Radja Nainggolan Sesal Tak Bela Timnas Indonesia, Kini Kagum Fanatisme Suporter Garuda

Radja Nainggolan Sesal Tak Bela Timnas Indonesia, Kini Kagum Fanatisme Suporter Garuda
Radja Nainggolan Sesal Tak Bela Timnas Indonesia, Kini Kagum Fanatisme Suporter Garuda

Cakrawala News – 13 Oktober 2026 | Radja Nainggolan mengungkapkan penyesalannya karena tidak pernah membela Timnas Indonesia sepanjang karier internasionalnya. Dalam wawancara dengan media Belgia, Nieuwsblad, mantan gelandang AS Roma itu mengaku pandangannya terhadap sepak bola Tanah Air berubah setelah merasakan langsung atmosfer kompetisi dan besarnya dukungan suporter di Indonesia.

Pemain berusia 38 tahun tersebut sebenarnya memiliki darah Indonesia dari garis keturunan ayahnya yang berasal dari suku Batak Toba. Ia lahir di Antwerpen, Belgia, pada 4 Mei 1988. Namun, kedekatannya dengan negara asal sang ayah tidak tumbuh sejak kecil karena sang ayah meninggalkan keluarga ketika Radja masih berusia sekitar lima tahun.

Kondisi itu, menurut Radja, membuatnya tumbuh tanpa pemahaman yang kuat mengenai budaya dan kehidupan di Indonesia. Karena itu, ketika kesempatan membela tim nasional datang pada awal karier, ia tidak merasa ragu untuk memilih Belgia.

“Saya tidak bisa bimbang soal tim nasional karena saya tidak mengenal negara itu (Indonesia). Budaya Indonesia tidak saya ketahui,” ujar Radja Nainggolan, seperti dikutip dari Nieuwsblad.

Radja menjalani debut bersama tim nasional Belgia pada 2009. Sepanjang perjalanan karier internasionalnya, ia mencatatkan 30 penampilan bersama De Rode Duivels. Ia pun menjadi bagian dari generasi emas sepak bola Belgia yang diperhitungkan di pentas Eropa dan dunia.

Hubungan dengan Indonesia Mulai Terbangun

Titik balik hubungan Radja dengan Indonesia terjadi pada 2013. Ia mendapat undangan berkunjung dan menghabiskan waktu sekitar dua pekan di Tanah Air. Dalam perjalanan itu, ia mengunjungi sejumlah wilayah, termasuk beberapa pulau kecil, dan memberikan pelatihan sepak bola kepada anak-anak setempat.

Ia juga menjalani sejumlah wawancara selama berada di Indonesia. Pengalaman tersebut, menurut Radja, meninggalkan kesan mendalam dan perlahan mengubah cara pandangnya terhadap negara asal ayahnya.

Pandangan itu semakin matang setelah ia bermain untuk Bhayangkara FC di Indonesia. Kesempatan berkarier di Tanah Air membuat Radja memahami besarnya antusiasme suporter dan potensi industri sepak bola nasional.

Ia secara khusus menyoroti puluhan ribu penonton yang memenuhi stadion ketika Timnas Indonesia menghadapi Vietnam maupun Irak. Menurut Radja, fanatisme suporter Indonesia berada di level yang jarang ia temui di tempat lain.

“Ada tujuh puluh ribu orang di sana untuk pertandingan melawan Vietnam atau Irak; begitulah fanatiknya mereka,” kata Radja Nainggolan.

Peluang Komersial dan Bayangan Karier 15 Tahun

Bagi Radja, daya tarik sepak bola Indonesia tidak berhenti pada dukungan di stadion. Ia menilai popularitas pemain Timnas Indonesia memiliki nilai komersial yang besar, bahkan dapat menjadi aset jangka panjang setelah karier profesional berakhir.

“Uang juga bertebaran di sana. Para pemain bahkan disponsori oleh Louis Vuitton, Hublot, Rolex,” ujarnya.

Ia menambahkan, ketenaran dan eksposur di Indonesia bisa dimanfaatkan pemain untuk membangun citra dan masa depan mereka. Hal itu, menurut Radja, merupakan keuntungan yang tidak ia pertimbangkan ketika masih aktif memperkuat Belgia.

Radja mengakui, jika waktu bisa diulang, ia membayangkan dirinya bisa membela Timnas Indonesia selama sekitar 15 tahun. Ia menyadari keputusannya di masa lalu diambil ketika ia belum memahami besarnya potensi sepak bola Indonesia, baik dari sisi kompetitif maupun komersial.

Profil Singkat dan Karier Klub

Radja dikenal sebagai gelandang dengan gaya bermain agresif, kemampuan bertahan yang kuat, serta tendangan jarak jauh yang berbahaya. Julukan Il Ninja melekat pada dirinya karena karakter permainan yang intensitasnya tinggi, berani melakukan duel, dan mampu berkontribusi dalam situasi bertahan maupun menyerang.

Sebagian besar perjalanan karier profesionalnya dihabiskan di kompetisi Italia. Ia pernah memperkuat AS Roma dan Inter Milan sebelum melanjutkan karier ke sejumlah klub lain, termasuk Bhayangkara FC di Indonesia. Saat ini, ia tercatat memperkuat Patro Eisden Maasmechelen.

Kisah Radja menjadi gambaran bagaimana kedekatan seorang pemain dengan negara asal leluhurnya bisa berubah seiring pengalaman. Keputusan yang diambil puluhan tahun lalu kini ia lihat dari sudut pandang berbeda, ketika sepak bola Indonesia menunjukkan geliat yang semakin diperhitungkan.

Meski tidak pernah berseragam Garuda, pernyataan Radja menegaskan besarnya magnet sepak bola Indonesia di mata pemain keturunan. Hal yang masih perlu dicermati adalah bagaimana pengalaman semacam ini dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pembinaan dan daya saing sepak bola nasional ke depan.

Exit mobile version