Cakrawala News – 18 Oktober 2026 | Harga bitcoin masih tertahan di atas level USD81 ribu pada perdagangan akhir pekan, meski jumlah uang beredar global atau Global M2 mencetak rekor baru sekitar USD125 triliun. Kondisi ini menjadi ujian bagi pandangan populer di kalangan pelaku pasar kripto bahwa bertambahnya uang di dunia otomatis akan mendorong harga bitcoin lebih tinggi.
Berdasarkan data yang dikutip dari Investing, bitcoin diperdagangkan naik 0,6 persen ke level USD81.544,8 pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Sepanjang pekan tersebut, harga mata uang kripto terbesar di dunia itu bergerak volatil, sempat turun di bawah USD80 ribu sebelum akhirnya pulih kembali. Bitcoin bahkan sempat menyentuh level tertinggi mingguan di atas USD84 ribu pada awal pekan, tetapi gagal mempertahankan kenaikan itu.
Global M2 sendiri merupakan gabungan uang tunai, rekening giro, dan simpanan tabungan di sejumlah ekonomi terbesar dunia, termasuk Amerika Serikat, zona euro, China, dan Jepang, yang dikonversi ke dolar AS. Angka itu kini tercatat sekitar 7 persen lebih tinggi dibandingkan setahun sebelumnya. Namun, bitcoin justru menghabiskan hampir empat pekan dalam fase koreksi.
Pertumbuhan Uang, Bukan Besaran Rekor, yang Dinilai Penting
Seorang analis yang menguji hubungan antara pasokan uang dan bitcoin menggunakan data mingguan sejak 2014 menemukan bahwa besaran rekor Global M2 tidak banyak menjelaskan pergerakan harga. Yang dinilai lebih menentukan adalah arah pertumbuhan uang tersebut.
Ketika pertumbuhan uang beredar dibandingkan dengan laju tiga bulan sebelumnya, pola yang lebih jelas muncul. Pada periode ketika pertumbuhan uang sedang melaju, bitcoin tercatat lebih tinggi tiga bulan kemudian dalam sekitar 70 persen kasus, dengan kenaikan median mendekati 20 persen. Sebaliknya, ketika pertumbuhan uang melambat, bitcoin hanya naik empat kali dari sepuluh kesempatan, dengan kerugian median yang kecil. Pola ini bertahan pada periode 2014 hingga 2019 dan kembali muncul sejak 2020.
Temuan itu menunjukkan bahwa narasi sederhana soal limpahan likuiditas global perlu dibaca lebih hati-hati. Bagi pelaku pasar, momentum pertumbuhan uang tampaknya lebih relevan dibandingkan angka absolut yang terus mencetak rekor.
Arus Keluar ETF dan Ekspektasi Suku Bunga Menekan Harga
Selain faktor likuiditas, bitcoin juga menghadapi tekanan dari arus dana di pasar Amerika Serikat. Menurut Coinfomania, ETF bitcoin spot di AS mencatat arus keluar bersih sebesar USD82,39 juta pada 16 Oktober, dengan iShares Bitcoin Trust milik BlackRock menyumbang USD71,78 juta di antaranya. Penarikan dana tersebut mencerminkan aksi penebusan oleh investor, bukan keputusan strategis BlackRock untuk mengurangi eksposur bitcoin mereka.
Aktivitas ETF terpantau tidak merata sepanjang pekan. Pada 12 Oktober, dana bitcoin spot mencatat penarikan bersih USD65,4 juta yang seluruhnya berasal dari IBIT. Di sisi lain, data ekonomi AS yang lebih kuat dan ekspektasi akan kenaikan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve turut membatasi ruang kenaikan harga bitcoin.
Pandangan Arthur Hayes dan Skenario Bubble AI
Di tengah tekanan jangka pendek, sejumlah nama besar di industri kripto justru melihat peluang. Arthur Hayes, chief investment officer di Maelstrom, menilai pecahnya bubble kecerdasan artifisial atau AI berpotensi menguntungkan bitcoin. Dalam wawancara dengan Luke Martin, ia menyoroti besarnya belanja di sektor AI yang menimbulkan pertanyaan soal profitabilitasnya.
Hayes mencontohkan perusahaan seperti Anthropic, OpenAI, dan SpaceX yang menurutnya belum menghasilkan laba cukup untuk membenarkan posisi mereka saat ini. Ia memperkirakan pemerintah AS akan memberikan dukungan jika kesulitan keuangan perusahaan-perusahaan besar itu memburuk. Menurut pandangannya, intervensi semacam itu akan mengubah kondisi finansial dan meningkatkan daya tarik aset kripto karena jumlah uang yang beredar bertambah, inflasi berpotensi naik, dan investor mencari aset penyimpan nilai seperti emas dan bitcoin.
Ia juga menyoroti ketahanan bitcoin yang mampu mempertahankan level USD80 ribu pekan ini, meski aksi jual besar melanda saham pembuat chip dan teknologi. Menurut Hayes, penjualan di sektor tersebut dua hingga lima kali lebih besar dibandingkan yang dialami bitcoin. Namun, ia menegaskan ketahanan harga itu baru sebatas ilustrasi dan belum mengonfirmasi skenario yang ia gambarkan.
Pandangan senada datang dari Ceteris Paribus, research director di Delphi Research. Ia menilai arus finansial di internet sangat positif bagi bitcoin dan menyebut depresiasi akibat situasi utang saat ini serta potensi penyelamatan sektor AI dapat mendorong aliran modal ke aset kripto. Utang publik AS sendiri telah mencapai USD40,3 triliun dan terus bertambah.
Risiko yang Masih Membayangi
Meski begitu, prospek bullish bitcoin tidak tanpa hambatan. Fidelity mencatat korelasi rekor sebesar 0,6 antara bitcoin dan imbal hasil obligasi 10 tahun AS pada 2026. Selain itu, ancaman komputasi kuantum dan arus keluar dana dari ETF bitcoin spot AS turut membatasi pandangan optimistis terhadap aset ini.
Di sisi lain, lanskap aset kripto secara lebih luas juga tengah diuji. Riset CoinGecko awal 2026 menunjukkan bahwa 53 persen token yang dilacak sejak pertengahan 2021 hingga 2025 telah gagal. Di antara altcoin besar, Ethereum dan Solana dinilai sebagai pemain mapan yang memiliki kasus penggunaan nyata, sementara Dogecoin, Cardano, dan Shiba Inu masih perlu membuktikan nilainya.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati arah pertumbuhan likuiditas global, arus dana ETF bitcoin spot, serta perkembangan data ekonomi AS dan kebijakan suku bunga Federal Reserve. Kombinasi faktor-faktor itu kemungkinan menentukan apakah bitcoin mampu keluar dari fase koreksi dan menguji level yang lebih tinggi.












