Indonesia Reopens Jakarta Airport as Anak Krakatau Volcanic Ash Disruption Eases

Indonesia Reopens Jakarta Airport as Anak Krakatau Volcanic Ash Disruption Eases
Indonesia Reopens Jakarta Airport as Anak Krakatau Volcanic Ash Disruption Eases

Cakrawala News – 08 September 2026 | Indonesia mulai memulihkan operasional penerbangan setelah erupsi Gunung Anak Krakatau memicu gangguan besar pada sektor aviasi. Peristiwa indonesia volcano eruption anak krakatau ini sempat menutup delapan bandara dan membuat lebih dari 340.000 penumpang terlantar. Kini, bandara utama Jakarta dan sejumlah bandara lain telah kembali beroperasi.

Kementerian Perhubungan melalui akun Instagram resminya mengumumkan bahwa Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang dan empat bandara lain di sekitar Jakarta atau Pulau Jawa telah beroperasi kembali pada Selasa pagi. Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta Timur, yang melayani penerbangan sipil dan militer, serta Bandara Husein Sastranegara di Bandung, Jawa Barat, juga termasuk yang dibuka kembali.

Sebelumnya, delapan bandara menghentikan operasi selama akhir pekan setelah abu vulkanik terdeteksi di wilayah udara mereka. Akibatnya, hampir 3.000 penerbangan terganggu dan lebih dari 340.000 penumpang terlantar di sejumlah bandara. Bandara Soekarno-Hatta sendiri sempat menunda operasional hingga Senin sore, namun kemudian diperpanjang beberapa kali sebelum akhirnya dibuka kembali.

Dalam pernyataannya, pengelola Bandara Soekarno-Hatta menegaskan bahwa operasional penerbangan telah dilanjutkan menyusul penurunan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Sementara itu, dua bandara dari delapan bandara yang sempat ditutup masih belum beroperasi. Satu bandara kecil di Sumatera Selatan telah dibuka kembali pada Senin pagi.

Gunung Anak Krakatau Erupsi dan Dampaknya pada Penerbangan

Gunung Anak Krakatau, yang terletak sekitar 150 kilometer dari Jakarta, mulai erupsi pada Sabtu (5 September 2026). Erupsi tersebut memuntahkan lava pijar dan kolom abu vulkanik yang menyebar ke sejumlah wilayah udara di Jawa dan Sumatera. Abu vulkanik ini membahayakan penerbangan karena dapat mengganggu mesin pesawat dan mengurangi visibilitas pilot.

Akibatnya, sejumlah bandara terpaksa ditutup demi keselamatan penerbangan. Penumpang di Bandara Soekarno-Hatta sempat kebingungan mencari informasi status penerbangan mereka. Banyak di antara mereka yang tidur di bangku-bangku terminal karena harus menunggu kepastian jadwal.

Salah seorang penumpang asal Spanyol, Carlos Zabala (24), mengungkapkan frustrasinya karena penerbangannya terus tertunda. “Yang bisa kami lakukan hanyalah menunggu, dan menunggu, dan menunggu,” ujarnya kepada awak media.

Maskapai Mulai Memberangkatkan Penumpang yang Terlantar

Dengan dibukanya kembali bandara-bandara tersebut, maskapai penerbangan kini menghadapi tugas berat untuk memberangkatkan ribuan penumpang yang telah menunggu berhari-hari. Pada Senin pagi saja, lebih dari 240 penerbangan domestik dan internasional di Bandara Soekarno-Hatta dibatalkan atau ditunda, yang berdampak pada hampir 30.000 penumpang.

Kementerian Perhubungan sebelumnya telah menyiapkan enam bandara pengalihan untuk pesawat yang dijadwalkan mendarat di Jakarta. Namun, karena abu vulkanik yang menyebar, beberapa penerbangan terpaksa dialihkan ke bandara lain, termasuk ke Kuala Lumpur International Airport (KLIA) di Malaysia.

Otoritas Penerbangan Sipil Malaysia (CAAM) menyatakan telah menerima dua penerbangan yang dialihkan dari Jakarta, masing-masing dari Oman dan Arab Saudi. “Sejauh ini, kami hanya menerima dua pengalihan yang seharusnya menuju Jakarta,” kata Kepala Eksekutif CAAM, Norazman Mahmud.

Ancaman Bahaya dan Konteks Vulkanologi

Otoritas setempat mengimbau warga untuk tetap berada setidaknya tiga kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau. Gunung ini merupakan salah satu dari sekitar 130 gunung berapi aktif di Indonesia, yang terletak di kawasan Cincin Api Pasifik, zona dengan aktivitas seismik tinggi akibat pertemuan lempeng bumi.

Anak Krakatau, yang berarti “anak dari Krakatau”, mulai muncul sekitar satu abad lalu dari area yang sebelumnya merupakan lokasi Gunung Krakatau. Gunung Krakatau pernah meletus dahsyat pada 1883, menewaskan lebih dari 36.000 orang akibat tsunami yang ditimbulkannya. Pada 2018, letusan Anak Krakatau juga memicu tsunami yang menewaskan lebih dari 400 orang.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan bahwa pemerintah belum bisa memastikan kapan semua bandara akan beroperasi normal karena kondisi cuaca yang dinamis. “Kami tidak dapat memastikan kapan ini akan berakhir karena cuaca yang dinamis,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Meski demikian, pembukaan kembali bandara-bandara utama menjadi sinyal positif bagi pemulihan sektor penerbangan Indonesia. Maskapai kini berlomba menuntaskan penumpukan penumpang yang telah menanti berhari-hari. Para penumpang pun berharap jadwal penerbangan mereka segera dipulihkan sehingga dapat melanjutkan perjalanan.

Exit mobile version