Daerah  

Gunung Merapi Catat 88 Kali Gempa Guguran dan 17 Kali Luncuran Lava, Status Siaga Bertahan

Gunung Merapi Catat 88 Kali Gempa Guguran dan 17 Kali Luncuran Lava, Status Siaga Bertahan
Gunung Merapi Catat 88 Kali Gempa Guguran dan 17 Kali Luncuran Lava, Status Siaga Bertahan

Cakrawala News – 16 September 2026 | Gunung Merapi catat 88 kali gempa guguran dan 17 kali luncuran lava dalam periode pemantauan 24 jam pada Senin (14/9/2026), menurut laporan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG). Aktivitas kegempaan dan guguran lava itu masih mendominasi kawasan puncak gunung api yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah tersebut. Status Gunung Merapi hingga kini bertahan pada Level III atau Siaga.

Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso menyatakan data pemantauan terbaru mengindikasikan proses suplai magma di dalam tubuh Gunung Merapi masih berlangsung secara konsisten. Menurut dia, kondisi itu berpotensi memicu terjadinya awan panas guguran di dalam kawasan area potensi bahaya.

“Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih terus berlangsung. Kondisi ini berpotensi memicu terjadinya awan panas guguran di dalam kawasan area potensi bahaya,” ujar Agus Budi Santoso dalam keterangan tertulisnya, Selasa (15/9).

Rincian Aktivitas Kegempaan dan Guguran Lava

Berdasarkan pengamatan meteorologi dan visual sepanjang periode 14 September 2026 pukul 00.00-24.00 WIB, cuaca di sekitar Gunung Merapi terpantau cerah hingga mendung dengan angin lemah berembus ke arah barat. Suhu udara berkisar antara 15,5 hingga 28,6 derajat celsius.

Secara visual, gunung terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis teramati membubung hingga ketinggian 25 sampai 40 meter di atas puncak.

Dari sisi aktivitas kegempaan, tim penyusun laporan BPPTKG mencatat peningkatan frekuensi gempa guguran dan gempa fase banyak. Sepanjang periode tersebut, tercatat 88 kali gempa guguran. Selain itu, BPPTKG juga merekam 17 kali luncuran lava ke arah Barat Daya.

Luncuran lava tersebut meliputi alur Sat/Putih, Kali Bebeng, dan Kali Krasak, dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter atau 2 kilometer. Angka itu menunjukkan material pijar masih aktif bergerak menuruni lereng meski jarak luncurannya masih berada dalam rentang yang terpantau selama ini.

Potensi Bahaya dan Imbauan bagi Warga

Kombinasi suplai magma yang terus berjalan dan guguran lava yang berulang menjadi perhatian utama BPPTKG. Awan panas guguran disebut sebagai salah satu ancaman yang perlu diwaspadai karena dapat terjadi secara tiba-tiba di area potensi bahaya. Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas di kawasan yang telah ditetapkan sebagai zona berbahaya.

Status Siaga atau Level III sendiri merupakan tingkat yang mengindikasikan peningkatan aktivitas signifikan dan berpotensi berlanjut ke erupsi yang lebih besar. Penetapan status ini menjadi dasar bagi otoritas terkait untuk menyiapkan langkah mitigasi, termasuk jalur evakuasi dan pemantauan berkelanjutan di titik-titik rawan.

Gunung Merapi catat 88 kali gempa guguran dan 17 kali luncuran lava ini menjadi pengingat bahwa dinamika gunung api teraktif di Indonesia itu belum mereda. Pemantauan intensif oleh BPPTKG terus dilakukan untuk memastikan setiap perubahan aktivitas dapat terdeteksi sedini mungkin.

Bagi warga yang tinggal di sekitar lereng Merapi, informasi resmi dari BPPTKG dan pemerintah daerah menjadi acuan utama. Warga diimbau tidak terpancing kabar yang tidak jelas sumbernya dan selalu mengikuti arahan petugas di lapangan.

Konteks Aktivitas Vulkanik di Indonesia

Aktivitas Gunung Merapi kali ini juga terjadi di tengah dinamika gunung api lain di Tanah Air. Pada periode yang hampir bersamaan, Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, tercatat meletus 388 kali dalam kurun 24 jam pada Rabu (10/9/2026), terhitung pukul 00.00-24.00 Wita.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Ile Lewotolok, Khairul Imam Tarmizi, menyebut letusan itu menyebabkan gemuruh hingga lontaran lava pijar ke dua arah, barat dan tenggara. Gunung setinggi 1.423 meter di atas permukaan laut tersebut berstatus Level II atau Waspada.

Perbedaan karakter letusan antara Merapi yang didominasi guguran lava dan Ile Lewotolok yang meletus berkali-kali menunjukkan keragaman perilaku gunung api di Indonesia. Meski demikian, keduanya menuntut kewaspadaan yang sama dari masyarakat dan otoritas kebencanaan.

Untuk Gunung Merapi, BPPTKG menegaskan bahwa pemantauan akan terus dilakukan secara berkelanjutan. Data kegempaan, deformasi, dan pengamatan visual menjadi dasar dalam menentukan rekomendasi bagi masyarakat. Perkembangan aktivitas dalam beberapa hari ke depan akan menentukan apakah status Siaga masih dipertahankan atau berubah.

Gunung Merapi catat 88 kali gempa guguran dan 17 kali luncuran lava dalam sehari, dan angka itu menjadi indikator penting bagi kesiapsiagaan kawasan. Warga diimbau tetap tenang, memantau informasi resmi, dan bersiap mengikuti arahan evakuasi bila sewaktu-waktu diperlukan.

Exit mobile version