naik dan turun sebagai respons terhadap perkembangan AI.

Pelajaran dari Kekayaan yang Tak Selalu Bertumpu pada Teknologi

Di tengah dominasi miliarder teknologi, kisah sejumlah pengusaha dari sektor tradisional tetap menunjukkan daya tahan. Pengusaha asal Jerman, Reinhold Würth, membuktikan produk industri dasar seperti baut, sekrup, dan alat teknik bisa melahirkan imperium bisnis global. Mengutip laporan Forbes, Kamis (10/9/2026), Reinhold dan keluarganya kini mengantongi kekayaan bersih mencapai USD 28,4 miliar atau sekitar Rp496 triliun dengan kurs Rp17.473 per dolar AS.

Perjalanan bisnis Reinhold dimulai pada 1949, saat baru berusia 14 tahun, sebagai karyawan pertama di toko grosir sekrup kecil milik ayahnya, Adolf Würth, di Künzelsau, Jerman. Takdir berubah ketika sang ayah meninggal mendadak pada 1954. Di usia 19 tahun, Reinhold mengambil alih kendali perusahaan yang kala itu hanya menyisakan dua pekerja, yaitu dirinya dan sang ibu. Dalam kurun tujuh dekade, pria yang dijuluki The Screw King itu menyulap bisnis keluarga tersebut menjadi Würth Group, yang kini menaungi lebih dari 400 perusahaan di lebih dari 80 negara.

Bagi pembaca, pergeseran peta kekayaan ini menunjukkan bahwa Bernard Arnault tersingkir dari 10 orang terkaya di dunia, miliarder teknologi AS kini kuasai puncak bukan sekadar catatan statistik. Fenomena tersebut mencerminkan bagaimana sentimen pasar terhadap AI, kondisi geopolitik, dan permintaan konsumen di pasar utama seperti Tiongkok dan Timur Tengah saling memengaruhi nilai kekayaan para taipan dunia.

Yang perlu dicermati berikutnya adalah apakah kenaikan saham teknologi dapat terus menopang posisi para miliarder AS, mengingat volatilitas yang melekat pada sektor tersebut. Di sisi lain, pemulihan permintaan barang mewah di Tiongok dan stabilitas kondisi Timur Tengah akan menjadi faktor penentu apakah Arnault dan taipan industri konsumen lain mampu kembali bersaing di jajaran teratas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *