Cakrawala News – 22 September 2026 | Marc Marquez geram, Pecco Bagnaia sependapat bahwa masalah yang dialami Ducati pada MotoGP Austria di Red Bull Ring, Spielberg, bukanlah soal ban. Kedua pembalap utama Ducati itu menolak pernyataan tim mereka yang menyebut faktor ban menjadi alasan mereka tak bisa lebih baik dari pesaing, khususnya Aprilia dan KTM.
Pernyataan itu muncul setelah akhir pekan yang sulit bagi Ducati. Marc Marquez dan Francesco ‘Pecco’ Bagnaia sama-sama kesulitan mengeluarkan kecepatan motor Desmosedici selama berlaga di Sirkuit Red Bull Ring.
Marquez gagal meraih pole position yang direbut Jorge Martin. Martin kemudian mengalahkan Marquez pada sesi sprint. Pembalap itu juga memperlebar keunggulannya dari Marquez di klasemen setelah finis kedua pada balapan utama, di belakang Pedro Acosta, sementara Marquez hanya mampu finis di posisi kelima.
Akhir pekan yang sedikit lebih baik dialami Pecco Bagnaia. Ia finis di posisi ketujuh. Hasil itu menjadi kali pertama ia berhasil menyelesaikan balapan dalam empat seri terakhir, meski ia tetap kesulitan mengimbangi kecepatan lawan.
Bantah Alasan Ban
Menurut Marquez dan Pecco, motor Desmosedici Ducati sedang mengalami masalah kecepatan, bukan soal ban. Pada saat yang sama, para pesaing justru menemukan beraneka solusi untuk tampil lebih cepat.
“Tidak ada masalah dengan ban apa yang Anda gunakan,” tutur Marquez kepada TNT Sport 2 seperti dikutip awak MotoGP News.
“Maksud saya, Anda harus tampil cepat, dan akhir pekan ini pembalap lain (di luar Ducati) lebih cepat. Kami seharusnya perlu mempelajari hal itu,” imbuh Marquez.
Pernyataan Marquez itu menegaskan bahwa ia menolak dalih ban yang dilontarkan pihak tim. Ia menilai para pembalap di luar Ducati, terutama dari Aprilia dan KTM, tampil lebih cepat pada seri tersebut.
Yang menarik, Pecco Bagnaia berada dalam posisi sependapat dengan Marquez. Keduanya sama-sama menyoroti persoalan kecepatan motor, bukan semata faktor ban yang digunakan.
Dampak pada Persaingan
Hasil di Red Bull Ring berdampak langsung pada peta persaingan. Jorge Martin memperlebar keunggulannya dari Marquez di klasemen setelah finis kedua pada balapan utama, di belakang Pedro Acosta.
Sementara itu, Marquez yang hanya finis kelima harus menerima kenyataan kehilangan tambahan poin penting. Kondisi ini membuat persaingan di puncak klasemen semakin menegangkan.
Di sisi lain, Pecco Bagnaia masih berjuang menemukan konsistensi. Finis ketujuh memang menjadi kemajuan karena sebelumnya ia gagal menyelesaikan balapan dalam empat seri beruntun. Namun, hasil itu belum cukup untuk menutup jarak dari para pesaing di depan.
Kegagalan Ducati tampil dominan di Austria menjadi sinyal bahwa peta kekuatan di MotoGP musim ini semakin ketat. Aprilia dan KTM disebut-sebut menemukan solusi teknis yang membuat mereka mampu bersaing, bahkan mengungguli Ducati pada seri tersebut.
Yang Perlu Dipelajari Ducati
Baik Marquez maupun Pecco tampaknya menuntut evaluasi menyeluruh terhadap performa motor Desmosedici. Alih-alih menyalahkan ban, keduanya ingin tim mempelajari mengapa pembalap lain bisa lebih cepat.
Pernyataan Marc Marquez geram, Pecco Bagnaia sependapat ini menjadi sorotan karena datang dari dua pembalap utama Ducati. Kritik mereka mengindikasikan adanya persoalan internal yang perlu segera dibenahi sebelum seri-seri berikutnya.
Ducati memiliki modal besar sebagai pabrikan yang mendominasi dalam beberapa musim terakhir. Namun, tekanan dari Aprilia dan KTM menuntut mereka bergerak cepat dalam pengembangan motor.
Bagi para penggemar MotoGP, situasi ini menjanjikan persaingan yang lebih menarik. Ketika Ducati tidak lagi mendominasi, peluang pembalap dari pabrikan lain untuk menang menjadi lebih terbuka.
Yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah langkah Ducati merespons kritik kedua pembalapnya. Apakah mereka akan melakukan perbaikan teknis signifikan, atau justru tetap bertahan dengan pendekatan yang ada. Jawaban atas hal itu akan terlihat pada seri-seri berikutnya.
Terlepas dari itu, pernyataan terbuka Marquez dan Pecco menunjukkan bahwa keduanya menolak mencari alasan. Mereka mengakui keunggulan lawan dan menuntut perbaikan nyata demi mengembalikan daya saing Ducati di lintasan.






