Cakrawala News – 02 November 2026 | Presiden El Salvador kerahkan 2 ribu tentara lawan geng kriminal Haiti dalam operasi pencarian empat personel teknisi penerbangan militer yang hilang setelah disergap kelompok bersenjata. Pengerahan itu diumumkan pada Kamis, 29 Oktober 2026, dan menjadi salah satu langkah militer paling menonjol yang diambil negara Amerika Tengah tersebut di luar wilayahnya.
Keempat tentara El Salvador dilaporkan hilang dalam serangan di Croix-des-Bouquets, kawasan di utara Port-au-Prince, pada 18 Oktober. Mereka tergabung dalam Pasukan Penumpas Geng (GSF) yang dijalankan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Hingga kini, belum ada kelompok kriminal yang mengaku bertanggung jawab atas penyergapan tersebut.
Bukan Invasi, Kata Bukele
Presiden Nayib Bukele menegaskan bahwa penerjunan sekitar 2 ribu tentara ke Haiti bukanlah sebuah invasi. Menurutnya, operasi militer itu murni bertujuan mencari tentara El Salvador yang hilang usai disergap geng kriminal.
“Pengiriman tentara dan peralatan tempur ke Haiti ini bukanlah sebuah invasi karena kami tidak punya kepentingan apapun. Kami bukanlah negara berkekuatan besar yang bertujuan mendominasi rakyat Haiti,” ujar Bukele, dikutip dari EFE.
Pernyataan itu tampaknya ditujukan untuk meredam kekhawatiran soal kedaulatan Haiti, mengingat pengerahan ribuan personel militer asing ke sebuah negara yang tengah dilanda krisis keamanan kerap memicu sensitivitas politik. Bukele menempatkan operasi ini sebagai misi penyelamatan, bukan intervensi.
Pemerintah Haiti sendiri masih belum menanggapi pengiriman ribuan tentara El Salvador tersebut. Meski demikian, Bukele mengaku telah berbicara melalui telepon dengan Perdana Menteri Haiti, Alix Didier Fils-Aime, mengenai operasi penyelamatan ini.
Ultimatum dan Tambahan Pasukan
Sebelum operasi besar ini, Bukele sudah memberikan ultimatum kepada bos geng kriminal Haiti pada pekan sebelumnya. Ia memperingatkan bahwa pasukannya telah berhasil meringkus geng kriminal yang selama ini meneror El Salvador dan bersiap melakukan aksi serupa di Haiti.
Menurut laporan The Latin Times, kontingen pasukan khusus tambahan dari El Salvador sudah mendarat di Haiti pada 22 Oktober. Hingga kini, diperkirakan sudah ada sebanyak 450 personel militer El Salvador yang ditempatkan di Haiti, angka yang jauh lebih kecil dibandingkan lebih dari 2 ribu tentara yang diumumkan dalam pengerahan terbaru.
Penambahan kekuatan itu menunjukkan eskalasi signifikan dalam keterlibatan El Salvador di Haiti. Jika sebelumnya kehadiran personel El Salvador terbatas pada kontingen pasukan khusus, kini jumlahnya berlipat menjadi salah satu kontribusi militer terbesar dari negara di luar kawasan Karibia.
Bantahan soal Empat Jasad
Di tengah operasi pencarian, Bukele membantah bahwa empat jasad yang ditemukan di Bandara Toussaint Louverture merupakan tentaranya. Hingga saat ini, identitas keempat jasad tersebut belum dikonfirmasi, begitu pula keberadaan empat personel El Salvador yang dilaporkan hilang.
Bantahan itu penting karena dapat memengaruhi arah operasi. Selama identitas jasad dan status personel yang hilang belum terkonfirmasi secara resmi, pemerintah El Salvador masih mempertahankan asumsi bahwa keempat warganya masih dalam proses pencarian.
Perkembangan ini juga menambah lapisan ketidakpastian di lapangan. Serangan di Croix-des-Bouquets terjadi pada 18 Oktober, tetapi hingga akhir Oktober belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab, sehingga motif dan pelaku penyergapan masih menjadi tanda tanya.
Konteks Keamanan Haiti
Langkah Presiden El Salvador kerahkan 2 ribu tentara lawan geng kriminal Haiti terjadi ketika situasi keamanan di negara Karibia itu masih menjadi perhatian internasional. Kehadiran GSF PBB, yang di dalamnya tergabung personel El Salvador, merupakan bagian dari upaya komunitas internasional menstabilkan wilayah yang selama ini dikuasai kelompok bersenjata.
Namun, insiden yang menimpa personel El Salvador menunjukkan bahwa risiko bagi pasukan asing di Haiti tetap tinggi. Penyergapan di Croix-des-Bouquets menjadi pengingat bahwa kendali atas sejumlah kawasan di sekitar Port-au-Prince belum sepenuhnya berada di tangan otoritas resmi.
Bagi El Salvador, kasus ini juga menguji strategi keamanan Bukele yang selama ini dikampanyekan sebagai model penumpasan geng. Keberhasilan di dalam negeri kini dihadapkan pada tantangan berbeda, yakni operasi di luar negeri dengan medan, aktor, dan dinamika politik yang jauh lebih rumit.
Yang Perlu Diperhatikan
Ke depan, publik akan menantikan konfirmasi resmi soal keberadaan empat personel El Salvador yang hilang, serta hasil identifikasi empat jasad di Bandara Toussaint Louverture. Tanggapan resmi pemerintah Haiti juga menjadi hal yang dinanti, mengingat operasi ini melibatkan ribuan tentara asing di wilayahnya.
Selain itu, perkembangan negosiasi antara Bukele dan Perdana Menteri Alix Didier Fils-Aime akan menentukan sejauh mana koordinasi kedua negara berjalan. Hingga informasi resmi tersedia, status operasi pencarian dan keberadaan personel El Salvador masih menjadi pertanyaan terbuka yang perlu terus dipantau.












