Cakrawala News – 29 September 2026 | Saham GOTO anjlok ke Rp 43, begini kata manajemen GoTo Gojek Tokopedia yang menegaskan bahwa penurunan harga saham perseroan tidak mencerminkan fundamental bisnis yang terus menguat. Pada perdagangan Senin, 28 September 2026, saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) merosot tajam hingga menyentuh Auto Rejection Bawah (ARB) di level Rp 43 per lembar, tepat pada hari pertama penerapan aturan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menghapus batas bawah harga saham Rp 50.
Koreksi tersebut membuat GOTO menjadi saham dengan kinerja terburuk pada sesi I. Berdasarkan data Phintraco Sekuritas, saham GOTO turun Rp 7 atau sekitar 21,35 persen ke level Rp 43. Sementara data Stockbit menunjukkan penurunan 14 persen atau 7 poin ke level yang sama. Perbedaan angka tersebut muncul karena perhitungan fraksi harga yang berlaku, dan penurunan itu membuat GOTO langsung terkena ARB.
Tekanan jual tidak hanya tercermin dari harga. Antrean jual saham GOTO dilaporkan menembus 1 miliar lot hingga sesi I. Volume perdagangan pagi itu tercatat sekitar 59,45 juta saham dengan nilai transaksi sekitar Rp 2,56 miliar dan frekuensi 2.562 kali. Sebelumnya, saham GOTO tertahan di level Rp 50 atau gocap sejak 5 Mei 2026.
Manajemen Buka Suara
Head of Corporate Affairs GoTo, Audrey Petriny, menyatakan bahwa fluktuasi harga saham perseroan lebih dipengaruhi aspek teknis akibat penyesuaian regulasi bursa. Menurutnya, harga saham GoTo saat ini tidak mencerminkan fundamental bisnis yang terus menguat.
“Harga saham GoTo saat ini tidak mencerminkan fundamental bisnis yang terus menguat. Dinamika harga saham lebih disebabkan oleh aspek teknis menyusul aturan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait batas bawah harga saham yang tidak lagi di Rp 50,” ujar Audrey dalam keterangan resminya, Senin (28/9/2026).
Audrey menambahkan, kinerja operasional perseroan tetap mencatatkan pertumbuhan positif. GoTo membukukan laba bersih sebesar Rp 252 miliar pada kuartal II 2026, yang menandai laba dua kuartal berturut-turut. Pada periode yang sama, pendapatan bersih perseroan mencapai Rp 5,7 triliun dengan adjusted EBITDA lebih dari Rp 1 triliun.
Manajemen juga menyatakan tetap berada di jalur yang tepat untuk mencapai pedoman adjusted EBITDA tahunan di kisaran Rp 3,2 triliun hingga Rp 3,4 triliun pada akhir 2026. “Kami tetap fokus memperkuat kinerja bisnis, yang kami yakini akan menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi para pemegang saham,” kata Audrey.
Pandangan Analis
Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nafan Aji, menilai ARB saham GOTO lebih tepat dilihat sebagai risiko volatilitas jangka pendek akibat proses price discovery setelah batas minimum Rp 50 dihapus, bukan semata-mata indikasi fundamental perusahaan memburuk.
Menurut Nafan, dari sisi fundamental, perbaikan kinerja GOTO tetap menjadi faktor yang dapat menjadi katalis stabilisasi apabila tekanan jual mulai mereda. Ia menegaskan kondisi ARB tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa GOTO akan terus mengalami kerugian.
“Tekanan tersebut lebih bersifat teknikal akibat terbukanya ruang penurunan harga, sehingga investor sebaiknya mencermati keseimbangan supply-demand dan pembentukan support baru,” ujar Nafan.
Nafan menambahkan, investor perlu mencermati sejumlah indikator teknikal dalam melihat pergerakan saham GOTO selanjutnya, seperti perkembangan bid-offer, volume transaksi, serta kemampuan harga membentuk level support baru.
Dampak ke IHSG dan Pasar
Penurunan saham GOTO turut menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). GOTO menjadi saham dengan kontribusi penurunan terbesar terhadap IHSG dari daftar laggards, yakni sebesar -12,909 poin. IHSG ditutup sementara di level 6.181,43, melemah 60,46 poin atau 0,97 persen, setelah sempat dibuka di level 6.209,75 dan bergerak pada rentang 6.174,31 hingga 6.227,90.
Tekanan di pasar saham juga terlihat dari jumlah saham yang bergerak turun. Sebanyak 496 saham melemah, sedangkan 193 saham menguat dan 229 saham lainnya tidak mengalami perubahan. Selain GOTO, sejumlah saham lain di daftar laggards antara lain MORA yang turun 7,33 persen ke Rp 4.550, BBCA melemah 7,33 persen ke Rp 6.200, FORU turun 5,14 persen ke Rp 306, TLKM melemah 4,60 persen ke Rp 2.380, MDKA turun 4,02 persen ke Rp 2.980, dan BRMS melemah 3,71 persen ke Rp 645.
Meski demikian, perlu dicatat bahwa sepanjang tahun 2026 saham GOTO telah melemah 32,81 persen, sementara dalam tiga bulan terakhir turun 14 persen. Kondisi ini menunjukkan tekanan jual terhadap saham GOTO bukan hal baru, meski aturan baru BEI memperbesar ruang penurunan harga.
Langkah Korporasi yang Perlu Dicermati
Di sisi korporasi, GoTo sebelumnya menyampaikan rencana pembatalan lebih dari 32 miliar saham treasury atau sekitar 2,7 persen dari total saham beredar. Rencana tersebut akan dilakukan dengan mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan dan membutuhkan persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 14 Oktober 2026.
Langkah itu disebut sebagai salah satu upaya meningkatkan nilai bagi pemegang saham. Namun, pasar masih menanti bagaimana sentimen terhadap saham GOTO berkembang setelah kebijakan batas bawah harga saham Rp 1 berlaku penuh.
Ke depan, pergerakan saham GOTO akan sangat bergantung pada keseimbangan permintaan dan penawaran, volume transaksi, serta kemampuan harga membentuk level support baru. Di sisi lain, perbaikan kinerja keuangan seperti laba bersih Rp 252 miliar dan adjusted EBITDA di atas Rp 1 triliun pada kuartal II 2026 menjadi modal penting bagi perseroan untuk meyakinkan investor bahwa tekanan saat ini bersifat teknis, bukan struktural.
Bagi investor, perbedaan antara koreksi teknikal dan perubahan fundamental menjadi kunci dalam menyikapi volatilitas saham GOTO pasca-penerapan aturan baru BEI. Saham GOTO anjlok ke Rp 43, begini kata manajemen GoTo Gojek Tokopedia yang tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang perseroan.












