Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.156 per Dolar AS, Pasar Cermati Konflik Iran

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.156 per Dolar AS, Pasar Cermati Konflik Iran
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.156 per Dolar AS, Pasar Cermati Konflik Iran

Cakrawala News – 28 Oktober 2026 | Nilai tukar dollar ke rupiah kembali menunjukkan pelemahan pada penutupan perdagangan Selasa (27/10/2026). Rupiah ditutup di level Rp18.156 per dolar Amerika Serikat, turun 21 poin atau sekitar 0,12 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp18.135 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi di tengah sikap hati-hati pelaku pasar menyikapi perkembangan geopolitik di Timur Tengah serta sejumlah agenda ekonomi global yang masih menanti.

Sepanjang sesi perdagangan, rupiah sebenarnya sempat menguat hingga menyentuh Rp18.125 per dolar AS sebelum kembali tertekan. Mata uang Garuda bergerak dalam rentang Rp18.125 hingga Rp18.167 per dolar AS. Data tersebut merujuk pada pencatatan pasar valuta asing pada penutupan hari ini.

Sejak pembukaan pagi, tekanan terhadap rupiah sudah terasa. Rupiah dibuka di level Rp18.120 per dolar AS, melemah 10 poin atau 0,06 persen dari penutupan Senin (26/10/2026) di posisi Rp18.110 per dolar AS. Saat itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau menguat 0,10 persen ke posisi 102,065.

Konflik Timur Tengah Masih Jadi Sentimen Utama

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai perkembangan konflik di Timur Tengah masih menjadi salah satu sentimen yang paling dicermati pelaku pasar. Menurutnya, upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan terus berlangsung, tetapi risiko konflik kembali meluas masih membayangi pergerakan pasar keuangan.

Pada Senin (26/10/2026), pejabat senior Arab Saudi, Turki, dan Pakistan bertemu dengan para pemimpin Iran di Teheran. Pertemuan tersebut bertujuan mengurangi ketegangan regional sekaligus membuka jalur negosiasi untuk mencegah kembali terjadinya eskalasi militer. Qatar juga terlibat dalam upaya diplomatik dengan menjalin komunikasi bersama Teheran.

Menurut sejumlah laporan, pembahasan dalam pertemuan itu mencakup serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi, kemungkinan diadakannya pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran, gangguan pelayaran melalui Selat Hormuz, serta blokade yang diberlakukan Washington terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Upaya diplomatik tersebut telah membantu meredakan kekhawatiran mendesak mengenai eskalasi militer lebih lanjut. Namun, para investor tetap bersikap hati-hati terkait apakah langkah itu akan menghasilkan de-eskalasi yang bertahan lama. Presiden Donald Trump disebut masih membuka kemungkinan tindakan militer lebih lanjut terhadap Iran, sementara Teheran menyatakan bahwa negosiasi dengan Washington memerlukan konsesi tertentu, termasuk penghentian blokade AS dan pencabutan sanksi terhadap ekspor minyak Iran.

Risiko terhadap pasokan energi pun tetap besar. Konflik dengan Iran telah mengganggu pelayaran komersial melalui Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb, dua jalur penting bagi perdagangan energi global. Pada Senin, pasukan Houthi menyatakan telah menyerang stasiun pompa di jalur pipa minyak mentah Timur-Barat milik Arab Saudi serta bandara Riyadh, meskipun Arab Saudi belum memberikan konfirmasi langsung atas klaim tersebut. Dalam beberapa hari terakhir, kerajaan tersebut melaporkan telah berhasil mencegat sejumlah rudal dan pesawat nirawak.

Tekanan Fiskal dan Harga Minyak

Selain faktor geopolitik, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia turut membayangi pergerakan dollar ke rupiah. Ibrahim menjelaskan bahwa kekhawatiran fiskal kembali meningkat seiring kenaikan harga minyak global, mengingat Indonesia berstatus sebagai importir neto minyak.

