Cakrawala News – 26 Oktober 2026 | Dua tentara IDF tewas, Netanyahu umumkan operasi militer besar di Tepi Barat setelah serangan bersenjata di sebuah pos pemeriksaan dekat kota Palestina di wilayah selatan Tepi Barat yang diduduki. Serangan tersebut juga melukai tiga tentara lainnya, dan dua pria bersenjata yang melancarkan aksi itu tewas dalam baku tembak dengan pasukan Israel.
Peristiwa ini terjadi beberapa hari menjelang pemilihan umum di Israel, saat Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menghadapi persaingan yang ketat. Eskalasi keamanan ini pun langsung memicu pernyataan keras dari pemerintah Israel mengenai rencana operasi militer berskala besar.
Ancaman Operasi Skala Luas
Dalam kunjungannya ke Hebron setelah serangan, Netanyahu menyatakan bahwa pasukan Israel akan memasuki lingkungan tempat tinggal para pelaku dan memindahkan penduduknya. Ia menegaskan militer akan menyisir kawasan tersebut secara menyeluruh.
“Kami akan mengevakuasi penduduk, kami akan menyisir dari rumah ke rumah, kami juga akan menyita senjata-senjata yang ada di sana, serta menangani dan menghancurkan seluruh infrastruktur teroris,” ujar Netanyahu, sebagaimana disampaikan oleh kantornya.
Lebih lanjut, Netanyahu mengungkapkan bahwa ia bersama Menteri Pertahanan tengah mempertimbangkan operasi militer IDF yang sangat luas di Yudea dan Samaria, istilah yang digunakan Israel untuk merujuk Tepi Barat. Menurutnya, skala operasi tersebut belum pernah dilakukan sejak Perang Enam Hari pada 1967.
“IDF siap melaksanakannya dan kami akan menentukan waktunya, tetapi operasi ini pasti akan dilakukan,” tambahnya. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa rencana operasi bukan sekadar wacana, melainkan keputusan yang menurut Netanyahu akan tetap dijalankan.
Model Operasi di Kamp Pengungsi
Netanyahu menyebut militer akan menerapkan model yang sebelumnya digunakan di kamp-kamp pengungsi di wilayah utara Tepi Barat. Model ini merujuk pada operasi militer skala besar yang dijuluki ‘Tembok Besi’ (Iron Wall) dan diluncurkan pada Januari 2025.
Menurut kantor hak asasi manusia PBB, operasi Iron Wall telah memaksa puluhan ribu orang pindah dari sejumlah kamp pengungsi. Hingga Juli tahun ini, PBB mencatat sebanyak 33.362 pengungsi Palestina yang terusir dari ketiga kamp tersebut belum diizinkan untuk kembali.
Hampir dua tahun berselang, militer Israel masih terus berada di kamp pengungsi Jenin, lokasi yang sebelum operasi Iron Wall merupakan basis bagi kelompok militan bersenjata Palestina yang melawan pendudukan Israel. Militer Israel juga masih bercokol di dua kamp pengungsi di kota Tulkarem yang terletak tidak jauh dari sana.
Di ketiga kamp tersebut, militer menghancurkan puluhan rumah yang terletak di kawasan padat dengan lorong-lorong yang saling terhubung, guna mempermudah akses bagi pasukan dan kendaraan lapis baja mereka. Selain itu, militer juga mendirikan pusat operasional bagi pasukannya di dalam rumah-rumah penduduk.
Konteks Politik dan Kemanusiaan
Rencana operasi besar ini muncul di tengah situasi politik domestik Israel yang memanas menjelang pemilihan umum. Netanyahu, yang menghadapi persaingan ketat, berada di bawah tekanan untuk menunjukkan sikap tegas terhadap keamanan menyusul tewasnya dua tentara IDF dalam serangan di pos pemeriksaan.
Di sisi lain, pengalaman operasi Iron Wall menunjukkan bahwa operasi militer berskala luas di kawasan padat penduduk berdampak signifikan terhadap warga sipil. Data PBB mengenai puluhan ribu pengungsi yang belum diizinkan kembali menjadi gambaran bagaimana operasi semacam itu mengubah kondisi kehidupan di kamp-kamp pengungsi Palestina.
Pernyataan Netanyahu bahwa operasi akan dilakukan dengan skala yang belum pernah terjadi sejak 1967 menjadi sinyal bahwa eskalasi di Tepi Barat berpotensi meningkat dalam waktu dekat. Namun, waktu pelaksanaan operasi masih belum dipastikan karena menurut Netanyahu, penentuannya akan dilakukan kemudian.
Dua tentara IDF tewas, Netanyahu umumkan operasi militer besar di Tepi Barat menjadi perkembangan yang perlu dicermati, terutama karena dampaknya terhadap situasi keamanan dan kemanusiaan di wilayah tersebut. Perhatian publik kini tertuju pada bagaimana rencana operasi itu akan diwujudkan serta respons berbagai pihak terhadap ancaman eskalasi lebih lanjut.
