Lampung Jadi Pangkalan Kapal Induk Pertama RI, KRI Sriwijaya Bakal Diperemajaan Sesuai Kondisi Laut Indonesia

Lampung Jadi Pangkalan Kapal Induk Pertama RI, KRI Sriwijaya Bakal Diperemajaan Sesuai Kondisi Laut Indonesia
Lampung Jadi Pangkalan Kapal Induk Pertama RI, KRI Sriwijaya Bakal Diperemajaan Sesuai Kondisi Laut Indonesia

Cakrawala News – 21 September 2026 | Lampung jadi pangkalan kapal induk pertama RI, akan ada peremajaan sesuai kondisi laut Indonesia. Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali menyatakan perairan Teluk Ratai, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung, dipilih sebagai lokasi pangkalan bagi kapal induk ringan ITS Giuseppe Garibaldi yang akan berganti nama menjadi KRI Sriwijaya. Keputusan ini menandai pertama kalinya Indonesia memiliki pangkalan khusus untuk kapal induk.

Ali menjelaskan pemilihan Lampung didasarkan pada kondisi geografis yang dinilai sangat memungkinkan. Kedalaman laut di dermaga disebut cukup untuk menampung kapal dengan draft sekitar 8 hingga 8,5 meter. “Lampung ini kenapa kita pilih karena dia situasi geografisnya sangat memungkinkan, kedalamannya juga cukup. Draf-nya ini sekitar 8 meter, jadi di sana cukup,” kata Ali saat jumpa pers usai meninjau kapal induk Giuseppe Garibaldi di Dermaga 107, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat, 18 September 2026.

Selain faktor kedalaman, Ali menilai akses navigasi di perairan Lampung bagus dan relatif terlindung. Posisi itu disebut memudahkan kapal beroperasi ke berbagai wilayah. Menurutnya, Lampung tidak akan menjadi satu-satunya tempat kapal induk bersandar karena TNI AL telah menyiapkan sejumlah pangkalan lain di lokasi berbeda.

Peremajaan Menyesuaikan Kondisi Laut Tropis

Kapal Giuseppe Garibaldi telah tiba di Indonesia pada Jumat, 18 September 2026, dan bersandar di Dermaga 107 Pelabuhan Tanjung Priok. Kapal tersebut masih berstatus milik Angkatan Laut Italia. Ali memperkirakan serah terima kepada TNI AL berlangsung pada 24 September 2026, bersamaan dengan agenda reflagging atau pergantian bendera dari Italia menjadi Indonesia.

Ali memastikan kapal induk pertama Indonesia itu masih dapat digunakan TNI AL selama 15 hingga 20 tahun ke depan. Meski demikian, kapal eks Angkatan Laut Italia tersebut sudah tergolong tua, yakni berusia 41 tahun. Untuk memperpanjang masa pakainya, TNI AL berencana memodernisasi atau melakukan retrofit mesin dan berbagai teknologi.

“Jadi, kita sesuaikan dengan kepentingan Angkatan Laut kita di Indonesia dengan situasi di laut tropis, kita sesuaikan apa yang perlu ditambahkan apa yang tidak perlu,” ujar Ali sebagaimana dilansir Antara. Proses retrofit akan diserahkan kepada industri dalam negeri, yaitu PT PAL, bersama pihak pembuat Garibaldi, Fincantieri dari Italia.

Pengamat pertahanan dan Co-Founder Jakarta Defence Society, Ade P. Marboen, menilai rencana TNI AL menggunakan kapal induk ringan ini sebagai langkah tepat untuk memperkuat kekuatan maritim Indonesia. Namun ia mengingatkan TNI AL perlu memperhitungkan jangka pemakaian kapal yang seharusnya sudah pensiun pada 1 Oktober 2024 setelah dipakai Angkatan Laut Italia. Menurut dia, meski Fincantieri akan memperbaiki kapal agar dapat beroperasi 15 sampai 20 tahun ke depan, TNI tetap harus mempertimbangkan kualitas kapal tersebut.

Spesifikasi dan Rencana Operasi

Giuseppe Garibaldi memiliki panjang 180,2 meter dan lebar 33,4 meter. Kapal ini dilengkapi mesin penggerak yang dapat melaju hingga kecepatan 30 knot atau sekitar 56 kilometer per jam. Kapal pengangkut pesawat tempur tersebut juga dibekali sejumlah radar jamming hingga persenjataan, seperti peluncur Oktupel Mk.29 untuk rudal antipesawat sea sparrow/selenia aspide, Oto Melara Kembar 40L70 DARDO, tabung torpedo rangkap tiga 324 milimeter, dan Otomat Mk 2 SSM.

Ali menyebut kapal itu mampu menampung sedikitnya 14 helikopter. Kemampuan tersebut dinilai penting karena TNI AL membutuhkan platform yang dapat membawa banyak helikopter. Kapal induk ini akan difokuskan untuk tugas Operasi Militer Selain Perang (OMSP), terutama bantuan penanganan bencana kebakaran hutan dan lahan serta bantuan kemanusiaan. Kondisi Indonesia yang kerap dilanda bencana menjadi pertimbangan memfungsikan kapal di luar urusan perang.

Dengan spesifikasi itu, logistik untuk penanganan bencana kebakaran hutan disebut bisa lebih cepat didistribusikan ke area terpencil. Kapal juga akan mendukung penguatan dan modernisasi Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) TNI AL. Sementara untuk penempatan organisasinya, Ali menyatakan pihaknya masih mempertimbangkan apakah akan membangun satuan baru, menempatkannya di Satuan Bantu Koarmada, atau di Kolinlamil.

Giuseppe Garibaldi memiliki kesamaan dengan dua KRI baru milik TNI AL, yakni KRI Brawijaya 320 dan KRI Prabu Siliwangi 321, yang sama-sama dibuat perusahaan asal Italia, Fincantieri. Kesamaan asal galangan itu dinilai memudahkan proses pemeliharaan dan kerja sama teknis ke depan.

Penetapan Lampung sebagai pangkalan kapal induk pertama RI menjadi penanda penting bagi penguatan pertahanan maritim Indonesia. Perhatian berikutnya tertuju pada proses serah terima dan reflagging pada 24 September 2026, kesiapan pangkalan di Teluk Ratai, serta realisasi program retrofit yang akan menyesuaikan kapal dengan kondisi laut tropis Indonesia. Publik masih menantikan kepastian jadwal, anggaran, dan bentuk akhir organisasi satuan yang akan menaungi KRI Sriwijaya.

Exit mobile version