Daerah  

Bola-bola Sapi Goreng Diduga Pemicu Keracunan MBG di Sleman, 35 Orang Alami Keluhan

Cakrawala News – 11 September 2026 | Bola-bola sapi goreng diduga jadi pemicu keracunan MBG di Sleman, ini hasil investigasinya. Menu tersebut menjadi titik yang tengah ditelusuri dalam insiden dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kapanewon Turi, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Temuan itu mengungkap dari investigasi Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman bersama Puskesmas Turi dan Field Epidemiology Training Program (FETP) Universitas Gadjah Mada terhadap makanan yang diproduksi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Wonokerto, Kapanewon Turi.

Berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi (PE) sementara hingga Senin (8/9) pukul 20.30 WIB, dari 261 responden terdapat 35 orang yang mengalami keluhan kesehatan, sedangkan 226 orang tidak mengalami keluhan. Sebanyak 204 responden tercatat mengonsumsi MBG.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, dr. Khamidah Yuliati, mengatakan verifikasi kasus dilakukan setelah Dinkes menerima notifikasi dari Puskesmas Turi. Ia menyampaikan bahwa pihaknya bersama Puskesmas Turi dan FETP UGM telah melakukan verifikasi kasus serta investigasi.

Keluhan Paling Banyak: Pusing dan Sakit Perut

Keluhan yang paling banyak ditemukan adalah pusing dan sakit perut, masing-masing dialami 86 persen responden. Disusul mual 69 persen, sakit kepala 66 persen, lemah 54 persen, dan muntah 34 persen.

Dari hasil PE sementara, terdapat satu pasien yang menjalani rawat inap di RSUD Sleman hingga pukul 20.30 WIB. Sebanyak 19 orang menjalani rawat jalan, tujuh orang berobat mandiri, dan sembilan orang tidak menjalani pengobatan.

Kasus terbanyak berdasarkan hasil PE sementara ditemukan di SMPN 3 Turi, yakni 30 kasus dari 162 responden. Dokter Yuli menjelaskan, hasil analisis epidemiologi terhadap lima menu MBG belum menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik.

Artinya, dugaan bahwa bola-bola sapi goreng menjadi pemicu keracunan MBG di Sleman masih memerlukan pendalaman. Investigasi belum menyimpulkan secara final penyebab pasti keluhan kesehatan yang dialami puluhan responden tersebut.

Kasus Serupa Berulang di Berbagai Daerah

Insiden di Sleman menambah daftar panjang persoalan keamanan pangan dalam program MBG. Di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, kasus dugaan keracunan massal menimpa 259 siswa dan guru di Kecamatan Gembong setelah menyantap makanan program tersebut.

Pemerintah Kabupaten Pati menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) guna memastikan penanganan kesehatan korban berjalan maksimal. Hingga pemantauan pada Kamis (10/9), sebanyak 45 orang masih menjalani rawat inap di RSUD RAA Soewondo dan Rumah Sakit Mitra Bangsa, Pati. Ratusan siswa dan guru lain yang sempat mengalami gejala mual, muntah, diare, serta lemas telah diperbolehkan pulang dan menjalani rawat jalan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pati, Luki Pratugas Narimo, menyampaikan bahwa petugas kesehatan diterjunkan langsung ke rumah-rumah siswa untuk menyisir dan memastikan tidak ada korban bergejala yang terlewat. Plt. Bupati Pati, Risma Adhi Chandra, menegaskan status KLB ditetapkan agar penanganan dapat diambil alih sepenuhnya oleh pemerintah daerah, dengan seluruh biaya pengobatan korban ditanggung melalui dana Belanja Tidak Terduga (BTT). Untuk sementara waktu, distribusi program MBG di wilayah tersebut dihentikan.

172 Dapur MBG di Pati Bakal Diperiksa

Menyusul kasus tersebut, Pemerintah Kabupaten Pati bersama Badan Gizi Nasional (BGN) akan memeriksa 172 dapur penyedia MBG pekan depan. Pemeriksaan menyasar kelayakan dan proses pengolahan makanan di seluruh SPPG.

