Cakrawala News – 09 Oktober 2026 | Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi salah satu saham yang paling menekan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Jumat, 9 Oktober 2026. BBRI tercatat turun 3,50% di tengah aksi jual investor asing yang kembali membayangi bursa saham domestik. Meski demikian, IHSG justru berhasil ditutup menguat 1,04% atau 62,47 poin ke level 6.093,75, ditopang penguatan sejumlah saham berkapitalisasi besar lainnya.
Tekanan jual asing terlihat jelas pada sejumlah saham perbankan dan tambang. Selain BBRI, saham BMRI juga terkoreksi 3,50%, sementara AMMN melemah 6,40%. Ketiga saham tersebut mencatatkan nilai jual bersih asing sekitar Rp461,93 miliar. BBRI, BMRI, dan BBCA bahkan masuk dalam daftar 10 saham yang paling menekan pergerakan indeks.
Secara keseluruhan, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp848,28 miliar di pasar reguler. Di seluruh pasar, nilai jual bersih asing mencapai Rp867,27 miliar. Kondisi ini memperlihatkan bahwa tekanan eksternal masih menjadi faktor yang perlu dicermati pelaku pasar.
IHSG Berbalik Menguat di Akhir Sesi
Meski diwarnai tekanan pada sejumlah saham besar, IHSG justru berakhir di zona hijau. Berdasarkan data RTI Infokom, indeks bergerak fluktuatif sejak pembukaan pasar. Pada pukul 09.11 WIB, IHSG dibuka di level 6.039,01, lalu berbalik melemah 0,2% ke 6.019,15. Memasuki akhir sesi pertama, indeks kembali menguat ke 6.052,51, dan penguatan berlanjut hingga penutupan di level 6.093,75.
Penguatan IHSG terjadi setelah indeks ditutup melemah 1,88% ke level 6.031,28 pada perdagangan Kamis, 8 Oktober 2026. Pada penutupan Jumat, mayoritas saham mencatatkan kenaikan. Sebanyak 381 saham naik, 238 saham melemah, dan 172 saham lainnya stagnan. Kapitalisasi pasar IHSG tercatat mencapai Rp10.724 triliun.
Pada jeda Sesi I, IHSG sempat menguat 0,35% ke posisi 6.052,51 dengan rentang perdagangan 5.995,82 hingga 6.059,5. Nilai perdagangan mencapai Rp4,58 triliun dari 19,01 miliar saham, dengan frekuensi 795 ribu kali. Saat itu, 311 saham menguat dan 298 saham terkoreksi.
BBRI Sempat Melonjak di Sesi I
Menariknya, BBRI sempat mencatatkan penguatan di Sesi I. Saham bank pelat merah itu melonjak 1,32% ke Rp3.070 per saham setelah 45 juta saham ditransaksikan, dengan nilai transaksi mencapai Rp138,89 miliar hingga tengah hari. Namun, tekanan jual pada sesi berikutnya membuat BBRI berbalik melemah 3,50% hingga penutupan.
Pergerakan BBRI yang berbalik arah menunjukkan dinamika pasar yang masih rentan terhadap aksi jual asing. Saham-saham barang baku, perindustrian, dan keuangan sempat menjadi pendorong penguatan IHSG dengan kenaikan masing-masing 0,93%, 0,59%, dan 0,54%. Saham TLKM dan BUMI juga kompak ditutup di zona hijau pada perdagangan hari itu.
Di sisi lain, sejumlah saham lain mencatatkan kenaikan, seperti AMRT yang naik 2,04%, KLBF menguat 2,65%, dan ASII bertambah 0,42%. Dari 11 sektor yang diperdagangkan, sembilan sektor berakhir di zona merah. Sektor Industrial menjadi yang mengalami penurunan paling dalam, yakni 2,86%, sementara sektor Health menjadi satu dari dua sektor yang menguat dengan kenaikan 0,70%.
Sentimen Bursa Global dan ETF
Pergerakan bursa Amerika Serikat juga berlangsung beragam. Dow Jones naik 0,10% ke 51.231, sedangkan S&P 500 turun 0,47% ke 7.765 dan Nasdaq melemah 1,25% ke 27.193. Sentimen global ini turut memengaruhi aliran dana asing di pasar domestik.
Selain itu, ETF EIDO turun 1,60% dan MSCI Indonesia melemah 1,96%. Pelemahan instrumen yang melacak pasar Indonesia ini mencerminkan masih adanya kekhawatiran investor terhadap prospek jangka pendek pasar saham dalam negeri.
Koreksi pada BBRI dan saham perbankan lainnya menjadi perhatian utama karena bobotnya yang besar dalam indeks. Meski IHSG berhasil menguat, tekanan pada saham-saham big caps perbankan dapat menjadi sinyal bahwa arus keluar dana asing belum sepenuhnya mereda.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati kelanjutan aksi jual asing serta pergerakan saham-saham perbankan, termasuk BBRI, yang menjadi barometer sektor keuangan. Perkembangan bursa global dan nilai tukar juga akan menjadi faktor penting yang menentukan arah IHSG pada perdagangan berikutnya.
