Daftar Saham PER Terendah & Tertinggi LQ45 2 Oktober 2026, Cek Rinciannya

Daftar Saham PER Terendah & Tertinggi LQ45 2 Oktober 2026, Cek Rinciannya
Daftar Saham PER Terendah & Tertinggi LQ45 2 Oktober 2026, Cek Rinciannya

Cakrawala News – 06 Oktober 2026 | Daftar saham PER terendah & tertinggi LQ45 (2 Oktober 2026), cek rinciannya [titlebase] menjadi sorotan investor setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpangkas 3,28% ke posisi 6.036,88 pada perdagangan 28 September hingga 2 Oktober 2026. Koreksi pekanan itu terjadi di tengah aksi jual saham signifikan oleh investor asing dan membuat seluruh sektor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) tertekan. Meski demikian, sejumlah emiten tetap menunjukkan fundamental berbeda, yang tercermin dari rasio harga terhadap laba atau price to earnings ratio (PER).

PER merupakan salah satu indikator valuasi yang paling banyak dipakai investor untuk menilai apakah harga sebuah saham tergolong murah atau mahal dibandingkan laba per sahamnya. Semakin rendah PER, secara umum saham dianggap lebih murah, meski angka tersebut tetap harus dibaca bersama prospek pertumbuhan, kualitas laba, dan kondisi industri masing-masing emiten.

Berdasarkan data perdagangan BEI pada periode 28 September hingga 2 Oktober 2026, IHSG bergerak di level tertinggi 6.277,89 dan terendah 5.973,16. Rata-rata volume perdagangan saham naik 72,51% menjadi 50,36 miliar saham dari pekan sebelumnya 29,19 miliar saham. Sementara itu, rata-rata nilai transaksi harian naik 5,4% menjadi Rp 12,62 triliun dari Rp 11,97 triliun, dan total frekuensi perdagangan susut 7,54% menjadi 1,68 juta kali transaksi.

Tekanan Merata di Seluruh Sektor

Koreksi IHSG pada pekan tersebut tidak menyisakan satu pun sektor yang menguat. Sektor saham teknologi mencatat koreksi terbesar dengan penurunan 12,45%. Disusul sektor saham basic materials yang melemah 5,29%, sektor consumer siklikal turun 4,82%, dan sektor infrastruktur melemah 4,31%.

Selanjutnya, sektor properti dan real estate terpangkas 4%, sektor transportasi dan logistik melemah 3,94%, sektor industri turun 2,19%, sektor keuangan tergelincir 1,56%, sektor consumer nonsiklikal turun 1,53%, sektor perawatan kesehatan melemah 1,23%, dan sektor energi terpangkas 0,99%.

Di tengah tekanan itu, sejumlah saham mencatat penurunan harga terbesar atau top losers sepekan. Saham PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) memimpin koreksi dengan penurunan 54,72% menjadi Rp 163 per saham dari pekan sebelumnya Rp 360 per saham. Disusul saham DADA yang terpangkas 52% menjadi Rp 24 per saham dari Rp 50 per saham, serta saham MAXI yang melemah 48% dari Rp 50 menjadi Rp 26 per saham.

Valuasi Tetap Jadi Acuan

Di tengah volatilitas tersebut, rasio PER tetap menjadi salah satu acuan utama investor dalam menyusun daftar pantauan, termasuk pada saham-saham yang tergabung dalam indeks LQ45. Indeks ini berisi 45 saham dengan likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar, sehingga pergerakan valuasinya sering dijadikan barometer kondisi pasar secara keseluruhan.

Saham dengan PER rendah umumnya menarik bagi investor yang mencari valuasi murah, tetapi tidak jarang rasio tersebut rendah karena pasar menilai ada risiko pada prospek laba ke depan. Sebaliknya, saham dengan PER tinggi biasanya mencerminkan ekspektasi pertumbuhan laba yang kuat, meski juga rentan terhadap koreksi bila realisasi kinerja tidak sesuai harapan.

Karena itu, daftar saham PER terendah dan tertinggi LQ45 pada 2 Oktober 2026 perlu dibaca sebagai potret sesaat, bukan rekomendasi beli atau jual. Investor disarankan membandingkan PER dengan rata-rata industri, melihat tren laba beberapa periode, serta mencermati faktor eksternal seperti arah suku bunga dan arus modal asing.

Arus Modal Asing dan Saham Berbobot Besar

Tekanan jual oleh investor asing menjadi salah satu pemicu utama koreksi IHSG sepekan itu. Arus keluar dana asing biasanya berdampak paling besar pada saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi penghuni indeks LQ45, sehingga pergerakan harga mereka cenderung lebih tajam dibanding saham lapis kedua.

Dalam kondisi seperti ini, rasio PER kerap berubah cepat karena harga saham bergerak lebih dinamis daripada laporan laba yang dirilis secara kuartalan. Akibatnya, daftar saham dengan PER terendah dan tertinggi bisa bergeser dalam hitungan hari, terutama ketika sentimen pasar berubah drastis.

Selain PER, investor umumnya melengkapi analisis dengan rasio price to book value (PBV), return on equity (ROE), serta tingkat utang perusahaan. Kombinasi beberapa indikator tersebut membantu mengurangi risiko salah membaca saham yang tampak murah secara valuasi, tetapi sebenarnya menghadapi persoalan fundamental.

Yang Perlu Dicermati ke Depan

Ke depan, pergerakan IHSG dan valuasi saham LQ45 akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan arus modal asing, rilis kinerja keuangan emiten, serta kebijakan moneter dan fiskal domestik. Bila tekanan jual asing mereda, saham-saham dengan PER rendah berpotensi kembali dilirik, terutama yang labanya masih tumbuh positif.

Sebaliknya, jika volatilitas berlanjut, saham dengan PER tinggi berisiko mengalami koreksi lebih dalam karena pasar cenderung mengurangi premi valuasi saat ketidakpastian meningkat. Karena itu, memantau daftar saham PER terendah dan tertinggi LQ45 secara berkala menjadi langkah praktis bagi investor untuk menjaga konteks valuasi di tengah pasar yang bergerak cepat.

Pada akhirnya, daftar saham PER terendah dan tertinggi LQ45 (2 Oktober 2026) bukan sekadar angka, melainkan cerminan bagaimana pasar menilai prospek laba setiap emiten. Investor yang memahami konteks di balik rasio tersebut akan lebih siap mengambil keputusan secara rasional, tanpa terjebak euforia maupun kepanikan jangka pendek.

Exit mobile version