Cakrawala News – 26 Oktober 2026 | Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal menyoroti sikap pemerintah dalam menghadapi ancaman penurunan status pasar modal Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI). Melalui unggahan di akun media sosialnya pada Sabtu, 24 Oktober 2026, Dino ingatkan RI soal MSCI: Ini bukan adu jotos, penuhi standarnya. Ia menilai persoalan ini tidak bisa diselesaikan dengan gaya gagah-gagahan atau sikap nekat, melainkan dengan memahami aturan dan memenuhi standar yang ditetapkan lembaga indeks global tersebut.
Pernyataan itu muncul setelah Presiden Prabowo Subianto menyatakan tidak takut terhadap MSCI. Menurut Dino, respons semacam itu kurang tepat karena memposisikan MSCI sebagai lawan yang harus ditumbangkan. Padahal, kata dia, MSCI adalah organisasi non-pemerintah yang netral, independen, dan tidak berkepentingan terhadap negara mana pun.
MSCI Bukan IMF, Modal Dasarnya Kepercayaan
Dino menjelaskan MSCI berbeda dengan International Monetary Fund (IMF) yang pernah menuai protes publik dan dinilai memiliki agenda ekonomi tertentu. MSCI, yang didirikan pada 1969 dan bermarkas di Amerika Serikat, menjadikan kepercayaan sebagai modal dasar. Karena itu, menurut Dino, MSCI tidak akan mau didikte oleh negara mana pun dan hanya tunduk pada acuan yang telah mereka tetapkan sendiri.
“MSCI itu organisasi non pemerintah yang netral, independen dan tidak berkepentingan. Oleh karena itu MSCI menjadi acuan utama bagi para investor global. Modal dasar MSCI adalah kepercayaan, trust, dan karena itu mereka tidak akan mau didikte negara manapun,” ujar Dino.
Ia menegaskan MSCI menerapkan tolak ukur yang sama bagi semua negara, termasuk Indonesia, China, India, Korea Selatan, Brasil, Meksiko, Afrika Selatan, dan Uni Emirat Arab. Dengan kriteria yang sama, skor Indonesia di indeks MSCI pernah berada di angka 2,6 persen, tetapi kemudian anjlok ke 0,3 persen. Sementara itu, skor China disebut sekitar 20 persen, India 11 persen, Korea Selatan 18 persen, Brasil 4,8 persen, Meksiko 1,7 persen, Afrika Selatan 3 persen, dan Uni Emirat Arab 1,7 persen.
“Tidak ada konspirasi, hanya ada penilaian yang profesional,” kata Dino, seperti dikutip dari pernyataannya.
Ibarat Wasit, Bukan Lawan
Dino mengibaratkan hubungan Indonesia dengan MSCI seperti hubungan tim nasional sepak bola dengan FIFA. Selama Indonesia ingin tetap berpartisipasi dalam sistem indeks global, langkah yang lebih tepat adalah memahami aturan dan memenuhi standar yang berlaku. Ia menegaskan MSCI bukan lawan yang harus ditumbangkan, melainkan wasit yang perlu didengar dan disiasati.
“MSCI bukan lawan yang harus kita tumbangkan, tapi wasit yang perlu kita dengar dan siasati, as long as we are in the game, playing the game. Ibaratnya seperti hubungan tim nasional PSSI dan FIFA,” imbuhnya.
Karena itu, Dino ingatkan RI soal MSCI: Ini bukan adu jotos, penuhi standarnya. Menurutnya, adu kekuatan atau sikap defensif tidak akan mengubah apa pun. Pertarungan di dunia militer, kata dia, sangat berbeda dari permainan di dunia finance.
Ia juga menyoroti indikasi erosi kepercayaan di kalangan pengusaha, baik di dalam maupun luar negeri. Menurut Dino, erosi tersebut sudah terasa di pengusaha papan atas, menengah, dan bawah. Ia menilai jika Presiden tidak mencium gejala ini, berarti kepala negara tidak mendapat informasi yang sebenarnya mengenai kondisi di lapangan.
Dino lalu mengingatkan pengalaman sejarah. Pemerintahan Soeharto, yang menurutnya jauh lebih kuat dari pemerintah sekarang, tumbang bukan karena invasi asing atau kudeta militer, melainkan krisis moneter yang berubah menjadi multikrisis. Krisis itu meluas menjadi krisis ekonomi, sosial, keamanan, legitimasi, dan politik.
Waktu Tiga Tahun untuk Membenahi Kepercayaan
Menurut Dino, masih ada waktu sekitar tiga tahun untuk memperbaiki kepercayaan sebelum terlambat. Ia menyarankan pemerintah menangani ancaman penurunan status pasar secara serius, antara lain melalui diskusi tertutup dan pembentukan satuan tugas yang melibatkan Kementerian Keuangan, Bursa Efek Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan. Ia juga menilai pembatasan komentar pejabat perlu dilakukan agar tidak memperkeruh situasi.
Dalam pandangannya, pengalaman sejumlah negara menunjukkan perbaikan pasar dapat dilakukan setelah menghadapi penilaian MSCI. China dan Yunani disebut berhasil membenahi pasar mereka setelah menerima catatan dari lembaga tersebut. Karena itu, Dino ingatkan RI soal MSCI: Ini bukan adu jotos, penuhi standarnya, dengan mengikuti panduan yang diberikan dan menjaga kepercayaan investor.
Hingga kini, MSCI masih berkonsultasi dengan berbagai pemangku kepentingan terkait rencana menurunkan pasar saham Indonesia ke kelompok standalone market. Keputusan akhir lembaga itu akan menjadi penentu arah kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia. Bagi pemerintah, tiga tahun yang tersisa menjadi kesempatan untuk membenahi fundamental dan memulihkan keyakinan pelaku usaha, alih-alih merespons penilaian itu dengan sikap defensif.












