Musim Kemarau tapi Kasus Flu Meningkat, Dokter Jelaskan Alasannya

Musim Kemarau tapi Kasus Flu Meningkat, Dokter Jelaskan Alasannya
Musim Kemarau tapi Kasus Flu Meningkat, Dokter Jelaskan Alasannya

Cakrawala News – 21 September 2026 | Musim kemarau tapi kasus flu meningkat, dokter jelaskan alasannya menjadi sorotan publik dalam beberapa pekan terakhir. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat tren kasus influenza di Indonesia diperkirakan terus naik hingga akhir tahun, meski peningkatannya tidak signifikan dan situasi nasional masih terkendali.

Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menyatakan peningkatan kasus influenza dipicu sejumlah faktor, seperti erupsi gunung, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta musim kemarau. Kendati demikian, ia memastikan kasus influenza di Indonesia masih berada dalam kategori rendah.

“Trennya (kasus influenza) sampai jelang akhir tahun akan naik, tapi bukan lonjakan signifikan,” kata Aji dalam keterangannya, Minggu (20/9/2026).

Pertanyaan soal musim kemarau tapi kasus flu meningkat, dokter jelaskan alasannya juga dijawab langsung oleh kalangan medis. Prof. Dr. Anggraini Alam, dr., Sp.A, Subsp.Inf.P.T(K) dari UKK Infeksi Penyakit Tropis Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), menegaskan bahwa di negara tropis seperti Indonesia, virus influenza dapat beredar sepanjang tahun sehingga tidak hanya muncul pada musim hujan.

“Kalau di rumah sakit saya memang ada peningkatan. Yang namanya data rumah sakit, sangat mungkin rumah sakit tipe referral dengan rumah sakit misalnya RSUD sangat mungkin berbeda,” jelas Prof. Anggraini dalam seminar media IDAI yang digelar daring pada Jumat (18/9).

Data Surveilans Menunjukkan Kenaikan

Laporan Pengawasan Kasus Influenza dan COVID-19 Kemenkes yang diperbarui pada 19 September 2026 mencatat proporsi spesimen positif influenza pada minggu ke-36 meningkat menjadi 46 persen, dari 35 persen pada minggu sebelumnya. Dari 86 spesimen yang positif influenza, 76 di antaranya merupakan A(H1N1)pdm09, menjadikannya subtipe yang paling banyak ditemukan.

Perlu dicatat, positivity rate 46 persen merupakan proporsi hasil positif di antara spesimen yang masuk ke sistem surveilans dan diperiksa, bukan angka penyakit di populasi umum. Pasien influenza yang dirawat di rumah sakit juga dilaporkan meningkat, dengan kasus paling banyak ditemukan pada anak kecil.

Aji menambahkan, kelompok anak usia dini menjadi yang paling rentan terdampak pada kenaikan kali ini. “Kasus influenza yang terdeteksi tersebut mayoritas terjadi pada kelompok usia 0-4 tahun, dengan proporsi mencapai 33 persen,” ujarnya seusai wawancara doorstop bersama media di Jakarta, Kamis (17/9/2026).

Flu Tak Menunggu Musim Hujan

Menurut Anggraini, saat cuaca panas, polusi, atau karhutla, orang lebih banyak berkumpul di ruangan tertutup. Kontak dekat dan ventilasi buruk kemudian membantu penularan virus. Karena itu, peningkatan kasus saat kemarau bukan pola langka di negara tropis.

Ia juga mengingatkan bahwa data dari satu rumah sakit tidak dapat langsung digunakan untuk menggambarkan situasi influenza di tingkat nasional. Tren influenza perlu dinilai berdasarkan kumpulan data yang lebih luas agar gambaran kondisi masyarakat lebih akurat.

Dokter paru senior, Prof Dr Tjandra Yoga Aditama, SpP(K), menilai dominasi influenza A bukan hal yang mengejutkan. Menurutnya, influenza A dari masa ke masa memang paling banyak ditemukan, terlebih pada kondisi kemarau atau pancaroba seperti saat ini.

“Jadi kalau informasi influenza A ditemui ya itu memang dari dulu influenza A paling sering ditemui. Justru kalau (influenza tipe) B, C, yang naik nah itu baru aneh. Kalau A yang dominan, memang dari dulu selalu dominan,” kata Prof Tjandra kepada media, Kamis (17/9/2026).

Kemenkes mencatat pada Agustus 2026 jenis influenza yang mendominasi adalah tipe A (H1N1Pdm09), tipe A (H3N2), dan influenza B (Victoria). Prof Tjandra menyebut kondisi ini sebagai flu musiman yang berkembang dari waktu ke waktu sehingga masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan.

Kelompok Berisiko dan Langkah Pencegahan

IDAI meminta masyarakat tetap waspada, khususnya bagi kelompok berisiko tinggi seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit tertentu yang berpotensi mengalami gejala berat hingga komplikasi serius akibat infeksi Influenza A.

Influenza berbeda dengan selesma atau common cold biasa. Begitu virus masuk ke tubuh, ia memperbanyak diri di dalam sel hingga menyebabkan peradangan pada saluran pernapasan, kemudian memicu gejala sistemik seperti demam tinggi, nyeri di seluruh tubuh, sakit kepala, hingga batuk kering. Gejala influenza umumnya muncul lebih cepat dan lebih berat dibandingkan selesma biasa, dengan puncak keparahan pada hari ke-4 hingga ke-5 sejak infeksi.

Anak-anak, terutama balita di bawah dua tahun, disebut memiliki risiko dua kali lipat mengalami flu bergejala dibandingkan orang dewasa karena sistem imun mereka belum banyak terpapar berbagai jenis virus influenza sebelumnya. Anak dengan komorbid, seperti gangguan neurologi atau yang membutuhkan perawatan jangka panjang, juga berisiko mengalami gejala lebih berat sehingga memerlukan pemantauan medis lebih ketat.

Di tengah kekhawatiran meningkatnya kasus Influenza A, para ahli mengingatkan pentingnya langkah pencegahan sejak dini. Vaksinasi influenza disebut menjadi salah satu upaya perlindungan paling efektif, khususnya bagi kelompok berisiko tinggi seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, hingga tenaga kesehatan.

Kemenkes juga mengimbau masyarakat menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan rajin mencuci tangan menggunakan sabun, mengonsumsi makanan bergizi, dan istirahat yang cukup. Bila sakit, masyarakat diminta menggunakan masker dan segera ke dokter atau fasilitas kesehatan terdekat jika gejala memberat.

Prof Tjandra menambahkan, pencegahan influenza A sama seperti pencegahan flu pada umumnya. “Kalau sakit dia pakai masker, jangan keluar rumah,” ujarnya.

Dengan tren yang diperkirakan masih naik hingga akhir tahun, masyarakat diminta tetap tenang namun waspada. Memantau data surveilans resmi, menjaga kebersihan diri, dan melindungi kelompok rentan menjadi kunci agar peningkatan kasus musiman ini tidak berkembang menjadi beban layanan kesehatan yang lebih besar.

Exit mobile version