Cakrawala News – 08 Oktober 2026 | Penyerang Timnas Indonesia, Ole Romeny, mengungkap cerita di balik teriakan ‘Satu gol lagi!’ yang terus menghantui dirinya dari bangku cadangan. Dalam wawancaranya dengan media Belanda, kisah ‘Satu gol lagi!’ cerita Ole Romeny ke media Belanda soal banting tulang Timnas Indonesia usir Malaysia menjadi salah satu bagian paling dramatis dari perjalanan skuad Garuda menuju gelar juara FIFA ASEAN Cup 2026.
Romeny mengaku tekanan dari bench pemain dan staf kepelatihan John Herdman begitu terasa saat Indonesia menghadapi Bangladesh pada laga penentu Grup A di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Kamis (1/10/2026). Ketegangan bukan hanya menyelimuti lapangan, tetapi juga bangku cadangan.
“Setiap kali kami mencetak gol, saya melihat ke arah bangku cadangan, dan mereka berteriak, ‘Satu lagi!’, mereka bilang, ‘Satu lagi!’,” ungkap Romeny, dikutip dari pemberitaan media.
Laga melawan Bangladesh memang berlangsung penuh tekanan. Indonesia wajib menang dengan selisih gol besar demi mengunci tiket ke partai puncak. Tuntutan itu membuat skuad Garuda terus dipaksa menekan sepanjang 90 menit.
Hasilnya, Indonesia menang telak 9-2. Kemenangan tersebut memastikan Timnas Indonesia menutup fase Grup A di puncak klasemen dengan perolehan tujuh poin, unggul produktivitas gol atas Malaysia. Bagi Romeny, pertandingan itu menjadi salah satu pengalaman bertanding paling dramatis sepanjang karier profesionalnya.
Duet Mematikan dengan Mitchell Baker
Di balik pesta gol ke gawang Bangladesh, kerja sama Romeny dan Mitchell Baker menjadi sorotan utama. Romeny mengakhiri turnamen dengan catatan selalu tampil sebagai starter dalam empat pertandingan, mencetak satu gol, dan menyumbang empat assist.
Menariknya, seluruh assist Romeny berujung menjadi gol bagi Baker. Sang penyerang pun keluar sebagai pencetak gol terbanyak turnamen dengan lima gol. Kombinasi keduanya disebut-sebut sebagai salah satu kekuatan utama Indonesia sepanjang kompetisi.
“Ya, dia seperti seorang target man, sedangkan saya lebih seperti pemain yang memiliki peran bebas. Jadi, saya bergerak di sekelilingnya. Ketika saya melihat dia berlari, saya tinggal memberikan bola kepadanya dan kami bisa mencetak gol,” kata pemain Fortuna Sittard itu.
Romeny juga memuji naluri pergerakan Baker di kotak penalti. Menurutnya, Baker berulang kali menyelinap ke area yang tepat sehingga peluang bisa diselesaikan secara efisien.
“Dalam pertandingan-pertandingan seperti ini, keberadaan Mitch memang difokuskan mencetak gol. Dia memiliki naluri pergerakan posisi yang sangat bagus. Jadi, jika kami bisa mencetak sembilan gol, itu membuktikan bahwa siapa pun bisa mencetak gol,” ujarnya.
Ia menegaskan kapasitas mencetak gol tidak hanya dimiliki para penyerang. Seluruh pemain Timnas Indonesia, termasuk barisan belakang, dinilainya punya kemampuan mengonversi peluang menjadi gol. Meski begitu, Romeny memberi sorotan khusus pada akselerasi dan penempatan posisi Baker saat menghadapi Bangladesh.
Jalan Menuju Trofi
Perjalanan Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 berakhir manis. Di laga final yang digelar di SUGBK, Senin malam, skuad Garuda menumbangkan Thailand melalui drama adu penalti dengan skor 4-2. Sebelumnya, kedua tim bermain imbang 2-2 hingga perpanjangan waktu.
Kemenangan tersebut disambut gegap gempita oleh pendukung yang memadati stadion. Romeny menyebut trofi ini sangat berarti bagi seluruh rakyat Indonesia.
“Sangat berarti, sangat berarti. Jika Anda melihat semua orang, anak-anak, semua orang, Anda tahu, trofi ini sangat berarti bagi Indonesia. Bagi kami, kami sangat bangga dan, ya, rasanya seperti satu keluarga besar,” kata Romeny kepada awak media di mixed zone SUGBK.
Kisah ‘Satu gol lagi!’ cerita Ole Romeny ke media Belanda soal banting tulang Timnas Indonesia usir Malaysia juga memperlihatkan bagaimana tekanan tinggi justru menjadi bahan bakar bagi para pemain. Romeny mengaku setiap kali mencetak gol, ia selalu menoleh ke arah bench dan mendengar teriakan instruksi.
Sejak debutnya pada 20 Maret tahun lalu, Romeny telah 14 kali memperkuat Timnas Indonesia. Dari jumlah penampilan tersebut, ia mengoleksi tujuh gol dan enam assist, sebuah catatan yang dinilai impresif.
“Setiap kali kami bermain, kami merasa sangat bangga mengenakan jersi ini. Jadi, tidak, setiap saat, terutama ketika bermain di kandang, rasanya luar biasa,” tutup Romeny.
Gelar juara FIFA ASEAN Cup 2026 menjadi penanda soliditas antara pemain dan suporter. Bagi Indonesia, trofi ini bukan sekadar pencapaian olahraga, melainkan juga momen yang memperkuat rasa kebersamaan. Ke depan, kerja sama Romeny dan Baker bakal menjadi salah satu aset yang layak diperhatikan dalam persiapan turnamen berikutnya.










