Cakrawala News – 11 September 2026 | Pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam kembali menjadi sorotan pasar modal setelah namanya dikaitkan dengan rencana pengambilalihan sekitar 62% saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Entitas yang dikendalikan Andi Syamsuddin Arsyad disebut mengajukan tawaran tunai sekitar US$ 3 miliar atau setara Rp 52,75 triliun untuk saham yang saat ini berada di tangan konglomerat Low Tuck Kwong dan putrinya, Elaine Low.
Kabar tersebut pertama kali mencuat dari laporan Bloomberg yang dikutip sejumlah media pada pekan ini. Nilai tawaran itu disebut jauh di bawah nilai pasar saham BYAN yang saat ini nyaris menyentuh US$ 26 miliar atau sekitar Rp 457,96 triliun.
Tawaran Diskon dan Reaksi Pasar
Dalam proses negosiasi, harga akuisisi saham mulanya dipatok sekitar US$ 4,8 miliar atau sekitar Rp 84,54 triliun. Angka tersebut juga masih jauh di bawah nilai pasar saham BYAN. Jika transaksi benar-benar dilakukan pada nilai tersebut, valuasi yang tersirat untuk Bayan hanya sekitar US$ 4,8 miliar, jauh di bawah kapitalisasi pasar saat ini.
Selisih tajam itu membuat pasar bertanya-tanya. Sejumlah analis menilai harga saham BYAN di bursa memang telah lama diperdagangkan dengan premium. Penyebabnya, jumlah saham yang beredar bebas (free float) terbatas dan volume perdagangan yang tipis sehingga dapat menaikkan harga pasar.
Di sisi lain, prospek jangka panjang sektor batu bara termal disebut suram seiring konsumen beralih ke energi yang lebih bersih. Pemerintah juga telah memberlakukan kuota penambangan yang menghambat pemain lokal. Kombinasi faktor itu membuat saham milik Low Tuck Kwong ini disebut telah lama akan dijual dengan harga diskon.
Namun, investor tidak bisa serta-merta menyimpulkan bahwa saham Bayan terlalu mahal. Perbedaan antara harga di bursa dan nilai yang disebut dalam negosiasi blok saham pengendali mencerminkan kompleksitas transaksi akuisisi saham dalam jumlah besar.
Investor Asing Melepas Saham BYAN
Kabar tawaran murah tersebut langsung berdampak pada pergerakan saham BYAN. Mengutip data bursa, investor asing mencatat jual bersih saham BYAN senilai Rp 10,06 miliar di pasar reguler sepanjang perdagangan Rabu (9/9/2026).
Dalam sebulan terakhir, posisi jual bersih investor asing mencapai Rp 94,09 miliar selepas kabar ambil alih oleh Haji Isam mencuat di antara pelaku pasar. Aksi jual investor asing itu juga dibayangi distribusi besar-besaran sebagian pialang institusi lokal.
Broker afiliasi Garibaldi ‘Boy’ Thohir, PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (LG), tercatat menjual 23,6 ribu lot saham BYAN dengan valuasi Rp 35,2 miliar di harga rata-rata Rp 15.044 selama satu bulan terakhir. Data ini menunjukkan tekanan jual yang cukup signifikan terhadap saham emiten tambang batu bara tersebut.
BEI Suspensi Saham JARR Milik Haji Isam
Di tengah ramainya kabar akuisisi BYAN, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan saham PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR), perusahaan yang juga dimiliki Andi Syamsuddin Arsyad. Suspensi berlaku mulai Jumat (11/9/2026) di Pasar Reguler dan Pasar Tunai hingga pengumuman lebih lanjut.
Pjs. Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI, Endra Febri Styawan, mengatakan suspensi dilakukan menyusul peningkatan harga saham JARR secara kumulatif dan signifikan. “Suspensi dilakukan dalam rangka cooling down sebagai bentuk perlindungan bagi Investor,” ujar Endra dalam keterbukaan informasi BEI.
Dia mengimbau seluruh pihak yang berkepentingan untuk memperhatikan setiap informasi yang disampaikan oleh perseroan sebelum mengambil keputusan investasi. Selain JARR, BEI juga menghentikan sementara perdagangan saham PT Era Graharealty Tbk (IPAC) di seluruh pasar mulai sesi I Jumat (11/9/2026).
Penghentian perdagangan IPAC berkaitan dengan surat perseroan Nomor 132/ERA/IX/26 tertanggal 7 September 2026 mengenai rencana voluntary delisting dan go private. Suspensi IPAC berlaku hingga terdapat pengumuman lebih lanjut dari Bursa.
Belum Ada Tanggapan Resmi
Hingga berita ini terbit, belum ada respons dari perwakilan Haji Isam terkait kabar akuisisi BYAN. BYAN dan keluarga Low juga tidak menanggapi permintaan komentar mengenai rumor tersebut.
Sejumlah pihak menilai negosiasi tersebut belum mencapai kesepakatan final. Pasar masih menanti kejelasan apakah tawaran senilai US$ 3 miliar itu akan berlanjut atau berubah seiring dinamika valuasi dan prospek industri batu bara ke depan.
Yang perlu dicermati selanjutnya adalah bagaimana respons otoritas bursa dan pemegang saham minoritas BYAN. Transaksi blok saham pengendali dalam jumlah besar berpotensi memicu kewajiban penawaran tender (tender offer) yang dapat memengaruhi struktur kepemilikan dan harga saham di pasar.
Bagi investor, perbedaan tajam antara harga bursa dan nilai negosiasi menjadi pengingat bahwa valuasi saham dengan free float terbatas tidak selalu mencerminkan nilai akuisisi riil. Perkembangan negosiasi antara Andi Syamsuddin Arsyad dan keluarga Low akan menjadi salah satu agenda yang paling dinanti pelaku pasar dalam beberapa pekan mendatang.












