Daerah  

Kronologi Peserta Karnaval Berbau Satanis di Pekalongan Meninggal Usai Tampil

Kronologi Peserta Karnaval Berbau Satanis di Pekalongan Meninggal Usai Tampil
Kronologi Peserta Karnaval Berbau Satanis di Pekalongan Meninggal Usai Tampil

Cakrawala News – 17 September 2026 | Kronologi peserta karnaval berbau satanis di Pekalongan meninggal usai tampil menjadi sorotan publik setelah Ahmad Faiz (40), warga Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, meninggal dunia pada Jumat (11/9/2026), beberapa jam setelah mengikuti Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 yang digelar Kamis (10/9/2026) malam. Faiz merupakan bagian dari Tim SimOne, kelompok peserta yang belakangan viral karena menampilkan teatrikal yang oleh sebagian masyarakat dinilai menyerupai ritual satanik. Polisi menyatakan Faiz meninggal dunia setelah tampil dalam karnaval tersebut.

Kabar duka itu muncul di tengah polemik yang belum mereda. Sebelumnya, video penampilan Tim SimOne beredar luas di media sosial dan memicu reaksi keras warganet. Dalam rekaman tersebut, sejumlah peserta terlihat mengenakan topeng tengkorak berjubah putih dengan tudung segitiga, membawa peti mati berwarna putih, serta menampilkan adegan penyembelihan kambing. Pertunjukan itu juga diramaikan ogoh-ogoh dan parade kostum yang dianggap menyimpang dari nilai budaya setempat.

Kronologi Meninggalnya Ahmad Faiz

Berdasarkan keterangan kepolisian, Ahmad Faiz mengikuti karnaval sebagai peserta dari kontingen Gang 2. Ia mengenakan kostum maskot berwarna hitam dengan detail tanduk serta ekor, dan berjalan di bagian depan rombongan Tim SimOne. Dalam video yang beredar, Faiz tampak memimpin barisan dengan kostum tersebut.

Setelah selesai tampil, Faiz langsung pulang ke rumah pamannya dan mengobrol dengan teman-temannya. Ia bahkan sempat membelikan teh untuk pamannya. Faiz kemudian pulang ke rumahnya di Gang 1 Kelurahan Simbang Kulon untuk tidur karena kelelahan.

Namun, sang istri mendapati Faiz bernapas tersengal-sengal. Ia sempat hendak membawa suaminya ke rumah sakit, tetapi Faiz ternyata sudah meninggal dunia. Kapolsek Buaran beserta anggotanya mendatangi rumah duka. Polisi menyebut pihak keluarga telah mengikhlaskan kepergian Ahmad Faiz dan tidak bersedia dilakukan autopsi.

Perwakilan Tim SimOne, M Akhid, membenarkan kabar duka tersebut saat ditemui di Kantor Pemkab Pekalongan, seusai menemui Sekretaris Daerah Kabupaten Pekalongan. Akhid menyatakan Faiz meninggal karena kelelahan setelah menjalani persiapan karnaval selama kurang lebih satu pekan. “(Peserta meninggal) Itu memang iya, iya, karena kelelahan,” kata Akhid singkat. Ia juga membenarkan bahwa Faiz merupakan peserta yang mengenakan kostum maskot di bagian depan rombongan.

Polemik Kostum dan Permintaan Maaf Tim SimOne

Penampilan Tim SimOne dalam SKNC 2026 menjadi polemik setelah potongan video tersebar di media sosial. Ribuan penonton menyaksikan peserta menyusuri rute karnaval sepanjang sekitar tiga kilometer pada Kamis malam. Sejumlah warganet mempertanyakan konsep pertunjukan yang dinilai tidak sesuai dengan kultur dan nilai masyarakat setempat, bahkan mengaitkannya dengan ritual pemujaan satanik.

Menanggapi hal itu, perwakilan Tim SimOne, M Akhid, menyampaikan permintaan maaf. Ia mengaku pihaknya kurang literasi soal pertunjukan yang dibawakan. “Kami perwakilan dari Tim Simone minta maaf. Kami menyesal, kami kurang literasi. Kami mohon maaf yang sebesar-sebesarnya atas penampilan kami di depan panggung,” ujar Akhid.

Akhid menjelaskan, ide pertunjukan itu berawal dari melihat kostum unik yang kemudian mereka sewa dan tiru dari Malang. Gerakan dan koreografi dilatih bersama teman-teman dengan referensi dari YouTube serta berbagai perform daerah Malang. Ia menegaskan awalnya tidak mengetahui bahwa penampilan tersebut dikaitkan dengan ritual satanik. “Kalau awalnya kami tidak tahu apa itu ritual satanik. Kami hanya melihat unik, kemudian kami sewa,” ujarnya. Latihan koreografi dilakukan selama sepekan sebelum pertunjukan.

Ketua Panitia SKNC 2026, Ziyad Azizi, juga membenarkan adanya penampilan Tim SimOne dalam gelaran tersebut. Ia berdalih panitia tidak mengetahui secara detail konsep pertunjukan yang dibawakan peserta. Ziyad mengaku baru mengetahui setelah pertunjukan itu menjadi polemik, dan mewakili panitia menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat.

Respons Pemerintah Daerah dan Langkah Klarifikasi

Sekretaris Daerah Kabupaten Pekalongan, M Yulian Akbar, menuturkan pemerintah daerah akan memanggil panitia SKNC untuk melakukan klarifikasi. “Dalam jangka waktu dekat ini, kami akan mengundang panitia, teman-teman panitia SKNC, untuk dilakukan klarifikasi sebenarnya apa yang terjadi di sana,” kata Yulian di kantor pemkab, Senin (14/9/2026).

Selain memanggil panitia, Pemkab Pekalongan akan berkoordinasi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk meminta masukan. “Kami segera koordinasi juga dengan MUI untuk meminta masukan,” tambah Yulian. Langkah ini diambil untuk menilai apakah pertunjukan tersebut melanggar norma yang berlaku di masyarakat.

Lurah Simbang Kulon turut menyoroti pelaksanaan acara tersebut dan meminta Sekda memeriksa penyelenggaraannya. Sorotan ini menambah tekanan bagi panitia yang dinilai kurang selektif dalam menyaring konsep peserta karnaval.

Kasus kronologi peserta karnaval berbau satanis di Pekalongan meninggal usai tampil ini menyisakan dua persoalan yang saling berkaitan: polemik konsep pertunjukan dan musibah yang menimpa salah satu peserta. Publik kini menunggu hasil klarifikasi panitia serta masukan dari MUI sebelum pemerintah daerah mengambil sikap resmi.

Ke depan, perhatian tertuju pada bagaimana Pemkab Pekalongan mengevaluasi penyelenggaraan SKNC agar peristiwa serupa tidak terulang. Selain itu, proses klarifikasi diharapkan memberi kejelasan mengenai tanggung jawab panitia, sekaligus menjawab kekhawatiran warga atas penampilan yang dianggap bertentangan dengan nilai budaya dan keagamaan setempat.

Exit mobile version