Cakrawala News – 07 November 2026 | Para pemimpin partai oposisi Israel sepakat untuk bersatu mendukung mantan kepala militer Gadi Eisenkot sebagai calon perdana menteri, langkah yang secara terbuka menargetkan penggulingan pemerintahan Benjamin Netanyahu. Kesepakatan itu dicapai dalam pertemuan bersama di Herzliya pada Selasa, 3 November 2026, sehari sebelum Presiden Isaac Herzog memulai konsultasi dengan partai-partai politik untuk menentukan siapa yang berhak membentuk pemerintahan baru. Dengan demikian, oposisi Israel sepakat untuk menggulingkan pemerintahan Benjamin Netanyahu menjadi poros utama manuver politik pascapemilu.
Pertemuan tersebut dihadiri Eisenkot, mantan Perdana Menteri Naftali Bennett, Yair Lapid, Avigdor Liberman, dan Yair Golan. Kelima tokoh itu menyatakan komitmen mempercepat upaya menggantikan Netanyahu, meski sejumlah perbedaan pandangan masih mengemuka, terutama soal kemungkinan berkoalisi dengan partai-partai yang dipimpin kelompok Arab.
Kesepakatan ini muncul setelah pemilihan umum 27 Oktober 2026 tidak menghasilkan mayoritas tunggal di parlemen. Dari total 120 kursi Knesset, blok pendukung Netanyahu memperoleh 53 kursi, turun dari 68 kursi pada parlemen sebelumnya. Blok oposisi pimpinan Eisenkot meraih 48 kursi, sementara tiga partai yang dipimpin Arab menguasai 19 kursi, setelah mencatat peningkatan signifikan dibanding pemilu 2022.
Matematika Politik di Knesset
Dengan komposisi tersebut, tidak ada satu blok pun yang mampu membentuk pemerintahan sendiri karena mayoritas membutuhkan sedikitnya 61 kursi. Jika blok oposisi dan partai-partai Arab bersatu, gabungan keduanya akan menguasai 67 kursi, cukup untuk membentuk pemerintahan dengan mayoritas yang relatif nyaman.
Namun, jalan menuju koalisi itu tidak mulus. Menurut laporan kantor berita AFP, hampir 840.000 orang memilih partai Ra’am dan Daftar Gabungan, koalisi tiga partai yang dipimpin Arab, atau meningkat 64 persen dari pemilihan terakhir pada 2022. Kendati demikian, bagi banyak kalangan di Israel, gagasan berpolitik bersama partai Arab masih dianggap tidak dapat diterima.
Yair Golan menjadi satu-satunya pemimpin oposisi yang secara terbuka mendukung kerja sama dengan partai-partai Arab. Sebaliknya, Avigdor Liberman menolak keterlibatan mereka dalam pemerintahan. Eisenkot sendiri menetapkan sejumlah prinsip koalisi, termasuk pengakuan Israel sebagai negara Yahudi dan penolakan terhadap Hamas, syarat yang berpotensi mempersempit dukungan dari kelompok Arab.
Tekanan Publik dan Sikap Netanyahu
Desakan perubahan juga datang dari jalanan. Ribuan orang berunjuk rasa di Tel Aviv pada Sabtu, 31 Oktober 2026, mendesak oposisi segera membuat kesepakatan dengan partai-partai Arab untuk menggulingkan Netanyahu. Sejumlah pengunjuk rasa menyebut momen ini sebagai kesempatan terakhir untuk perubahan nyata dan menyebut Netanyahu, perdana menteri paling lama menjabat dalam sejarah Israel, sebagai manipulator ulung.
Di sisi lain, muncul demonstrasi tandingan dari pendukung Netanyahu yang menolak pemerintahan yang melibatkan partai-partai Arab. Puluhan demonstran juga berkumpul di depan kediaman Eisenkot pada Minggu, 1 November 2026, menyuarakan penolakan serupa. Sejumlah demonstrasi lain justru menyerukan pembentukan koalisi Yahudi-Arab.
Netanyahu disebut mulai membuka peluang membentuk pemerintahan koalisi bersama Eisenkot di tengah kebuntuan politik. Sumber yang dekat dengan Partai Likud menyatakan Netanyahu masih mempertimbangkan berbagai opsi politik dan khawatir Eisenkot dapat bekerja sama dengan partai-partai Arab serta kelompok ultra-Ortodoks untuk membentuk koalisi alternatif. Sebelumnya, Netanyahu menyebut kemungkinan kerja sama dengan partai Arab sebagai tindakan pengkhianatan, pernyataan yang menuai kritik dari lawan politiknya.
Perselisihan Hasil Pemilu
Pembicaraan koalisi berlangsung bersamaan dengan perselisihan mengenai hasil pemilu. Partai Likud mempertanyakan pelaksanaan pemungutan suara dengan menyoroti dugaan upaya suap pemilih, tetapi belum menunjukkan bukti bahwa dugaan tersebut memengaruhi hasil akhir. Tiga aktivis politik ditangkap sebelum pemungutan suara dimulai setelah polisi menemukan sejumlah amplop berisi uang tunai, dan empat tersangka lain ditangkap dua hari kemudian karena diduga terkait partai Islamis Ra’am, yang membantah keterlibatan.
Dugaan kemungkinan intervensi asing juga mendorong penyelidikan badan keamanan dalam negeri Shin Bet atas permintaan Komite Pemilihan Umum. Ketua Komite Pemilihan Umum sekaligus Hakim Mahkamah Agung Israel Noam Sohlberg menyatakan dugaan tersebut, sekalipun terbukti, tidak akan merusak integritas proses maupun hasil keseluruhan pemilu. Eisenkot menuduh Netanyahu menjalankan kampanye terorganisasi untuk mendelegitimasi hasil pemilu, termasuk tuduhan bahwa Qatar mendukung partai-partai oposisi, tuduhan yang telah dibantah Qatar.
Hasil pemilu diperkirakan disahkan secara resmi pekan ini. Setelah konsultasi dengan partai-partai terpilih, Herzog akan menentukan kandidat yang diberi mandat membentuk pemerintahan. Kandidat tersebut kemudian harus bernegosiasi memperoleh dukungan mayoritas di parlemen. Jika gagal, Herzog dapat menunjuk kandidat lain, dan pemilu baru hanya dapat digelar apabila tidak ada koalisi yang berhasil dibentuk.
Bagi publik Israel, pertarungan ini bukan sekadar soal kursi di Knesset, melainkan arah pemerintahan setelah bertahun-tahun kepemimpinan Netanyahu. Keputusan oposisi Israel sepakat untuk menggulingkan pemerintahan Benjamin Netanyahu kini bergantung pada kemampuan mereka merawat persatuan internal dan menyelesaikan perbedaan soal keterlibatan partai Arab. Semua mata tertuju pada konsultasi presiden dan negosiasi koalisi dalam beberapa hari ke depan.












