IHSG Terkoreksi Tajam, Analis Proyeksi Pergerakan Indeks Jumat (9/10)

IHSG Terkoreksi Tajam, Analis Proyeksi Pergerakan Indeks Jumat (9/10)
IHSG Terkoreksi Tajam, Analis Proyeksi Pergerakan Indeks Jumat (9/10)

Cakrawala News – 10 Oktober 2026 | IHSG terkoreksi tajam kemarin, cermati proyeksi analis untuk Jumat (9/10) menjadi sorotan pelaku pasar setelah Indeks Harga Saham Gabungan bergerak fluktuatif dalam sepekan terakhir. Koreksi tajam tersebut membuat sejumlah analis sekuritas mengingatkan investor untuk mencermati area support dan resistance sebelum mengambil keputusan jual beli. Sebelumnya, IHSG sempat ditutup menguat 1,36% ke level 6.118 pada Senin (5/10) dengan volume pembelian yang cukup tinggi, namun penguatan itu tidak sepenuhnya menghapus tekanan yang masih membayangi indeks.

Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memperkirakan posisi IHSG saat ini merupakan bagian dari wave c dari wave (y). Ia menyarankan investor mencermati area koreksi yang diperkirakan berada di rentang 5.850 hingga 5.911. MNC Sekuritas juga menargetkan area support IHSG berada di kisaran 5.949 sampai 5.872, sementara level resistance diperkirakan berada pada rentang 6.187 hingga 6.297.

Support adalah area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu. Ketika harga menyentuh support, harga umumnya berpotensi kembali naik karena daya beli saham meningkat. Sementara resistance merupakan tingkat harga saham tertentu yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah menyentuh level ini, biasanya muncul aksi jual cukup besar hingga laju kenaikan harga tertahan.

Sentimen Global dan Data Ekonomi AS

Selain faktor teknikal, pergerakan IHSG juga dipengaruhi sentimen global. Phintraco Sekuritas menyoroti bahwa secara teknikal, indikator Stochastic RSI mengindikasikan pembalikan arah setelah berada di area oversold. Histogram negatif MACD juga mulai menyempit, dan IHSG ditutup di atas level MA5. Dengan kondisi tersebut, Phintraco Sekuritas memperkirakan penguatan IHSG berpotensi berlanjut dengan menguji level 6.150 hingga 6.200.

Dari sisi eksternal, Phintraco Sekuritas mencatat Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Jumat (2/10) setelah data nonfarm payrolls (NFP) Amerika Serikat berada di bawah ekspektasi. Data tersebut meningkatkan harapan pasar bahwa The Federal Reserve tidak akan menaikkan suku bunga pada bulan ini. NFP AS hanya bertambah 29.000 pada September, melambat dari 133.000 pada Agustus dan jauh di bawah estimasi 90.000. Tingkat pengangguran juga naik menjadi 4,2% dari 4,1%.

Kendati Wall Street menguat, indeks saham AS ditutup di bawah level tertinggi intraday setelah imbal hasil US Treasury kembali naik usai sempat melemah. Dinamika ini menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati investor di pasar domestik, terutama karena arus dana asing masih menunjukkan tekanan keluar.

Sebelumnya, pada perdagangan Jumat (2/10), IHSG ditutup naik 0,46% atau 27,38 poin ke level 6.036,89. Pada awal perdagangan, IHSG dibuka di posisi 6.018,08 dan sempat menyentuh level tertinggi di 6.053,23. Namun, tekanan jual kemudian menyeret indeks turun hingga menyentuh level terendah di 5.979,98. Penguatan indeks saat itu disokong oleh 319 saham yang menguat, 134 saham tak bergerak, dan 337 saham lainnya melemah.

Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi tercatat 120,68 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 12,25 triliun dan berpindah tangan 1,61 juta kali. Sektor penopang IHSG saat itu adalah energi, konsumer primer, teknologi, dan finansial. Saham-saham penopang indeks antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT Astra International Tbk (ASII), PT GOTO Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).

Meski IHSG menguat, perdagangan foreign di all market bursa mencatat net foreign outflow sebesar Rp 1,27 triliun. Di pasar reguler, net foreign outflow tercatat sebesar Rp 1,31 triliun. Secara mingguan, IHSG masih terkoreksi 3,28% dan telah berada di bawah moving average (MA) 20 harian.

Rekomendasi Saham dari Analis

Di tengah kondisi tersebut, sejumlah sekuritas merilis rekomendasi saham untuk perdagangan hari ini. MNC Sekuritas merekomendasikan trading buy untuk saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dengan akumulasi beli di rentang Rp 4.070 hingga Rp 4.170, target harga di Rp 4.420 sampai Rp 4.660, dan level stoploss di bawah Rp 3.960.

Selain itu, PT Medco Energy Internasional Tbk (MEDC) direkomendasikan buy on weakness pada area Rp 1.325 hingga Rp 1.375 dengan target harga di Rp 1.450 sampai Rp 1.485, dan stoploss di bawah Rp 1.315. MNC Sekuritas juga menyoroti saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dengan akumulasi beli di rentang Rp 16.675 hingga Rp 16.850, target harga Rp 17.575 sampai Rp 18.250, dan stoploss di bawah Rp 16.575.

Sementara itu, PT Indosat Tbk (ISAT) direkomendasikan buy on weakness pada area Rp 2.110 hingga Rp 2.180 dengan target harga di Rp 2.400 sampai Rp 2.480, dan stoploss di bawah Rp 2.050. Sebelumnya, MNC Sekuritas juga menyebut saham PT Era Media Sejahtera Tbk (DOOH), PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM) sebagai pilihan pada awal pekan.

Adapun Pilarmas Investindo Sekuritas memproyeksikan IHSG berpotensi melemah terbatas dengan level support dan resistance di kisaran 5.935 hingga 6.120. Sekuritas ini memilih saham PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), PT Semen Gresik Tbk (SMGR), dan PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) sebagai rekomendasi.

Perbedaan proyeksi antaranalis menunjukkan bahwa pasar masih berada dalam fase pencarian arah. Sebagian analis melihat peluang penguatan lanjutan, sementara sebagian lain mengingatkan risiko koreksi lanjutan apabila level support tidak mampu bertahan.

Yang Perlu Dicermati Investor

Bagi investor, IHSG terkoreksi tajam kemarin, cermati proyeksi analis untuk Jumat (9/10) menjadi pengingat pentingnya mengelola risiko. Selain memperhatikan level teknikal, pelaku pasar disarankan memantau perkembangan data ekonomi global, arah suku bunga The Fed, serta arus dana asing yang masih keluar dari pasar saham domestik.

Dengan rentang support dan resistance yang beragam antaranalis, volatilitas diperkirakan masih mewarnai perdagangan. Keputusan investasi sebaiknya didasarkan pada riset yang memadai, disiplin pada level stoploss, dan pemahaman terhadap profil risiko masing-masing investor.

Exit mobile version