Wakil Kepala BGN, Trenggono, mengatakan evaluasi dilakukan untuk memastikan seluruh SPPG menjalankan proses penyiapan makanan sesuai standar operasional prosedur (SOP). Ia mengakui masih ada satu-dua dapur yang tidak sesuai SOP dan tidak patuh terhadap tahapan penyiapan makanan.

BGN menegaskan tidak akan memberikan toleransi terhadap SPPG yang dinilai tidak layak atau tidak mampu memenuhi standar keamanan pangan. Trenggono menyatakan SPPG yang bermasalah akan di-suspend, dan bila dapurnya dinilai buruk, sanksi dapat berupa suspend permanen.

Plt. Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, menyebut pemeriksaan seluruh SPPG dijadwalkan mulai pekan depan. Pemkab akan turun langsung bersama sejumlah instansi untuk mengecek kondisi dapur dan kemampuan masing-masing SPPG. Pemeriksaan tidak hanya menyasar kondisi fisik dapur, tetapi juga kesesuaian kapasitas dapur dengan jumlah penerima manfaat yang dilayani.

Dorongan Sanksi Pidana bagi Pihak Lalai

Pakar Hukum Pidana Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar, menilai kelalaian yang menyebabkan keracunan hingga kematian dapat masuk ke ranah pidana. Menurutnya, aparat penegak hukum perlu mengambil tindakan terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab apabila terbukti lalai dalam menjalankan SOP penyediaan makanan MBG.

Fickar menilai penjatuhan sanksi pidana penting dilakukan karena kasus keracunan MBG terus berulang di berbagai daerah. Selama ini, penanganan kasus dinilai cenderung berhenti pada permintaan maaf dan pemberian sanksi administratif.

Meski demikian, ia mengingatkan penindakan hukum harus dilakukan secara komprehensif. Penegak hukum perlu mengurai sumber kelalaian dan menentukan pihak yang bertanggung jawab. Penyidikan tidak semestinya hanya diarahkan kepada SPPG, tetapi juga perlu melihat kemungkinan faktor lain yang memengaruhi kualitas dan keamanan makanan.

Sementara itu, di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, kondisi korban terduga keracunan MBG, Febiola Purba (16), dilaporkan kian memburuk. Siswi asal Berastagi itu diduga mengalami kehilangan ingatan atau penurunan fungsi kognitif hingga 70 persen serta kejang. Dokter mengidentifikasi dua kemungkinan penyebab gangguan kesehatan korban, yakni infeksi bakteri atau paparan racun jamur. Sejak pertengahan Agustus 2026, korban telah menjalani perawatan intensif dan berpindah di lima rumah sakit berbeda, termasuk RSUP Haji Adam Malik Medan.

Humas RSUP HAM Medan, Rosario Dorothy Simanjuntak, mengatakan pasien melakukan rawat jalan dan sudah tiga kali kunjungan berobat, yakni pada 31 Agustus, 7 September, dan 8 September 2026. Pasien ditangani dokter spesialis Gastro Anak dan Neurologi Anak serta telah menjalani pemeriksaan Elektroensefalografi (EEG).

Yang Perlu Diperhatikan Selanjutnya

Rangkaian insiden ini menunjukkan bahwa persoalan keamanan pangan dalam program MBG belum tuntas, meski investigasi di Sleman belum menyimpulkan penyebab pasti. Dugaan bahwa bola-bola sapi goreng menjadi pemicu keracunan MBG di Sleman masih berada pada tahap penyelidikan epidemiologi dan membutuhkan verifikasi lanjutan.

Perhatian publik kini tertuju pada hasil pemeriksaan 172 dapur MBG di Pati, kelanjutan investigasi di Sleman, serta apakah kelalaian yang berulang akan berujung pada sanksi pidana. Pemerintah daerah dan BGN disebut terus memperbaiki tata kelola, sementara korban dan keluarganya menantikan kepastian penanganan serta jaminan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *