Cakrawala News – 28 Oktober 2026 | Luiz Inácio Lula da Silva atau Lula da Silva terpilih sebagai presiden Brasil untuk keempat kalinya, cetak rekor sejarah sebagai kepala negara pertama di Negeri Samba yang mampu memenangi empat masa jabatan kepresidenan. Dalam putaran kedua pemilihan presiden yang digelar Minggu (25/10/2026), politikus berusia 81 tahun itu mengalahkan Flávio Bolsonaro, putra mantan Presiden Jair Bolsonaro, dengan perolehan suara 51,79 persen berbanding 48,21 persen.
Kemenangan tersebut diumumkan Pengadilan Pemilu Tertinggi (TSE) Brasil setelah hampir seluruh tempat pemungutan suara ditutup. Selisih suara keduanya disebut mencapai sekitar 4,4 juta suara. Lula akan memulai masa jabatan keempatnya pada 5 Januari 2027.
Hasil ini tergolong dramatis. Sejak Brasil memberlakukan sistem pemilihan presiden dua putaran pada 1989, belum pernah ada kandidat yang kalah di putaran pertama lalu berhasil membalikkan keadaan dan menang di putaran kedua. Pada putaran pertama 4 Oktober, Flávio unggul dengan 47,03 persen suara, sementara Lula hanya meraih 45,16 persen.
Dalam tiga pekan menjelang putaran kedua, Lula yang diusung Partai Pekerja dilaporkan berhasil menambah lebih dari 10 juta suara, sedangkan Flávio hanya menambah sekitar 3,6 juta suara. Keunggulan Lula kali ini bahkan disebut lebih besar dibandingkan saat ia mengalahkan Jair Bolsonaro pada Pilpres 2022.
Kemenangan Lula da Silva terpilih sebagai presiden Brasil untuk keempat kalinya, cetak rekor sejarah ini disambut perayaan besar. Kembang api dan suara vuvuzela terdengar di Rio de Janeiro, sementara ribuan orang mengenakan pakaian serba merah, warna Partai Pekerja, memadati jalanan di Sao Paulo.
Mengapa Lula Bisa Menjabat Empat Periode?
Masa jabatan presiden Brasil diatur dalam konstitusi. Pasal 82 menetapkan masa jabatan presiden adalah empat tahun, sedangkan Pasal 14 ayat 5 menyatakan seorang presiden dapat dipilih kembali untuk satu masa jabatan berikutnya. Dengan demikian, seorang presiden umumnya hanya boleh menjabat maksimal dua periode berturut-turut atau delapan tahun.
Namun, ada celah yang memungkinkan seorang mantan presiden mencalonkan diri lagi. Setelah menjalani dua periode, seorang presiden boleh kembali mencalonkan diri untuk masa jabatan ketiga dan keempat asalkan tidak beruntun. Ia harus hiatus dari pemilu selama minimal empat tahun atau satu periode masa jabatan presiden sebelum mencalonkan diri lagi.
Lula sendiri pernah memimpin Brasil pada 2003 hingga 2011. Setelah itu, ia meninggalkan panggung politik selama kurang lebih 12 tahun sebelum kembali mencalonkan diri dan menang pada 2023 untuk masa jabatan ketiga. Kemenangan pada 2026 menjadi periode keempatnya.
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie turut menyoroti kemenangan Lula. Ia mengapresiasi latar belakang pendidikan Lula yang hanya menamatkan sekolah dasar dan mengikuti pendidikan keterampilan, tetapi tetap mampu memenangi putaran penentuan. Jimly mengaitkannya dengan Pasal 14 ayat 4 UUD Brasil yang mensyaratkan semua kandidat pemilu terdaftar sebagai pemilih dan tidak buta huruf.
Tantangan dan Penolakan Hasil
Seperti yang dilakukan ayahnya empat tahun lalu, Flávio Bolsonaro menolak mengakui hasil pemilu. Senator berusia 45 tahun itu mengumumkan rencana menempuh jalur hukum untuk membatalkan hasil pemilihan. Ia mempersoalkan keputusan Hakim Mahkamah Agung Federal Cristiano Zanin yang memperpanjang waktu pemungutan suara selama dua jam, yang dinilainya tidak diberlakukan secara merata sehingga mengganggu prinsip kesetaraan kesempatan bagi pemilih.
Meski demikian, otoritas pemilu Brasil tetap mengakui Lula sebagai pemenang. Dalam pidato kemenangannya, Lula menyampaikan terima kasih kepada rakyat Brasil yang dinilainya telah memberikan suara untuk menjamin demokrasi. Ia juga berjanji akan mengubah cara negara ini diperintah dan menjadikan Brasil lebih baik pada masa jabatannya yang keempat.
Kemenangan Lula da Silva terpilih sebagai presiden Brasil untuk keempat kalinya, cetak rekor sejarah juga menjadi penanda tahanan gelombang konservatif di Amerika Latin. Sejumlah negara kawasan seperti Argentina, Chile, Kolombia, dan Peru sebelumnya bergeser ke haluan sayap kanan. Kemenangan ini sekaligus mengukuhkan posisi Lula sebagai tokoh utama kelompok kiri di kawasan tersebut.
Dengan usia yang menginjak 81 tahun pada 27 Oktober 2026, Lula telah menjadi figur berpengaruh dalam perpolitikan Brasil selama sekitar empat dekade. Perjalanan kariernya yang panjang itu kini ditutup dengan babak sensasional berupa masa jabatan keempat. Publik akan menantikan bagaimana ia menghadapi tantangan pemerintahan dan langkah hukum yang ditempuh kubu pesaingnya.