Kenaikan harga minyak berpotensi memperlebar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara melalui peningkatan biaya impor minyak serta beban subsidi energi dan kompensasi kepada Pertamina. Meskipun kenaikan harga minyak dapat meningkatkan penerimaan negara dari sektor migas, manfaat tersebut dinilai berpotensi tidak cukup untuk mengimbangi kenaikan belanja energi, terutama apabila harga bahan bakar minyak domestik tetap dipertahankan untuk menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas inflasi.

Merujuk pada sensitivitas APBN 2026 terhadap perubahan asumsi dasar ekonomi makro, kenaikan yield surat berharga negara dan depresiasi rupiah termasuk asumsi makro yang sensitif terhadap pelebaran defisit. Ibrahim menyebutkan bahwa kenaikan setiap 0,1 persen yield SBN dapat memperlebar defisit sebesar Rp1,9 triliun, sedangkan depresiasi rupiah setiap Rp100 per dolar AS bisa menambah defisit Rp800 miliar. Sementara itu, setiap kenaikan US$1 per barel harga minyak dapat memperlebar defisit hingga Rp6,8 triliun.

Di sisi lain, harga minyak dunia sempat terkoreksi pada perdagangan Senin (26/10/2026) di tengah harapan meredanya konflik Timur Tengah. Harga minyak mentah Brent turun 0,8 persen menjadi US$115,81 per barel, sedangkan WTI melemah 1,46 persen ke US$101,76 per barel.

Dukungan dari Transaksi Mata Uang Lokal

Dari dalam negeri, perhatian pasar juga tertuju pada peningkatan transaksi menggunakan mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT). Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti memperkirakan nilai transaksi LCT sepanjang 2026 dapat mencapai US$55 miliar, melonjak sekitar 120 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang baru sekitar US$25 miliar. Menurutnya, transaksi tersebut sebagian besar berasal dari China.

Peningkatan pemanfaatan LCT dinilai dapat membantu mengurangi kebutuhan dolar AS di dalam negeri sekaligus mendukung stabilitas nilai tukar rupiah. Pendekatan bilateral pun terus dilakukan untuk memperkuat kerja sama transaksi mata uang lokal dengan sejumlah negara mitra.

Sebelumnya, Bank Indonesia mencatat nilai tukar rupiah pada 20 Oktober 2026 berada di level Rp17.985 per dolar AS, melemah 0,61 persen dibandingkan posisi akhir September 2026. Tekanan terhadap rupiah saat itu dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, arah kebijakan moneter Amerika Serikat yang mengetat, serta sentimen investor asing di pasar saham.

Yang Perlu Dicermati ke Depan

Pasar kini menantikan konferensi pers Ketua The Fed, Kevin Warsh, yang mungkin memberikan sinyal mengenai langkah kebijakan bank sentral selanjutnya, meskipun kemungkinan tidak akan memberikan panduan resmi. Selain itu, pelaku pasar mencermati pertemuan FOMC, data PCE Amerika Serikat, dan pemilihan paruh waktu AS yang dapat memengaruhi arah pergerakan dolar AS.

Dengan berbagai sentimen tersebut, rupiah diproyeksikan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan berikutnya. Bagi masyarakat, pergerakan dollar ke rupiah ini perlu dicermati karena berpengaruh terhadap harga barang impor, biaya produksi perusahaan, daya beli, hingga aktivitas perdagangan Indonesia dengan negara lain.

Ke depan, kombinasi antara perkembangan diplomasi di Timur Tengah, arah kebijakan The Fed, dan kondisi fiskal domestik akan menjadi faktor penentu apakah rupiah mampu menahan pelemahan lebih lanjut atau kembali menguat. Pelaku pasar disarankan tetap mencermati setiap perkembangan informasi yang dapat memengaruhi arus modal dan permintaan valuta asing di dalam negeri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *