Cakrawala News – 29 Oktober 2026 | Kalah dalam pilpres Brasil, Flavio Bolsonaro kabur ke Amerika Serikat dan langsung memicu gejolak politik baru. Kandidat presiden sayap kanan yang kalah dari Luiz Inacio Lula da Silva itu menegaskan dirinya sebagai pemimpin sah Brasil, menolak hasil pemilu, dan berjanji memimpin oposisi dari pengasingan di Negeri Paman Sam.
Flavio, senator berusia 45 tahun dan putra mantan Presiden Jair Bolsonaro, mendarat dengan jet pribadi di Bandara Eksekutif Opa-Locka dekat Miami, Florida, pada Rabu (28/10) waktu setempat. Kedatangannya terjadi kurang dari 72 jam setelah ia kalah tipis dalam putaran kedua pilpres Brasil pada Minggu (25/10).
Dalam pernyataan yang diunggah di akun X-nya, Flavio awalnya menyebut dirinya sebagai “presiden terpilih” Brasil. Ia menuding para “penjahat yang mencuri pemilu” sebagai bagian dari organisasi kriminal yang membangun tirani. Namun, dalam pernyataan lanjutan, ia merevisi klaimnya dengan menyebut dirinya sebagai “pemimpin”, bukan “presiden”.
“Saya adalah pemimpinnya, dan para penjahat yang mencuri pemilu Brasil merupakan bagian dari organisasi kriminal yang telah menegakkan tirani,” kata Flavio dalam pernyataan yang telah direvisi tersebut, sembari mengecam adanya “kecurangan pemilu”. “Saya akan memimpin oposisi dari sini,” tegasnya.
Pernyataan itu menjadi pernyataan publik pertama Flavio sejak meninggalkan Brasil. Ia menolak hasil penghitungan suara resmi yang dilakukan Pengadilan Pemilihan Umum Tertinggi (TSE) Brasil. Menurut Flavio, ia menyaksikan “dengan ngerinya sebuah kecurangan pemilu terjadi di depan mata” pada Minggu malam. Namun, ia tidak memberikan bukti maupun dokumentasi konkret apa pun untuk mendukung klaimnya itu.
Kekalahan Tipis dan Jalan Kabur Lewat Argentina
Berdasarkan hasil resmi, Lula meraih 51,75 persen suara, sedangkan Flavio memperoleh 48,25 persen. Lula unggul sekitar 4,4 juta suara. Sejumlah sumber menyebut angka 51,76 berbanding 48,24 persen. Hasil tersebut menjadi kejutan karena Flavio sebelumnya unggul atas Lula pada putaran pertama pemilihan pada 4 Oktober lalu.
Lula, presiden sayap kiri, berhasil membalikkan keadaan pada putaran kedua dan mempertahankan kursi kepresidenan untuk masa jabatan keempatnya di negara terbesar di Amerika Latin itu.
Flavio meninggalkan Brasil secara diam-diam melalui Argentina sebelum tiba di Miami. Sejumlah laporan menyebut ia juga melewati Ekuador. Kepergiannya melanggar pencegahan yang ditetapkan Mahkamah Agung Brasil, yang sebelumnya memerintahkan dirinya menyerahkan paspor dan melarangnya ke luar negeri.
Pencegahan ke luar negeri itu diajukan Kepolisian Brasil kepada Mahkamah Agung dengan alasan adanya risiko Flavio kabur terkait serangkaian penyelidikan dugaan korupsi dan pencucian uang yang tengah berlangsung terhadapnya. Sumber kepolisian Brasil menyatakan paspor Brasil dan paspor diplomatik Flavio telah dibatalkan. Informasi detail soal bagaimana Flavio, yang didampingi istri dan anak-anak perempuannya, tiba di wilayah AS masih belum jelas.
Menjelaskan kepergiannya yang mendadak, Flavio mengatakan ia menghadapi politisasi sistem peradilan di Brasil, yang mendorongnya membawa keluarganya ke AS. “Tidak ada surat perintah penangkapan terhadap saya karena saya tidak melakukan kejahatan apa pun. Apa yang terjadi saat ini adalah perburuan politik, upaya untuk menjadikan saya sandera atau alat pemerasan guna melindungi hakim-hakim Mahkamah Agung yang korup dari pemakzulan,” ujarnya.
Partai Liberal Menjauh, Trump Pilih Tak Ikut Campur
Sikap menantang Flavio tidak sepenuhnya mendapat dukungan dari partainya sendiri. Rogerio Marinho, pemimpin Partai Liberal di Senat, menyatakan solidaritas kepada Flavio, tetapi menjauhkan diri dari klaim kecurangan pemilu. “Partai Liberal tidak bisa mengklaim hal itu. Tidak ada bukti untuk itu,” kata Marinho kepada wartawan di Brasilia.
Marinho menyebut Flavio sebagai perwujudan sayap kanan Brasil saat ini. “Dia menyebut dirinya seorang pemimpin dan itu benar: dia adalah seorang pemimpin,” ujarnya.
Dari Washington, Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak akan ikut campur dalam gejolak politik Brasil. Ia mengakui AS telah mengizinkan Flavio masuk ke negaranya, tetapi memilih tidak berkomentar lebih jauh mengenai klaim politik tersebut.
“Saya tidak akan berkomentar mengenai hal itu, tetapi saya tahu bahwa kami memberinya izin untuk masuk ke negara ini, jadi kita lihat saja,” kata Trump kepada wartawan. “Saya tidak akan ikut campur. Pemilihan itu sangat aneh, itu sudah pasti,” lanjutnya.
Pemerintahan Trump diketahui memiliki hubungan kuat dengan Flavio dan ayahnya, Jair Bolsonaro, yang kini berada di bawah tahanan rumah di Brasil. Jair juga sempat menolak mengakui kekalahannya dari Lula pada 2022 dan meninggalkan Brasil menjelang pelantikan Lula.
Gejolak yang Masih Berlanjut
Langkah Flavio menambah tekanan bagi stabilitas politik Brasil. Setelah kalah, ia menolak menerima hasil pemilu dan menyatakan akan berupaya membatalkannya. Ia mempersoalkan keputusan Mahkamah Agung Brasil yang memperpanjang waktu pemungutan suara selama dua jam di sejumlah wilayah karena kendala transportasi dan cuaca.
Hingga kini belum ada keterangan resmi dari otoritas Brasil mengenai langkah hukum lanjutan terhadap Flavio, termasuk kemungkinan upaya menjemputnya dari AS. Yang jelas, kalah dalam pilpres Brasil, Flavio Bolsonaro kabur ke Amerika dan memilih melanjutkan perlawanan dari luar negeri.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa ketegangan politik di Brasil belum berakhir meski hasil pemilu telah ditetapkan. Perhatian publik kini tertuju pada bagaimana pemerintah Lula merespons klaim Flavio, sikap Partai Liberal, serta kemungkinan langkah hukum terkait pelanggaran larangan bepergian yang dilakukannya.












