Saham BUMI Teratas di Daftar 10 Saham Teraktif Pagi Ini, IHSG Dibuka Melemah

Cakrawala News – 23 Oktober 2026 | Saham bumi atau BUMI menempati posisi teratas dalam daftar 10 saham teraktif berdasarkan volume transaksi pada awal sesi I perdagangan Bursa Efek Indonesia, Kamis, 22 Oktober 2026. Posisi tersebut muncul saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah ke level 5247,98 pada pembukaan pagi ini.

Daftar saham teraktif tersebut disusun berdasarkan volume transaksi selama satu jam pertama setelah pembukaan IHSG. Selain saham bumi, sejumlah saham lain turut masuk dalam daftar tersebut, meski rincian volume transaksi masing-masing emiten tidak diuraikan secara lengkap dalam informasi yang tersedia.

Pemilihan saham teraktif dari sisi volume biasanya menjadi perhatian pelaku pasar karena mencerminkan tingginya minat transaksi pada awal perdagangan. Volume yang besar kerap dijadikan indikator awal untuk melihat saham mana yang paling banyak diperdagangkan pada sesi tersebut.

Tekanan Sentimen Masih Mewarnai Pasar

Pelemahan IHSG pada pembukaan pagi ini terjadi di tengah tekanan sentimen yang masih membayangi pasar saham Indonesia. Tim Riset Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) menjelaskan bahwa pasar saat ini berada dalam suasana risk-off.

Salah satu pemicunya adalah pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada 16 Oktober 2026 mengenai proposal perubahan klasifikasi pasar Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Proposal tersebut masih dalam tahap konsultasi hingga 30 April 2027, dengan keputusan akhir dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027.

Menurut tim riset KISI, proposal MSCI sempat membuat IHSG terkoreksi 11,57 persen. Tekanan dari investor asing juga berpotensi berlangsung secara bertahap hingga April 2027.

“Pasar cenderung selektif ke saham arus kas yang jelas dan utang rendah,” kata tim riset KISI, seperti dikutip pada Rabu, 21 Oktober 2026.

KISI juga mengingatkan investor agar membedakan pengaruh sentimen jangka pendek dari fundamental perusahaan. Sentimen menggerakkan harga karena aliran dana atau fund flow, tetapi tidak mengubah arus kas perusahaan. Fundamental sendiri tercermin dari kontrak, produksi, laba, dan utang.

Panas Bumi Dinilai Tetap Prospektif

Di tengah tekanan pasar, salah satu industri yang prospeknya dinilai tetap cerah dalam jangka panjang adalah energi baru terbarukan (EBT), termasuk panas bumi. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) disebut sebagai salah satu emiten di sektor tersebut.

Tim Riset KISI menilai positif prospek industri panas bumi nasional. Potensi kapasitas panas bumi Indonesia mencapai sekitar 24 gigawatt (GW), tetapi baru sekitar 11 persen yang dikembangkan. Panas bumi juga dapat menyediakan beban dasar atau baseload listrik selama 24 jam.

Selain itu, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) menargetkan sekitar 5,2 GW tambahan kapasitas panas bumi hingga 2034. Namun, tim riset KISI menyebut kendala utama pengembangan panas bumi bukan pada aspek geologi, melainkan pada tarif.

Beberapa faktor yang perlu dicermati investor terkait pergerakan saham PGEO antara lain revisi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 112 Tahun 2022 mengenai tarif listrik energi terbarukan yang hingga kini belum terbit. Faktor lainnya meliputi eksekusi proyek, termasuk pengembangan Hululais dan proyek co-generation berkapasitas 45 megawatt (MW).

Investor juga disebut perlu mencermati porsi saham publik (free float) sebesar 3,9 persen yang wajib dinaikkan secara bertahap, serta pergerakan suku bunga dan nilai tukar rupiah.

Selektivitas Jadi Kunci

Di sisi lain, data perdagangan sebelumnya menunjukkan bahwa saham-saham tertentu masih mencatatkan penguatan. Pada perdagangan Selasa, 20 Oktober 2026, IHSG ditutup di posisi 5.278, menguat 5,65 persen atau naik 282,28 poin, dengan nilai transaksi di pasar reguler mencapai Rp25,26 triliun.

Saat itu, saham PT Atlantis Subsea Indonesia Tbk (ATLA) menempati urutan teratas top gainer dengan kenaikan harga sebesar 33,33 persen di Rp24 per unit. Disusul PT Bumi Benowo Sukses Sejahtera Tbk (BBSS) yang ditutup naik 25,45 persen di Rp69 per saham, serta PT Pudjiadji & Sons Tbk (PNSE) yang naik 25 persen di Rp600 per saham.

Urutan keempat ditempati PT Hotel Sahid Jaya International Tbk (SHID) dengan kenaikan 25 persen di Rp750 per unit, disusul PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS) di posisi kelima yang ditutup di Rp650 per saham atau naik 25 persen.

Meski demikian, data top gainer tersebut berasal dari sesi perdagangan dua hari sebelumnya dan tidak secara langsung menggambarkan pergerakan pada pembukaan pagi ini. Perbedaan arah antara penguatan pada 20 Oktober dan pelemahan IHSG pada 22 Oktober menunjukkan bahwa sentimen pasar masih berfluktuasi.

Daftar saham teraktif pagi ini dapat menjadi panduan awal bagi investor untuk mengamati saham-saham potensial. Namun, keputusan investasi tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko masing-masing.

Ke depan, pelaku pasar akan mencermati perkembangan konsultasi proposal MSCI hingga April 2027, revisi Perpres 112 Tahun 2022, serta pergerakan arus dana asing. Bagi investor, membedakan sentimen jangka pendek dari fundamental perusahaan menjadi kunci di tengah suasana pasar yang masih risk-off seperti saat ini.

Artikel ini tidak bertujuan mengajak pembaca menjual, menahan, atau membeli produk investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada pembaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *