Pellegrini Bela Ez Abde Usai Insiden Kaus Ceuta di Laga Villarreal vs Real Betis

Pellegrini Bela Ez Abde Usai Insiden Kaus Ceuta di Laga Villarreal vs Real Betis
Pellegrini Bela Ez Abde Usai Insiden Kaus Ceuta di Laga Villarreal vs Real Betis

Cakrawala News – 17 September 2026 | Laga Villarreal vs Real Betis di Stadion La Cerámica, Senin waktu setempat, meninggalkan cerita di luar lapangan. Pelatih Real Betis, Manuel Pellegrini, angkat bicara membela penyerangnya asal Maroko, Abdessamad Ezzalzouli atau Ez Abde, yang menjadi sasaran hinaan dan ancaman di media sosial. Penyebabnya adalah keikutsertaan Abde dalam inisiatif kemanusiaan bertajuk solidaritas untuk warga Ceuta, kota otonom Spanyol di pesisir Afrika Utara.

Dalam pertandingan Villarreal vs Real Betis tersebut, para pemain kedua tim turun ke lapangan mengenakan kaus bertuliskan slogan “We are all from Ceuta” atau “Kita semua dari Ceuta”. Aksi itu merupakan bentuk dukungan bagi warga Ceuta, wilayah yang sempat dilanda gelombang kedatangan migran tak teratur dari Maroko pada Juli lalu.

Namun, bagi Abde, yang lahir di Maroko dan besar di kota Elche, Spanyol, kaus itu justru memicu badai kritik. Sejumlah pengikut dari Maroko melontarkan hinaan hingga ancaman melalui media sosial. Ia pun menghapus satu-satunya foto yang pernah diunggahnya di akun Instagram untuk menahan gelombang serangan tersebut.

Pellegrini: Politik Memecah, Sepak Bola Menyatukan

Pellegrini tampil membela pemainnya. Ia menegaskan perlunya memisahkan sepak bola dari politik. Menurutnya, pesan yang dibawa Abde murni bersifat sosial dan bukan tindakan yang menyerang negara asalnya.

“Politik memecah dan sepak bola menyatukan,” ujar Pellegrini, menegaskan posisinya dalam membela sang pemain.

Beberapa jam setelah serangan daring itu, Abde sendiri mengeluarkan pernyataan resmi. Ia menegaskan bahwa inisiatif tersebut sama sekali tidak bermuatan politik dan tidak dimaksudkan untuk menyinggung rakyat Maroko.

“Saya ingin meluruskan sesuatu terlebih dahulu. Pada titik mana pun, kaus yang berkaitan dengan warga kota Ceuta itu tidak digunakan untuk tujuan politik atau untuk menyinggung rakyat saya, rakyat Maroko,” kata Abde, seperti dikutip dari pernyataannya.

Ia menjelaskan, kaus tersebut membawa karakter sosial untuk mendukung warga kota dan penduduknya, tanpa memandang kewarganegaraan, setelah mereka melewati situasi sulit. Abde juga menegaskan bahwa pernyataannya bukan bentuk permintaan maaf kepada siapa pun.

“Ini bukan permintaan maaf kepada siapa pun, dan siapa pun yang ingin memanfaatkan persoalan ini untuk meragukan kecintaan saya pada negara saya, silakan melakukannya. Saya akan terus menjalani hidup setiap hari dengan kepala tegak, dan saya akan terus merepresentasikan akar saya dengan bangga dan pengorbanan,” tegasnya.

Mbappe, Vinicius, dan Konate Pilih Menyembunyikan Pesan

Kontroversi kaus Ceuta ternyata tidak hanya mewarnai laga Villarreal vs Real Betis. Sehari sebelumnya, dalam pertandingan Elche kontra Real Madrid, tiga pemain Madrid yakni Kylian Mbappe, Vinicius Junior, dan Ibrahima Konate memilih menyembunyikan pesan pada kaus yang mereka kenakan.

Menurut laporan surat kabar Spanyol El Mundo, ketiganya melipat kaus tepat pada bagian slogan agar tulisan tidak terlihat. Mereka ingin menghindari reaksi keras di Maroko mengingat sensitivitas politik antara Maroko dan Spanyol.

Kaus yang diterima para pemain Madrid bertuliskan “Todos somos caballas. Ceuta y los Caballeros de la Mar”. Inisiatif itu disiapkan oleh asosiasi pengusaha Valencia dan juga mencakup laga Villarreal, Levante, Elche, serta Valencia.

Mbappe, Vinicius, dan Konate menilai pesan tersebut memiliki konotasi politik. Karena itu, mereka memilih tidak menampilkan pesan itu maupun mengambil sikap atas isu yang sangat sensitif di Maroko. Keputusan itu muncul hanya sehari setelah badai kritik yang menimpa Abde.

Dalam laga Elche versus Real Madrid, Mbappe dan Vinicius terlihat menggulung kaus mereka hingga setinggi dada sehingga pesan tidak terbaca, lalu melepasnya sepenuhnya saat meninggalkan terowongan. Konate juga menyembunyikan pesan dengan cara memegang kaus di tangannya, bukan memakainya secara penuh.

Real Madrid kemudian angkat bicara. Seorang pejabat klub menyatakan kepada Reuters bahwa pihaknya menerima permintaan Elche agar kedua tim mengenakan kaus solidaritas untuk Ceuta. Namun, klub menghormati perbedaan pendapat di internal organisasi dan memberi setiap pemain kebebasan untuk memutuskan apakah akan mengenakan kaus tersebut atau tidak.

Menurut laporan, Barcelona juga memilih tidak mengenakan kaus itu saat menghadapi Levante pada Minggu. Sementara di sejumlah pertandingan lain, para pemain mengenakannya sesuai rencana. Sebelum laga melawan Elche, pendukung Madrid sempat menampilkan plakat bergambar bendera Ceuta dalam pertandingan Liga Champions menghadapi Inter Milan di Santiago Bernabeu.

Latar belakang inisiatif ini adalah gelombang lebih dari 70.000 penyeberangan tak teratur dari Maroko ke Ceuta pada Juli lalu, yang memicu gerakan dukungan di berbagai penjuru Spanyol. Peristiwa itu membuat isu Ceuta menjadi pembicaraan hangat di jagat sepak bola Spanyol.

Fokus Betis di Tengah Kontroversi

Terlepas dari polemik tersebut, Real Betis tengah menikmati awal musim yang positif di La Liga 2026-27. Tim asuhan Pellegrini mengoleksi 12 poin dan menempati peringkat ketiga klasemen, terpaut tiga angka dari Real Madrid dan Barcelona.

Betis datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah meraih dua kemenangan beruntun di La Liga, termasuk saat menghadapi Villarreal dan Real Madrid. Pellegrini menilai kemenangan atas Villarreal menjadi salah satu modal penting timnya untuk menjaga momentum di papan atas.

Pellegrini juga menyoroti sejumlah nama yang menjadi kunci performa timnya, seperti Dani Ceballos, Giovani Lo Celso, Deossa, Troy Parrott, dan kiper Alvaro Valles. Menurutnya, memiliki banyak pemain berkualitas bukan masalah, melainkan keuntungan di tengah padatnya jadwal pertandingan.

“Pemain bagus bisa bermain bersama. Kami tidak punya masalah, ada banyak pertandingan dan setiap orang saat mendapat kesempatan harus memenuhi tanggung jawabnya. Sebaliknya, masalahnya adalah melihat ke belakang dan tidak punya solusi,” kata Pellegrini.

Ia menegaskan tidak ingin membandingkan skuad musim ini dengan musim-musim sebelumnya. Menurutnya, Betis pernah memiliki pemain-pemain hebat, memenangi Copa, rutin bermain di Eropa, dan mencapai final Conference. Untuk skuad musim ini, Pellegrini berusaha mengambil manfaat terbaik dari setiap pemain.

Soal peluang yang tercipta namun gagal dikonversi menjadi gol, termasuk saat melawan Villarreal, Pellegrini tidak melihatnya sebagai sumber kekhawatiran. Ia menilai penyelesaian akhir adalah hal yang selalu dilatih, tetapi tekanan pertandingan membuat situasi berbeda dibanding latihan.

“Semuanya dilatih. Penalti, tetapi tidak sama berlatih di sini dalam keadaan kosong dengan melakukannya di stadion penuh. Ada momen ketegangan yang membuat pemain bisa keliru,” ujarnya.

Ia juga memberi pujian kepada kiper Alvaro Valles yang dinilai sedang dalam performa bagus. Menurut Pellegrini, Betis telah mencatat empat laga tanpa kebobolan di La Liga, dan itu merupakan hasil kerja kiper, lini belakang, serta seluruh tim.

Kontroversi kaus Ceuta menjadi pengingat bahwa isu sosial dan politik kerap menyeruak ke lapangan hijau. Bagi Betis, tantangan berikutnya adalah menjaga fokus agar polemik di luar pertandingan tidak mengganggu laju tim di La Liga maupun kompetisi Eropa. Sementara bagi Abde, dukungan dari pelatihnya menjadi sinyal bahwa klub berdiri di belakang pemainnya.

Exit mobile version