Cakrawala News – 31 Oktober 2026 | Kabar duka menyelimuti dunia sepak bola Spanyol. Michel Pineda, legenda Espanyol yang menjadi bagian dari tim finalis Piala UEFA 1988, meninggal dunia pada Kamis, 29 Oktober 2026. Kabar tersebut disampaikan langsung oleh Andrés Merello, direktur komunikasi klub, usai konferensi pers Sergio García sebagai pelatih interim menyusul pemecatan Manolo González akibat tersingkir dari Copa del Rey.
Kepergian Pineda datang di tengah suasana berkabung nasional. Sehari sebelumnya, Spanyol dilanda tragedi kecelakrian kereta api di Toledo. Dua peristiwa itu membuat publik sepak bola Negeri Matador larut dalam duka.
Pineda lahir di Gien, Prancis, pada 9 Juni 1964. Meski berdarah Prancis, ia membela Spanyol karena kedua orang tuanya berasal dari Vitoria. Bersama tim nasional sub-21, ia menjuarai Piala Eropa 1986, dan turut tampil di Olimpiade Seoul 1988. Ia meninggalkan dua putri kembar, María dan Aloma.
Karier yang Melegenda di Espanyol
Pineda memperkuat Espanyol pada periode 1984 hingga 1990. Momen paling bersejarah terjadi pada 1988, ketika ia membawa klub Catalan itu melaju ke final Piala UEFA. Sayang, gelar juara harus sirna di tangan Bayer Leverkusen lewat adu penalti, setelah Espanyol menang 3-0 di Sarrià namun kalah dengan skor sama di Jerman.
Dalam perjalanan menuju final itu, tim asuhan Javier Clemente menyingkirkan raksasa Eropa seperti AC Milan, Inter Milan, dan Club Brugge. Pineda menyumbang tiga gol, dua ke gawang Borussia Mönchengladbach dan satu ke Vitkovice. Menariknya, pada laga melawan wakil Jerman tersebut, ia dipercaya menjadi kapten karena mampu berbahasa Prancis, sama seperti wasit yang memimpin pertandingan.
“Kami adalah sekumpulan pemain yang bermain dengan gembira dan semuanya runtuh dalam setengah jam,” kenang Pineda dalam wawancaranya dengan El Periódico, seperti dikutip dari laporan yang beredar.
Pada musim pertamanya di Primera División, Pineda mencetak 14 gol. Jumlah itu kembali ia ulangi dua musim berselang, ketika Espanyol finis ketiga di LaLiga 1986-87 dan lolos ke kompetisi Eropa. Ia mengakhiri kariernya di Espanyol sebagai pemain dengan jumlah pertandingan terbanyak ke-25 dalam sejarah klub, hanya dua laga lebih banyak dari Sergio García.
Persahabatan Erat dengan Eric Cantona
Sebelum bersinar di Spanyol, Pineda direkrut Auxerre pada usia 16 tahun, klub yang memungkinkannya tetap dekat dengan kampung halaman. Di sana ia berjumpa Eric Cantona, berbagi kamar, dan membangun persahabatan seumur hidup.
Kedekatan mereka begitu kuat. Ketika Cantona, yang kemudian menjadi ikon Manchester United, tengah menghadapi masalah, ia berlindung di rumah Pineda di Barcelona. Keduanya bahkan pernah menulis surat yang menawarkan diri untuk bergabung dengan Alavés, tetapi tak ada balasan.
Di bawah asuhan Guy Roux, yang menakhodai Auxerre selama 44 tahun, keduanya dikenal kerap diajak menonton pertandingan. Namun, ketika pelatih ingin memberi hukuman, Cantona dan Pineda dikirim untuk mengecat pagar lapangan.
Espanyol kemudian memboyong Pineda pada 1984, dengan Ramón París sebagai arsitek utama transfer tersebut. Pineda sempat menyarankan agar klub juga merekrut Cantona, tetapi sang pemain tak bisa didatangkan karena terhalang kuota pemain asing.
Gol Pahit dan Akhir Karier
Setelah meninggalkan Espanyol, Pineda sempat membela Toulon, Racing de Santander, Lleida, dan Alavés, tempat ia pensiun pada 1996. Bersama Racing, ia mengalami momen paling getir dalam kariernya.
Pada 23 Juni 1993 di Sarrià, Pineda mencetak satu-satunya gol dalam laga play-off promosi antara Racing dan Espanyol. Gol itu justru mengirim mantan klubnya turun ke Segunda División. Laporan menyebut Pineda menangis setelah pertandingan tersebut.
Pihak Espanyol menyampaikan penghormatan terakhir dengan pesan “Glòria als herois de l’Espanyol” dalam pernyataan resmi. Klub menggambarkan Pineda sebagai pesepak bola karismatik dan elegan yang berhasil memikat seluruh penggemar. Namanya kini terpahat di pintu nomor 88 RCDE Stadium, berdampingan dengan nama sahabatnya, Ernesto Valverde.
Kepergian Pineda menambah panjang daftar duka bagi Espanyol yang saat ini tengah berjuang di papan bawah LaLiga. Klub berada di posisi ke-18 dengan delapan poin dan baru saja menunjuk Eder Sarabia sebagai pelatih baru hingga Juni 2028 menggantikan Manolo González. Pelatih Elche, Martín Anselmi, turut menyampaikan simpatinya kepada González, seraya menyebut kembalinya Sarabia ke LaLiga sebagai hal yang menarik bagi kompetisi.
Bagi para penggemar Espanyol, nama Michel Pineda akan selalu dikenang sebagai simbol kejayaan klub di pentas Eropa. Sosoknya bukan hanya meninggalkan jejak prestasi, tetapi juga kisah persahabatan dan kesetiaan yang melampaui batas klub dan negara.
