Cakrawala News – 05 Oktober 2026 | Ganjar Pranowo bongkar isi pertemuan dengan Anies Baswedan: Nostalgia kuliah dan bahas lari menjadi sorotan publik setelah mantan Gubernur Jawa Tengah itu mengungkapkan detail pertemuannya dengan mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut di Yogyakarta. Pertemuan yang berlangsung pada Sabtu (3/10/2026) malam itu terungkap melalui unggahan Instagram Ganjar, @ganjar_pranowo, dan langsung menuai perhatian karena kedua tokoh pernah bersaing sebagai calon presiden pada Pilpres 2024.
Anies Baswedan datang ke kediaman Ganjar di Yogyakarta bersama istrinya, Fery Farhati. Mereka disambut Ganjar dan istrinya, Siti Atikoh Suprianti. Dalam foto yang dibagikan, keempatnya tampak menyantap makan malam bersama dengan suasana santai. Pada momen lain, Anies dan Ganjar terlihat berbincang serius, jauh dari kesan formal.
Ganjar menjelaskan bahwa Anies dan Fery mampir ke rumahnya setelah menghadiri acara pernikahan. Menurut Ganjar, pertemuan tersebut juga menjadi kesempatan bagi keduanya untuk mengenang masa kuliah. “Njanur gunung tenan. Udara Jogja yang berhari-hari sumuk semalam mendadak seger berkat kedatangan abah @aniesbaswedan dan mbak @fery.farhati. Maturnuwun gojek kere dan rasan rasan gayengnya dab,” tulis Ganjar melalui akun Instagramnya, Minggu (4/10/2026).
Balasan Anies dan Istilah ‘Josjis‘
Unggahan Ganjar itu mendapat respons langsung dari Anies. Dalam kolom komentar, Anies membalas dengan gaya khas yang menunjukkan kedekatan keduanya. “Josjis, dab… matur nuwun jamuan dan gojekannya. Sambung lagi lain kali di track lari?” kata Anies, seperti dikutip dari unggahan Instagram Ganjar, Minggu (4/10/2026).
Balasan tersebut sekaligus menyinggung kemungkinan keduanya kembali bertemu dalam aktivitas olahraga, khususnya lari. Ajakan itu menegaskan bahwa pertemuan di Yogyakarta tidak membahas agenda politik, melainkan lebih bernuansa pertemanan. Ganjar menggunakan sapaan “abah” kepada Anies, sedangkan Anies membalas dengan sapaan “dab” yang identik dengan gaya komunikasi khas Jawa.
Penggunaan kata “josjis” dalam balasan Anies membuat sebagian warganet penasaran. Istilah tersebut bukan kosakata baku bahasa Indonesia, melainkan bahasa gaul yang berkembang di media sosial. Secara umum, josjis adalah ungkapan untuk menggambarkan sesuatu yang mantap, keren, sangat bagus, atau luar biasa. Kata ini biasa dipakai sebagai bentuk pujian atau ekspresi kekaguman.
Istilah josjis disebut berasal dari kata “jos”, yang sudah cukup dikenal dalam percakapan sehari-hari dan dekat dengan penggunaan bahasa Jawa. Akhiran “-jis” kemudian ditambahkan sehingga menghasilkan kata yang terdengar lebih unik, lucu, dan hiperbolis. Dari situ muncul istilah josjis yang digunakan untuk memberi penekanan ketika memuji sesuatu.
Kata tersebut semakin dikenal melalui media sosial, salah satunya TikTok. Josjis disebut populer berawal dari celetukan seorang mahasiswa baru dalam sebuah konten video yang membahas pengalaman mengikuti orientasi kampus. Seiring penyebarannya, josjis mulai muncul dalam berbagai percakapan di media sosial, termasuk ketika seseorang ingin menggambarkan sesuatu sebagai hal yang sangat bagus atau keren. Sebagai contoh, seseorang dapat mengatakan, “larinya josjis banget!” yang berarti larinya sangat kencang atau keren.
Kronologi Pertemuan di Yogyakarta
Berdasarkan keterangan dalam unggahan tersebut, pertemuan berlangsung di Yogyakarta. Ganjar dan Anies ditemani oleh istri masing-masing, yakni Siti Atikoh Suprianti dan Fery Farhati. Dalam foto-foto yang diunggah, mereka tampak berbincang akrab sambil tertawa. Mereka juga menyantap hidangan yang tersaji di meja makan. Pada foto terakhir, terlihat Ganjar dan Atikoh melepas kepergian Anies dan Fery Farhati yang naik mobil berwarna hitam.
Momen ini menarik perhatian karena Ganjar dan Anies pernah berada di posisi berseberangan dalam kontestasi politik nasional. Keduanya sama-sama maju sebagai calon presiden pada Pilpres 2024. Meski demikian, pertemuan di Yogyakarta memperlihatkan sisi lain dari hubungan keduanya, yang tampak cair dan akrab di luar arena politik.
Tidak ada keterangan mengenai agenda politik dalam pertemuan tersebut. Percakapan keduanya di media sosial justru lebih banyak memperlihatkan nuansa pertemanan, mulai dari jamuan makan malam, candaan soal gojek, hingga rencana berlari bersama. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi personal antara kedua tokoh dapat berlangsung tanpa membawa isu politik praktis.
Unggahan Ganjar juga menyiratkan bahwa pertemuan tersebut menjadi semacam reuni kecil bagi keduanya, terutama karena keduanya sempat mengenang masa kuliah. Meski detail percakapan soal nostalgia kuliah tidak dijelaskan secara rinci, pernyataan Ganjar menegaskan bahwa topik tersebut menjadi bagian dari obrolan mereka.
Dari sisi publik, pertemuan ini menjadi perhatian karena melibatkan dua tokoh nasional yang memiliki basis pendukung besar. Namun, hingga berita ini ditulis, tidak ada indikasi bahwa pertemuan tersebut membahas koalisi, dukungan politik, atau langkah elektoral tertentu. Ganjar dan Anies sama-sama belum memberikan keterangan resmi di luar unggahan media sosial tersebut.
Yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah apakah ajakan Anies untuk berlari bersama benar-benar terealisasi. Jika pertemuan lanjutan terjadi, publik kemungkinan kembali menyoroti dinamika hubungan keduanya, terutama di tengah peta politik nasional yang terus berkembang. Sejauh ini, pertemuan di Yogyakarta lebih tepat dibaca sebagai interaksi personal yang hangat antara dua mantan calon presiden, bukan sebagai sinyal politik baru.
Dengan gaya komunikasi yang santai dan penuh keakraban, momen Ganjar Pranowo bongkar isi pertemuan dengan Anies Baswedan: Nostalgia kuliah dan bahas lari ini setidaknya menunjukkan bahwa hubungan antartokoh politik dapat tetap terjaga meski pernah bersaing dalam kontestasi. Publik pun menantikan apakah obrolan ringan soal lari itu akan berlanjut menjadi pertemuan berikutnya.












